
Osman mengeluarkan kotak obat yang selalu tersedia di bagasi mobil belakang, lalu menyerahkan kepada Evan agar dapat merawat luka yang terdapat di beberapa bagian tubuh Sky. Sambil menunggu kedatangan Botak yang membawa Star.
Evan membasuh wajah, tangan dan kaki putranya dengan tissue basah. Kemudian merawat luka lecet di kening dengan mengoleskan cairan antiseptik.
"Mommy ... Daddy ..." Bibir Sky bergumam beberapa kali memanggil mommy dan daddy-nya, walaupun kelopak matanya masih menutup. Evan terhenyak ketika mendengar panggilan lemah itu.
"Sky ... Daddy ada di sini, Nak! Bangunlah," bisik Evan seraya mengusap wajah putranya dengan kelembutan. Sesekali ia tampak menciumi wajah lemah itu berulang-ulang.
"Bangun, Nak. Kau sudah aman sekarang. Kita akan segera pulang dan bertemu mommy."
Sky dapat merasakan kecupan lembut dan juga suara yang sangat ia kenali. Aroma tubuh yang selalu membuatnya terbuai, dan sentuhan penuh kasih sayang yang hangat. Perlahan, kelopak matanya pun terbuka.
"Daddy?" panggilnya saat menyadari kehadiran daddynya di sana, lalu secara refleks mengulurkan tangan seolah meminta dipeluk dan Evan mengerti bahasa tubuh putranya.
"Kau sudah sadar, Nak? Syukurlah." Ia membawa Sky ke dalam pangkuannya, memeluk dan menciuminya.
Sky tampak bingung, pandangannya berkeliling dengan sorot mata lemah. Kita di mana? Begitu tatapan Sky berbicara. Ia pun teringat kejadian tadi, saat dirinya melarikan diri dari rumah tua yang digunakan seorang wanita jahat untuk mengurungnya bersama adiknya.
"Daddy ... Ayo cepat jemput Star. Dia sakit, Daddy. Tante jahat itu terus marah-marah kalau Star menangis," lirih Sky menarik-narik pakaian daddynya dengan air mata berlinang.
__ADS_1
Mata Evan terpejam menyiratkan rasa marah. Bagai dihimpit bongkahan batu besar, sesak kembali membelenggu dadanya. Terlebih, saat menatap putranya. Bibir kering dan wajah pucat yang mana semakin membakar kemarahan ayah dua anak itu.
Jika saja Cleo ada di sana saat ini, entah akan seperti apa jadinya. Yang pasti, Evan tak akan memberinya kata ampun.
"Tenanglah, Nak. Adikmu sudah ditemukan. Mereka sedang membawanya kemari. Tidak lama lagi mereka pasti akan sampai," ucapnya seraya menyandarkan Sky di dadanya.
"Benarkah, Daddy?"
"Iya, Sky. Tenanglah, Nak."
Evan meraih kotak makanan yang tadi disiapkan sebelum berangkat. Melihat bibir Sky yang kering, ia menyakini putranya belum makan apapun. Selain itu terdengar bunyi keroncongan dari perutnya.
Sky hanya menatap potongan kebab kesukaannya, tetapi tidak berniat meraihnya.
"Aku mau menunggu Star, Daddy. Aku akan makan bersamanya."
.
.
__ADS_1
.
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari ketika Hanna membuka mata. Rasa sakit itu kembali merasuk yang hanya dapat terlukis melalui air mata yang sialnya mengalir tanpa dapat dibendung.
Anak-anakku ... di mana mereka?
Ia menggeliat pelan dan memiringkan tubuhnya dengan posisi membelakang. Menatap nanar pintu kamar mandi ketika mendengar suara gemercik air dari sana.
Tak lama berselang, pintu kamar mandi terbuka. Dalam pencahayaan temaram Hanna meyakini sosok itu adalah suaminya dengan melihat postur tubuhnya yang tinggi dengan setelan piyama.
"Kau sudah bangun?" tanya Evan ketika mendengar suara isak tangis dari sana. Ia mendekat dan duduk di tepi ranjang. Meskipun pencahayaan minim, tetapi Evan dapat melihat air mata Hanna yang terus mengalir.
Ia mengusapnya dengan jari. "Kenapa menangis lagi, Sayang?"
"Bagaimana anak-anak? Apa kau belum menemukannya? Bukankah tadi kau berjanji akan membawa mereka pulang?"
Mau tak mau Evan terkekeh, rupanya Hanna belum menyadari keberadaan Sky dan Star yang tidur di sisinya.
****
__ADS_1