
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Halo semua, apa kabar?
Ini dia komentar terpilih di banner wawancara Kolom Langit yang akan mendapatkan pulsa masing2 sebesar 50rb. (Boleh diganti dengan Dana atau Shopeepay)
Maaf ya, pengumumannya ngaret. Aku lupa kalau sudah tanggal 12😭
Untuk pemilik akun-akun di atas, boleh menyertakan nomor telepon di kolom komentar. Atau masuk ke grup chat kolom langit.
Bisa juga klik "ikuti" di akun penulis, biar kita bisa saling berkomunikasi via chat pribadi.
Untuk yang namanya belum terpilih, jangan berkecil hati. Karena kita akan kembali bagi-bagi pulsa begitu "Me And The Rich Man" dan "Hidden Wife" END.
Masih sama bentuk give away nya, akan aku pilih dari komentar komentar menarik.
Terima kasih untuk setiap bentuk dukungan.
Salam sayang selalu.
.
.
.
.
.
“Ha-hai ... Sayang—” Suara Evan terdengar nyaris tak bertenaga. Mata sayunya terpejam dengan kerutan dalam, diiringi lenguhan yang lemah dari bibirnya. “Aah ... sakit sekali,” lirihnya menahan sakit.
Tangannya bahkan tak kuasa bergerak untuk menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut. Hanya jemarinya yang terlihat bergerak lemah.
Sedangkan Hanna mematung dengan air mata yang mengalir tiada henti. Terkejut, sedih, bahagia dan haru. Hanna tak tahu lagi mendefinisikan perasaannya.
“Sayang ... kau sudah bangun?” Tangan Hanna gemetar, begitu juga dengan suaranya.
Ingin menyentuh tubuh suaminya, namun takut ia akan kesakitan. Jika tidak memikirkan itu, Hanna pasti sudah memeluk Evan seerat-eratnya untuk melampiaskan rasa bahagia.
“Kau butuh sesuatu?" tanyanya dengan panik. "Tu-tunggu sebentar, aku akan panggil perawat.”
__ADS_1
Evan hanya merespon dengan mengerjapkan matanya.
Membuat Hanna mengusap air mata yang mengalir di pipinya, lalu secepat kilat berlari keluar untuk memanggil perawat yang berjaga.
Padahal untuk memanggil perawat tak perlu sampai keluar, cukup menekan bel pemanggil yang berada di sisi pembaringan.
.
.
.
Hanna berdiri di sudut ruangan dengan menautkan jari-jarinya di depan dada. Ia belum berani mendekat dan hanya menatap suaminya yang sedang diperiksa oleh beberapa dokter.
Fahri, Zian dan Elma juga berada di ruangan yang sama. Mereka langsung menuju rumah sakit ketika mendengar kabar Evan telah siuman.
Sesekali terdengar suara Evan melenguh dan itu membuat Hanna tak sanggup. Ia pun merasakan kesakitan yang sama setiap kali mendengar suaminya meringis.
"Kak Fahri, dia kesakitan," ucap Hanna dengan sorot mata memelas.
Fahri mengusap bahu Hanna untuk menguatkannya. "Tenanglah."
Sementara Evan melirik Hanna yang berdiri tak begitu jauh darinya. Ia meneliti tubuh istrinya itu.
Wajah pucat, rambut panjang tergerai acak-acakan dan setelan piyama yang cukup kusut di beberapa bagian. Mata sembab dan memerah membuat Evan meyakini istrinya itu habis menangis dalam waktu yang lama.
Ia mulai menebak dalam benaknya tertidur berapa lama hingga membuat Hanna begitu khawatir.
“Ja-ngan jauh-jauh. Aku membutuhkanmu di sini,” lirih Evan menatap Hanna dengan penuh cinta.
“Aku tidak akan kemana-mana.” Hanna membungkukkan tubuhnya dan mencium kening suaminya. Sangat lembut, karena takut Evan akan kesakitan.
“Aah ...”
Lenguhan kembali terdengar, membuat Hanna melirik dokter-dokter itu.
“Dokter, tolong lakukan sesuatu untuk mengurangi sakitnya.”
“Hanna, tenanglah," ucap Elma. "Evan sudah melewati masa kritisnya. Semuanya akan membaik.” Elma berusaha menenangkan ketika melihat Hanna begitu gelisah dan khawatir.
“Tapi suamiku kesakitan, Kak. Apa tidak ada obat untuk mengurangi sakitnya?”
“Serahkan kepada tim dokter saja. Mereka akan melakukan yang terbaik.” Elma menggeser sebuah kursi ke sisi pembaringan. “Sekarang duduklah yang tenang di sini dan temani Evan.”
Hanna pun menjatuhkan tubuhnya di kursi. Sepanjang Evan mendapat penanganan, tak sedikit pun ia beranjak dari sisinya.
.
.
.
__ADS_1
Setelah diperiksa oleh dokter, Evan tertidur selama beberapa jam. Hanna masih setia menunggu di sisinya.
“Hanna ... Kau pasti sangat lelah, tidurlah dulu di sana, kau bisa sakit.” Elma menunjuk sebuah pembaringan kecil yang berada di sudut ruangan itu.
“Aku tidak lelah, Kak.”
“Tapi wajahmu sangat pucat. Ayolah, kau juga butuh istirahat.”
Hanna kembali menggelengkan kepalanya. Menolak untuk beristirahat, ia ingin selalu menjadi yang pertama dilihat Evan saat membuka mata.
"Aku akan istirahat nanti. Aku masih mau menemaninya."
“Baiklah. Kalau begitu aku akan keluar sebentar untuk membelikanmu sesuatu. Kau belum makan sejak semalam dan Evan pasti akan marah kalau tahu.”
Hanna mengangguk pelan. “Terima kasih, Kak.”
Setelahnya, Elma pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Hanna dan Evan berdua.
Hanna menatap wajah pucat suaminya, hingga tak terasa air matanya kembali mengalir, isak tangis pun mulai terdengar. Sehingga Evan membuka matanya.
“Apa ini, kenapa kau menangis?”
Dengan gerakan yang masih cukup lemah, Evan mengusap air mata yang mengalir di pipi Hanna.
"Kau terbangun? Bagaimana perasaanmu? Kau lebih baik? Mana yang sakit? Aku panggil dokter ya?"
Melihat kepanikan Hanna, Evan hanya menggeleng. Setelah mendapat penanganan tadi, ia jauh merasa lebih baik. Bahkan sakit di tubuhnya sudah berkurang.
"Aku merasa jauh lebih baik."
Hanna menatap wajah suaminya dalam. Tiba-tiba rasa bersalah kembali merasuk.
“Maafkan aku,” ucap Hanna dengan suara yang tersendat-sendat. Ia meraih tangan sang suami dan menciumnya.
"Kenapa minta maaf?" Suara Evan terdengar masih lemah. Meskipun jauh lebih baik dibanding tadi pagi.
“Ini semua salahku. Kau sampai kecelakaan pasti karena terburu-buru pulang untuk menemuiku, kan?”
Dengan senyum seadanya, menggeleng.
"Tidak. Aku yang harus minta maaf. Aku tidak tahu kalau buku itu ada di rumah. Aku pikir sudah membuang semuanya beberapa tahun lalu. Aku mencintaimu, Hanna Cabrera. Hanya dirimu."
“Dan juga, aku mohon lebih berhati-hatilah. Kandunganmu masih sangat rawan. Jangan berlari seperti tadi. Bagaimana kalau jatuh?”
Hanna tak menyahut. Luapan rasa bahagia itu hanya dapat ia tumpahkan dengan memeluk suaminya.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu!" Hanna terus mengucapkan kalimat itu, seraya mencium kening, pipi dan bibir suaminya.
Ia bahkan tak menyadari kehadiran seseorang di ambang pintu.
"Ehm ... Maaf, aku mengganggu ya?" ucap Naya dengan senyum lebar.
__ADS_1
****