
“Hanna, apa kalian tidak ada rencana untuk berbulan madu?” tanya Naya di sela-sela makan malamnya. “Pasti akan sangat menyenangkan kalau kalian pergi berbulan madu berdua.”
“Aku belum membicarakannya dengan Evan, Kak. Lagi pula aku tidak mau meninggalkan anak-anak lagi setelah kejadian kemarin.”
“Padahal aku ada saran tempat paling indah untuk berbulan madu yang bisa kau kunjungi. Barcelona, Paris, Swiss dan ada beberapa. Aku akan memberitahu Evan nanti, agar dia membawamu berkunjung ke sana untuk berbulan madu.”
Hanna tersenyum menatap saudara iparnya itu. Ia sangat mengagumi sosok Naya. Seorang wanita yang sangat cantik dan baik hati. Terkadang Hanna merasa tidak percaya diri saat berada di antara saudara-saudaranya yang berasal dari kalangan kelas atas. Sementara dirinya hanyalah seorang wanita dari golongan orang biasa.
Setidaknya, ia merasa sangat beruntung, karena keluarga Azkara menerimanya dengan tangan terbuka tanpa memandang status sosial.
Pantas saja Kak Zian sangat mencintai Kak Naya sampai rela memberikan separuh hatinya. Dia adalah wanita yang sangat cantik, lembut dan baik hati.
Hanna melirik menu yang disantap kakak iparnya itu. Di antara seluruh wanita di keluarga Azkara, mungkin Naya adalah sosok yang paling dijaga, bahkan menu makannya diawasi dengan ketat. Ia tak boleh makan sembarangan setelah menjalani operasi pencangkokan hati beberapa tahun lalu.
Naya melirik Fahri, Zian dan Evan yang duduk di meja sebelah, kemudian meraih sepotong daging panggang yang berada di atas pemanggangan. Hendak menyuapkan ke mulutnya.
“Nay, kau tidak boleh makan itu!” sambar Evan yang kemudian mengadukan pada Fahri. "Lihat itu, Kak!" Fahri menoleh dan melotot menatapnya.
“Nay ...”pekik Zian dan Fahri bersamaan.
“Iya, aku kan cuma mau coba sedikit.” Ia meletakkan lagi potongan daging ke piring, kemudian menghela napas panjang. “Apa kau tidak merasa mereka semua sangat berlebihan dalam menjagaku.”
“Tidak, Kak. Itu bukti kalau mereka sangat menyayangimu.”
__ADS_1
Bukankah Kak Naya sangat beruntung? Bahkan Evan juga sangat memperhatikannya. batin Hanna.
"Kenapa kau diam saja? Ayo makan! Ini sangat enak." Naya meletakkan potongan daging ke atas piring dan menggeser ke hadapan Hanna.
"Terima kasih, Kak."
_
_
_
_
“Apa rencanamu malam ini?” tanya Evan.
Hanna terperanjat hingga hampir menjatuhkan piring buah di tangannya. Setelah insiden memalukan tadi, ia belum berani menatap wajah suaminya.
“Maksudnya rencana apa?” balas Hanna dengan gugup. Tangannya bergerak meraih saus salad dan menuang ke piring. Bahkan Evan dapat melihat tangannya yang gemetar.
__ADS_1
“Aku rasa anak-anak harus tidur di kamar yang terpisah mulai malam ini. Apa mereka tidak punya kamar sendiri di rumah sebesar ini?”
“Tentu saja ada. Kak Elma sudah menyediakan kamar sebelum mereka datang ke rumah ini.”
Ya, Sebelum menjemput Hanna dan anak-anaknya di Amasya, keluarga Azkara telah menyiapkan dua kamar anak khusus untuk Sky dan Star.
“Lalu kenapa mereka tidak tidur di kamarnya sendiri?”
“Memangnya kenapa?”
Pertanyaan itu membuat Evan mendengus. Hanna membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju sebuah kursi. Evan mengekor di belakangnya. Menarik kursi dan duduk di sebelah Hanna.
“Mereka tidak mungkin tidur di kamar kita terus kan?”
“Ba-baiklah, aku akan menidurkan mereka di kamarnya sendiri malam ini.” Hanna semakin gugup ketika Evan terus menatapnya.
“Salah sendiri kenapa memperlihatkannya tadi. Jadi bersiaplah, karena aku akan menghukummu di kamar,” ucap Evan dengan kedipan nakal di matanya.
Hanna seketika menunduk dengan wajah memerah. Sementara di belakang mereka Sky dan Star saling menatap satu sama lain setelah mendengar pembicaraan mommy dan daddynya.
“Kakak, apa daddy sedang marah pada mommy?” tanya Star polos.
“Tidak tahu.”
__ADS_1
“Daddy bilang mau menghukum mommy.” Mendadak wajah Star berubah sedih. Demi apapun, ia tak akan rela jika mommy-nya bersedih, sekalipun daddy-nya yang melakukannya.
***