Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 49


__ADS_3

Malam semakin larut, udara dingin terasa menusuk ke tulang. Evan tengah berada di sebuah ruangan, duduk dengan bersandar pada bantal di atas karpet bulu yang empuk di dekat tempat perapian . Ia baru saja menyalakan api untuk menghangatkan ruangan itu. 


Sesosok bayangan hitam jatuh di dinding. Evan mengalihkan pandangannya, lalu mengukir senyum tipis di bibirnya dan menatap lembut sosok yang berjalan ke arahnya. 


“Kau terbangun?” Evan menyambut Hanna dengan mengulurkan tangannya. 


“Sejak tadi.” 


Perasaan bahagia perlahan menjalar ketika Hanna secara spontan menyambut uluran tangan itu,  ikut duduk di atas karpet bulu dan menyelonjorkan kaki sejajar dengan kaki Evan. Satu tangannya bertumpu di paha Evan demi menopang tubuhnya. 


“Seorang wanita memberitahu bahwa kau ada di perapian.” 


Hanna menyandarkan kepala dengan manja di ceruk leher laki-laki itu—yang mana mendorong Evan untuk melingkarkan tangan di pinggang wanitanya itu, membenamkan kecupan yang dalam di kening. 


“Kenapa kau tidak menggunakan baju hangat saat keluar kamar?Udara malam sangat dingin.” Mengusap-usap lengan Hanna untuk mengurangi rasa dingin. 


“Aku sudah terbiasa. Kedinginan bukan lagi masalah berarti untukku.” 


Evan membenarkan selimut yang menutupi kakinya dan membagi dengan Hanna, lalu memeluk lagi. Sedangkan Hanna meresapi hangatnya pelukan itu, menatap kobaran api di dalam tungku perapian. 


“Kita di mana sekarang?” 


“Di villa. Aku menyewanya karena kau tidak akan mau kembali ke rumah.” 


“Anak-anak di mana?” 


 “Mereka sudah tidur di rumah. Besok Osman akan membawa mereka  ke mari.” Evan mengeratkan pelukan, menyandarkan dagunya di puncak kepala Hanna, hingga Hanna dapat merasakan hangatnya hembusan napas yang menerpa keningnya. “Kau mau minum teh?” 


“Tidak. Wanita yang ada di atas sudah membuatkan makanan dan teh hangat.” 

__ADS_1


Hanna menggenggam tangan Evan hingga jari-jari mereka saling bertaut. Masih ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. 


“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya wanita berambut cokelat itu. 


“Apa?” 


“Apa kau meragukan Sky dan Star sebagai anakmu sampai kau melakukan tes DNA?” 


Alis Evan saling bertaut membentuk busur panah. Meskipun terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi tak lantas membuatnya khawatir jika Hanna akan salah paham. Tangannya bergerak ke atas membelai sisi antara leher dan pipi. Ibu jarinya bergerak dengan lembut di sana. 


“Tidak, Sayang. Aku melakukan tes DNA itu sebelum kau membuat pengakuan. Tadinya itu hanya untuk menggertakmu, kalau kau tidak mau mengakui mereka sebagai anakku.” 


“Apa aku bisa menyangkal saat wajah Sky sendiri yang berbicara dia anak siapa?” 


Tawa kecil keluar dari mulut Evan. Seolah tak akan bosan, ia terus menghujani wajah itu dengan kecupan lembut. “Bagaimana dia bisa semirip aku? Bahkan aku menduganya saat pertama kali bertemu dengannya di kafe.” 


“Mungkin supaya kau tidak bisa menyangkal kalau dia anakmu.” 


“Apa kau sedang merayuku?” 


“Bukan merayu. Aku tidak tahu cara merayu dengan kata-kata manis. Aku sedang memberitahumu isi hatiku. Bukankah itu sangat alami?” 


Evan membenarkan bantal dan meletakkan berjejer, lalu membaringkan tubuhnya di sana. “Kemari!” Merentangkan tangan agar Hanna dapat berbaring dengan menjadikan lengannya sebagai bantal. “Jangan takut, aku tidak akan macam-macam.” 


“Macam-macam juga tidak apa-apa, karena aku akan menendangmu keluar jendela.” 


Rasanya Evan tidak tahan mendengar nada bicara Hanna yang galak tapi menggemaskan. Ia menarik lengan wanita itu dengan lembut hingga jatuh ke pelukannya. Berbaring dan saling berbagi kehangatan dalam balutan selimut.


Sebelah tangan Evan sudah mengelus wajah lembut Hanna dan sesaat kemudian kecupan sayang ia jatuhkan di kening.

__ADS_1


"Evan ..." Hanna mendorong dada itu dengan satu tangan.


"Ssttt...!" Evan mendesis dengan meletakkan jari telunjuk di depan hidung. "Jangan katakan apapun! Dengarkan saja aku."


Hanna menatapnya dalam. Bibirnya terasa terkunci.


"Maafkan aku, Hanna. Akulah yang bersalah sehingga mereka sampai melakukan semua ini padamu. Seandainya sejak awal aku mempercayaimu dan tidak menuduhmu yang tidak-tidak, kau tidak akan mengalami semua ini. Maukah kau memberiku hukuman dengan berada di sisimu selamanya? Setelah semua kekacauan ini beres, mari kita menikah dan membesarkan anak-anak bersama."


Hanna membeku. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain menitikkan air mata. Pertahanannya sebagai wanita yang selama ini berpura-pura tegar, runtuh malam itu. Untuk pertama kalinya, Hanna bersikap layaknya wanita manja pada umumnya.


Evan mengeratkan pelukan saat mendengar isak tangis.


"Jangan menangis lagi. Karena kita akan memulai segalanya dari awal lagi."


Evan menangkup wajah polos itu dengan kedua telapak tangannya, menghapus air mata yang membasahi wajah Hanna dengan ibu jarinya, menatap dalam mata wanita itu hingga seolah tenggelam di sana.


"Tapi kau layak mendapatkan seorang istri yang sebanding. Aku ini siapa? Aku hanya anak yatim piatu yang miskin. Aku tidak punya sesuatu di dalam diriku yang bisa aku banggakan. Aku hanya akan menjadi beban untukmu."


"Justru aku yang merasa tidak layak untukmu."


Hanna terdiam, merasakan jemari Evan menelusuri wajahnya. Cinta yang kuat mendorong Evan untuk menyatukan kedua bibir itu. Dalam, namun sangat lembut.


Mata Hanna terpejam meresapi lembut dan hangatnya bibir laki-laki yang kini merubah posisi telah berada di atasnya. Ingin melepas, namun Evan menguncinya dengan sensasi hangat yang meledak. Ia memberi gigitan lembut di sana, membuat Hanna mencengkram selimut erat.


Ciu*man tak terduga yang menjadi ciu*man manis, karena keduanya begitu termabukkan. Lum*tan-lum*tan lembut namun menuntut. Tangan Evan bergerak turun, membuka kancing kemeja Hanna, namun baru satu kancing terbuka ia telah tersadar dari kegilaannya.


 


“Sudah cukup... kalau diteruskan aku bisa lepas kendali,” bisik Evan menciptakan rona merah di wajah Hanna.

__ADS_1


***


Pengantar tidur, biar nyenyak 🤣


__ADS_2