
Duduk dalam sebuah ruangan di lantai tiga, Evan memandangi kafe dan restoran miliknya dari balik sebuah dinding kaca transparant. Sudah satu minggu ini kafe dan restoran sangat sepi pengunjung, bahkan orang yang datang setiap harinya dapat dihitung dengan jari.
“Apa tidak sebaiknya kita tutup dulu kafe dan restorannya, Tuan?” tanya Osman yang kini duduk di hadapan Evan sambil membaca laporan keuangan. “Setidaknya sampai penyelidikan selesai.”
“Tidak usah,” balas Evan santai.
“Tapi bukankah akan menghemat biaya kalau restorannya tutup untuk sementara?”
Evan tertawa kecil mendengar ucapan Osman. “Apa kau takut kita akan bangkrut?”
Osman menggeleng dengan cepat sambil tertawa kecil. Tentu saja bangkrut di satu restoran tidak akan berpengaruh sedikit pun bagi Evan. Karena kafe dan restoran miliknya tersebar di beberapa negara dan semuanya memiliki penghasilan yang sangat tinggi.
“Biarkan tetap terbuka. Kau bagi-bagikan saja makanan setiap hari kepada warga seperti kemarin.”
“Baik, Tuan.”
Tok Tok Tok!
Terdengar bunyi ketukan pintu yang menghentikan pembicaraan Osman dan Evan. Seorang pelayan masuk dengan tersenyum ramah.
“Ada apa, Eliya?” tanya Osman begitu melihat Eliya masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
“Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu.”
“Siapa?” tanya Evan dengan kerutan tipis di kening.
“Nona Aysel. Katanya ada yang perlu dibicarakan dengan Anda.”
Evan dan Osman saling melirik satu sama lain. Sejak kedatangan Evan di Amasya, Aysel kerap kali datang menemuinya dengan berbagai alasan berbeda.
“Baiklah, persilahkan dia masuk.”
“Baik.” Eliya keluar dari ruangan dan tak lama tampak Aysel muncul dari balik pintu.
Osman menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala. Wanita itu tampak berbeda dibanding hari-hari kemarin dengan penampilan yang sangat elegan dan cantik tentunya. Sedangkan Evan tampak biasa saja.
“Tidak apa-apa, Aysel,” balas Evan dengan senyuman ramah. “Silahkan duduk.”
Evan menunjuk kursi di depannya. Tetapi Aysel tampak diam berdiri di tempatnya dengan sesekali menatap Osman. Jarinya saling meremas dan pandangannya terarah ke lantai, seolah menegaskan bahwa dirinya tak nyaman dengan keberadaan Osman di sana.
“Osman, tolong tinggalkan kami dulu,” pinta Evan begitu menyadari maksud Aysel.
Tak menunggu waktu, Osman pun berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Setelah Osman pergi, barulah Aysel duduk di sebelah kursi yang tadi diduduki Osman.
__ADS_1
“Ada yang bisa kubantu?”
“Aku mau minta bantuanmu. Dua hari ini Ceyda terlihat sedih. Dia bilang mau bertemu denganmu. Bisakah kau luangkan waktumu untuknya?” pintanya dengan memelas.
Evan langsung mengangguk. Beberapa hari belakangan, ia memang kerap menjenguk Ceyda di rumah sakit dan kadang menemaninya sampai berjam-jam. Hingga mereka akrab dan berteman. Terkadang ia juga menunjukkan perhatian dengan menyuapi makan gadis kecil itu.
“Tentu saja bisa. Aku akan ke sana sore ini.”
“Apa tidak bisa sekarang?”
Evan melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya, waktu hampir menunjukkan jam istirahat siang.
“Maaf Aysel. Aku ada janji makan siang dengan istriku. Mungkin dia sedang dalam perjalanan kemari. Tapi aku berjanji akan langsung ke rumah sakit setelahnya.”
Meskipun tampak kecewa, namun Aysel berusaha untuk tetap tersenyum.
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan menunggumu di rumah sakit.”
Ujung mata Evan mengerut, membuat Aysel gelagapan.
“Maaf, maksudku ... Ceyda pasti akan menunggumu di rumah sakit,” Aysel mengulas senyum di bibirnya. “Baiklah, aku akan pergi dulu. Terima kasih untuk waktumu.”
__ADS_1
Evan menyahut dengan anggukan kepala, tersenyum ramah menatap Aysel yang keluar dari ruangannya dengan memendam kekecewaan.
***