Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 123


__ADS_3

Mungkin perasaan terpendamnya di masa lalu untuk Naya tak lagi berarti bagi Evan. Semua rasa yang pernah ada telah mati dan terkubur seiring berjalannya waktu. Kehadiran Hanna dalam hidupnya mampu mengganti segala kenangan tentang Naya. Mengisi hatinya yang pernah luka dengan cinta yang baru. 


Bahkan hingga kini Evan pun tak mengerti apa yang membuatnya begitu mudah memberikan seluruh hatinya kepada sosok gadis asing yang ia kenal di sebuah pesta topeng tujuh tahun lalu. 


Bukanlah cinta masa lalu suaminya yang membuat Hanna begitu terluka. Akan tetapi ketidakjujuran Evan yang menggoreskan luka dalam. 


Hari telah beranjak sore, namun Hanna masih betah menyendiri di kamar. Ia merenung, menimbang dalam hati apakah rasa kecewa yang kini bersarang di hatinya berlebihan atau tidak. Hanna melirik meja nakas di sisi pembaringan, entah di mana ia meletakkan ponselnya. Padahal hatinya sedang sangat merindukan Evan.


“Kau merasa lebih baik?” Elma masuk ke dalam kamar dengan membawa jus untuk Hanna. Seharian ini Hanna belum makan apapun. Pengaruh kehamilan membuatnya mual saat berhadapan dengan makanan. 


“Aku tidak apa-apa, Kak. Hanya pusing sedikit,” lirih Hanna menatap kakak iparnya. 


Elma meletakkan jus di atas meja, kemudian duduk di tepi ranjang. Meskipun Hanna berusaha untuk tersenyum, tetapi Elma dapat membaca kesedihan yang terlukis di wajah Hanna. Elma meraih jemari Hanna, menggenggamnya. Kemudian mengusap puncak kepala adik iparnya itu. 


“Hanna, kita adalah satu keluarga. Kalau kau punya masalah ... kau bisa membaginya denganku.” 


Hanna terdiam, tetapi bola matanya dipenuhi cairan bening. Lalu dalam hitungan detik ia sudah merebahkan tubuhnya pada wanita yang memiliki selisih 20 tahun dari usianya itu. Bagai seorang ibu dan kakak, Elma berusaha menenangkan Hanna. 


“Kenapa dia menyembuyikan semua ini dariku? Kenapa dia tidak jujur saja, Kak? Aku tahu semua orang punya masa lalu. Tapi kenapa dia harus menyembunyikannya dariku?” 


“Mungkin dia melakukannya untuk menjaga perasaanmu ... Percayalah Evan sangat mencintaimu, Naya hanya masa lalunya dan kau adalah masa depannya. Hanya denganmu dia akan menghabiskan sisa hidupnya.” Elma masih memeluknya. “Tentang buku itu, dia sudah melupakannya dan tidak tahu jika buku itu masih ada di rumah ini.” 

__ADS_1


Hanna mengusap air mata yang membasahi wajah pucatnya.


“Maafkan aku, Kak. Mungkin aku terlalu berlebihan. Tidak seharusnya aku seperti ini.” 


“Tidak apa-apa, Hanna. Ini sangat wajar untuk wanita hamil. Kadang emosi mudah berubah. Tenanglah, semua akan baik-baik saja."


Hanna mengangguk pelan.


“Bicarakanlah semuanya dengan kepala dingin. Evan pasti punya alasan kenapa dia memilih menyembunyikan semua ini darimu.” 


"Terima kasih, Kak Elma. Maafkan aku. Tolong jangan beritahu Kak Naya. Aku tidak mau Kak Naya merasa bersalah."


Tanpa di sadari oleh Hanna dan Elma, sedari tadi Naya berdiri di ambang pintu mendengar pembicaraan ipar-iparnya. Wanita berusia 33 tahun itu menunduk seraya mengusap air mata yang mengalir di pipinya. 


.


.


.


.

__ADS_1


Perlahan mentari mulai bersembunyi di bawah garis cakrawala di sebelah barat, meninggalkan cahaya kemerahan di langit. Bumi pun mulai diselimuti kegelapan. Hanya lampu-lampu dengan cahaya berpendar yang menerangi. 


Evan menyandarkan punggungnya dengan raut wajah frustrasi. Hampir tiga puluh menit ia terjebak kemacetan panjang. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu telah menunjuk angka tujuh. 


“Padahal aku berjanji pada Hanna untuk kembali lebih awal. Bagaimana ini?” gumamnya seraya melirik padatnya antrian kendaraan. 


Cukup lama pria berwajah Timur tengah itu menunggu, hingga akhirnya dapat terbebas dari kemacetan. Evan menginjak pedal gas dalam ketika melewati lampu lalu lintas yang baru saja berganti warna. Ia harus cepat tiba di rumah untuk menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka. 


“Hanna pasti marah. Dia tidak mau menjawab telepon dan membuka pesan.” Evan meletakkan ponsel ke kursi penumpang lalu menginjak pedal gas lebih dalam.


Lebih cepat tiba di rumah akan lebih baik, sehingga dapat segera menyelesaikan kesalahpahaman dengan istrinya.


Melewati sebuah tikungan tajam, Evan membanting setir ke arah kiri. Tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan ketika sebuah truk mencoba menyalip.


Mobil yang dikendarai Evan menabrak trotoar dan terguling, menyeret sejauh sepuluh meter, hingga akhirnya terhenti dengan menabrak sebuah pohon.


Kepulan asap putih menyatu dengan udara. Lenguhan lemah terdengar beberapa kali, sebelum akhirnya hening.


Evan tak sadarkan diri lagi dengan tubuh bersimbah darah.


****

__ADS_1


__ADS_2