
Pagi itu di mansion keluarga Azkara. Suasana sedih masih menyelimuti. Rumah yang biasanya ramai oleh tawa anak-anak, kini tampak sunyi.
Semua sedih dengan hilangnya Sky dan Star. Terutama Kay, gadis belia itu terus menangis karena merasa bersalah tidak mengawasi adik-adiknya. Padahal hampir sepanjang pesta ia bersama Star.
"Berhentilah menangis, Kay!" ucap Elma. "Kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Kau bisa sakit kalau menangis terus."
"Ini salahku, Bu. Aku tidak menjaga mereka. Padahal tadinya Star terus bersamaku."
"Sudah, Nak! Jangan menyalahkan dirimu. Istirahatlah, kau belum tidur sejak semalam."
Gadis itu mengusap air mata, lalu beranjak keluar dari kamar Hanna.
“Nyonya ... Ada paket untuk Nona Hanna,” ucap seorang pelayan yang datang dengan membawa sebuah kotak.
"Paket dari mana?" tanya Elma.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Kata penjaga ada yang meletakkan kotak ini di depan gerbang."
Elma menerima paket itu. Ia bolak-balikkan untuk mencari nama pengirim, tetapi tak tertera apapun di sana selain nama Hanna Cabrera.
"Hanna, apa kau habis memesan sesuatu?"
Hanna yang terlihat lemah hanya menjawab dengan gelengan kepala. Apapun yang tidak berhubungan dengan anak-anaknya bukan sesuatu yang penting baginya untuk saat ini.
__ADS_1
Elma meletakkan kembali kotak itu ke atas meja, lalu membukanya. Keningnya berkerut mendapati isinya.
"Apa ini? Potongan rambut?"
Hanna menoleh, lalu meraih potongan rambut dari genggaman kakak iparnya. Dari warna rambut dan bentuknya saja, ia sudah yakin itu rambut putrinya.
Seketika tangis kembali pecah.
"Star!" teriak Hanna. "Ini potongan rambut Star, Kak Elma. Apa yang sudah mereka lakukan pada anakku?"
"Kau yakin itu potongan rambut Star?" Naya langsung memeluk Hanna dan berusaha menenangkannya.
"Anakku! Tolong temukan anakku, Kak Elma. Kenapa mereka lakukan ini pada anakku? Apa salah mereka?"
"Hentikan semua pemeriksaan dan pencarian. Jika tidak, anak-anakmu akan kubunuh!"
*
*
*
Evan dan Osman tiba di mansion setelah menerima kabar tentang paket berisi potongan rambut putrinya yang tidak diketahui pengirimnya. Mereka tidak pulang semalaman karena mencari.
__ADS_1
Osman beranjak menuju ruang CCTV di mana Zian, Fahri dan saudara lainnya sedang memeriksa rekaman CCTV. Sementara Evan langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ia yakin Hanna akan histeris setelah melihat isi paket itu.
Benar saja, saat Evan masuk Hanna sedang menangis meraung. Ketiga saudari iparnya sedang berusaha menenangkannya.
Elma, Naya, Elsa berdiri, membiarkan Evan membujuk istrinya.
“Sayang, aku mohon tenanglah. Kita pasti akan menemukan mereka.” Evan memeluknya. Namun Hanna seketika mendorongnya dengan kuat.
“Ini semua karenamu!" pekik Hanna. "Kenapa kau harus membawaku pada kehidupanmu? Dulu aku dan anak-anakku hidup dalam keterbatasan di Amasya, tapi mereka aman bersamaku. Sekarang anak-anakku dalam bahaya! Apa yang bisa kau lakukan untuk mengembalikan anak-anakku!”
Evan memeluknya lagi walaupun Hanna terus menolak. Ia memukuli dada Evan dengan sisa tenaga, lalu kemudian bersandar di dadanya saat tak lagi memiliki daya untuk meraung.
“Hanna ... mereka juga anak-anakku dan aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka. Maafkan aku. Mereka pasti akan segera ditemukan.”
"Tolong lakukan apapun untuk menemukan anakku. Mereka pasti sedang sangat ketakutan sekarang."
"Baiklah, tapi tolong tenanglah dan jangan berpikiran buruk. Kau bisa sakit kalau seperti ini terus."
Tak berselang lama, Osman masuk ke dalam kamar dengan sangat tergesa-gesa.
"Tuan ... Lokasi mereka sudah terlacak."
****
__ADS_1