Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 88


__ADS_3

"Mungkin kau sudah bosan mendengarnya, tapi aku tidak akan pernah lelah mengucapkannya sampai rasa bersalah dalam diriku berkurang. Sayang, aku minta maaf untuk kekecewaan, ketakutan, penghinaan dan semua rasa sakit yang pernah kuberi untukmu. Sekarang dan selamanya yang ku inginkan hanya membuatmu bahagia. Kau dan anak-anak adalah yang terpenting bagiku."


Evan menghapus cairan bening yang mengalir di wajah istrinya. Menciumi kelopak mata itu bergantian di sisi kanan dan kiri.


Hanna melepas semua rasa itu dengan menyandarkan kepala di dada bidang sang suami dan Evan menyambutnya dengan pelukan hangat hingga Hanna merasa begitu nyaman dan termanjakan.


"Terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku hari ini. Maafkan aku karena sejak awal tidak memberitahumu. Aku terlalu jauh berpikir bahwa kau benar-benar membenciku."


"Aku yang salah karena terus menghinamu sampai kau memiliki pikiran seperti itu. Aku benar-benar minta maaf." Evan mencium punggung tangan Hanna, kemudian menatapnya dalam.


"Baiklah, Tuan Ervan Maliq Azkara. Aku memaafkanmu."


Evan tersenyum. Ia kecup kening wanitanya itu dan menyatukan kening serta hidung setelahnya. Tatapan penuh cinta itu bertemu.


Evan membelai wajah Hanna dan menatap dalam matanya. "Sayang ... bolehkah kita memulainya sekarang?"


Hanna membeku dengan wajah merah merona. Bisikan mesra itu membuat dadanya terasa bergemuruh. Tangannya mencengkram ujung piyama suaminya. Hanna tak lagi berani menatap Evan karena rasa malu. Dan hal itu saja sudah cukup bagi Evan sebagai jawaban.


Hanna memejamkan mata ketika merasakan jemari Evan membelainya. Malam ini, telah ia lepaskan segala rasa sakit, ketakutan dan trauma mendalam yang dipendamnya selama ini.

__ADS_1


Tujuh tahun lalu adalah malam kelam di mana Hanna merasa dirinya hancur dan jatuh ke dalam lumpur kotor yang akan menodainya seumur hidup.


Tetapi malam ini Evan mengganti malam kelam tujuh tahun lalu itu dengan malam indah yang tak akan pernah terlupakan bagi Hanna. Evan memberinya cinta yang bahkan tak pernah dibayangkan oleh Hanna sebelumnya.


Lembut, Evan menciumi tubuh istrinya. Tak ada lagi ketegangan di wajah Hanna. Yang dilakukannya hanya meremas kain seprai ketika tak dapat menahan rasa yang diberikan oleh suaminya. Ia begitu terbuai oleh sensasi hangat dan lembut, kemudian mulai membalas menghujani Evan dengan sentuhan.


Lenguhan dan de*sah napas memecah keheningan. Keduanya terlena dan tenggelam dalam kenikmatan yang tak berujung.


"Aku mencintaimu."


Evan mengecup kening dan bibir sebagai penutup kegiatan menguras tenaga itu.


"Kau lelah?" bisiknya dengan menggoda ke telinga Hanna.


Malu-malu Hanna mengangguk, lalu membenamkan wajah merahnya ke ceruk leher Evan. Tangannya bergerak mengusap bulu-bulu halus di sekitar dada suaminya.


Evan meraih selembar tissue dan mengusap keringat di sekitar wajah dan leher istrinya. Seakan tiada kata bosan, ia membenamkan kecupan berulang-ulang di kening, pipi dan bibir.


"Sekarang tidurlah. Kau terlihat sangat lelah."

__ADS_1


Dalam hangatnya pelukan, Hanna menganggukkan kepala, menyesap aroma parfum di tubuh suaminya yang telah bercampur dengan bau keringat. Tetapi, Hanna sangat menyukainya, bahkan terus menciumi lehernya.


drrttt drrtt!


Terdengar getaran dari ponsel milik Evan yang berada di atas meja. Evan menggerutu karena mengira telah mematikan ponsel demi menghindari gangguan malam ini, namun rupanya ponsel masih aktif.


"Ugh, sial! Aku lupa mematikan ponselnya. Seharusnya malam ini tidak boleh ada gangguan apapun."


"Jawab saja, mungkin itu penting."


Evan meraih ponsel, seketika kelopak matanya melebar setelah melihat nama pemanggil yang tertera pada layar.


"Kak Elma ... Ini pasti anak-anak!"


Evan lantas melirik arah jarum jam di dinding. Evan dapat menebak bahwa anak-anaknya sedang dalam keadaan menjelang tidur dan mereka melakukan panggilan video untuk mengucapkan selamat malam untuk mommy-nya seperti malam sebelumnya.


Evan menghela napas panjang setelah menatap wajah lelah Hanna dan juga tubuh polos mereka yang hanya tertutupi selimut. Ia tampak cukup frustrasi.


"Cepat pakai baju, atau Sky akan salah paham lagi. Mungkin kali ini dia akan mengira aku mau mengulitimu."

__ADS_1


****


__ADS_2