Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 78


__ADS_3

Hanna duduk di tepi pembaringan setelah mengenakan kembali pakaiannya. Ia duduk dengan kepala tertunduk. Ekor matanya melirik ke arah kamar mandi ketika mendengar suara gemercik air dari sana. 


Tak lama berselang, Evan tampak keluar juga dalam keadaan sudah berpakaian. Hanna menunduk lagi, ada perasaan antara takut dan bersalah setelah melihat kekecewaan di wajah suaminya. Sebab tadi Hanna terus menerus menolak dengan menangis, bahkan walaupun Evan terus berusaha membujuknya. 


Tidak mudah bagi Hanna untuk menghilangkan trauma setelah kejadian nahas yang menimpanya tujuh tahun lalu. Kenangan buruk itu masih begitu melekat di benaknya. 


“Maaf, aku tidak bermaksud menolakmu. Aku hanya merasa—” 


“Tidak apa-apa, Sayang,” sambar Evan. “Aku tidak menyalahkanmu. Pasti sangat sulit bagimu untuk menghilangkan trauma malam itu.” Ia duduk di sisi Hanna dan menggenggam jemarinya. 


“Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku yang sudah membuatmu mengalami trauma itu.” Ia mengusap rambut panjang Hanna dengan kelembutan. “Maafkan aku. Aku pasti sangat menyakitimu malam itu.” 


Buliran-buliran air mata kembali mengalir di wajah Hanna. Rasa sakit dari luka itu masih terasa. 


“Aku yang sudah menciptakan trauma itu. Jadi aku juga yang akan menghilangkannya dengan caraku sendiri.” 


Hanna menoleh dan menatap wajah suaminya. Ia dapat melihat sesal yang mendalam di sana. “Maukah kau mencobanya sekali lagi? Aku akan berusaha  untuk tidak menolak.” 


Evan tersenyum, lalu mengecup keningnya dengan sayang. “Kita masih punya banyak waktu. Sebuah hubungan tidak bisa dibangun dengan terburu-buru. Kau benar-benar harus menerimaku tanpa memaksakan diri. Aku akan menunggu untuk itu.” 


“Maaf ...” 


“Jangan minta maaf. Ayo, aku antar ke kamar anak-anak saja. Lagi pula mereka akan mencari kalau terbangun dan tidak menemukanmu.” 

__ADS_1


Baru saja Evan berniat mengantar Hanna ke kamar, suara pintu diketuk sudah terdengar.


"Mommy, apa Mommy di dalam?"


Hanna dan Evan seketika terlonjak.


"Itu Sky. Bagaimana ini?"


****


Evan mengambil ponsel dari atas meja. Padahal ia sudah sengaja mematikan ponsel agar malam indahnya tak terganggu. Namun ternyata menemui jalan buntu. Diam-diam Hanna masih trauma dengan kejadian malam itu. 


Lebih buruk lagi, Sky harus kembali salah paham setelah mendapati mommy-nya tak berada di kamar.


Menyalakan ponsel, Evan membuka daftar kontak di ponsel, menghubungi seesorang. 


“Tidak apa-apa. Aku juga belum tidur,” jawab seseorang di seberang sana. “Apa yang bisa kubantu?” 


"Bisakah kau menculik seseorang untukku?"


Hening! Makhluk di seberang sana belum menjawab.


"Kenapa kau diam saja?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Memang siapa yang harus diculik?"


"Aku akan memberitahu nanti. Siapkan saja semua seperti biasanya."


"Baik, itu mudah saja."


Panggilan terputus, Evan tampak bernapas lega.


*** 


Ini adalah hari yang istimewa bagi Sky dan Star, karena merupakan hari pertama sekolah. Mereka tampak sangat ceria dengan seragam sekolahnya. Meskipun belum sepenuhnya bisa berbahasa Indonesia, setidaknya mereka sudah mengerti sedikit-sedikit. 


“Mommy ... Apa di sekolah itu banyak teman?” tanya Star dengan mata berbinar memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin. 


“Iya, Sayang. Di sekolah kau akan bertemu dengan banyak teman baru,” jawab Hanna seraya menyisir rambut putrinya. 


“Tapi aku mau ditemani Mommy ya.” Sky memeluk memeluk mommynya dari belakang dan bersandar di punggung Hanna. 


“Baiklah, kalau begitu mommy akan mandi dulu. Tunggu sebentar ya.” 


Hanna menurunkan Star dari pangkuannya, kemudian berjalan keluar dari kamar. Tak ingin mommynya seorang diri dan berdua dengan daddy-nya, Sky dan Star pun mengekor di belakang Hanna, menemaninya ke kamar. 


Begitu memasuki kamar, tampak Evan sudah rapi dengan kemeja berwarna navy. Ia merinding saat menatap wajah merengut kedua anaknya melalui pantulan cermin. 

__ADS_1


Mereka masih saja salah paham padaku. Ya ampun, aku bisa gila lama-lama. Bahkan mereka menjaga Hanna dengan sangat ketat. batin Evan menggerutu. 


***   


__ADS_2