Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 109


__ADS_3

Tiga hari berlalu ...


Ini adalah hari yang membahagiakan bagi semua. Satu persatu setiap permasalahan mulai menunjukkan titik terang. Kemarin, Aysel sudah membuat pengakuan tentang semua tuduhan palsu yang pernah ia layangkan kepada Hanna. Membuat masyarakat cukup terkejut dan gempar. Terlebih, wilayah tempat Hanna pernah tinggal bersama kedua anaknya. Di mana ia terus menerima hinaan dan cacian dari para tetangganya.


Di sisi lain, Aysel juga sudah mengakui bahwa sebelum membawa anaknya ke restoran milik Evan, ia sempat mengunjungi sebuah restoran seafood dan hal itu membawa dampak baik dan mempermudah penyelidikan pihak kepolisian.


Siang ini ...


Hanna membawa anaknya berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Esok hari mereka akan bertolak ke Istanbul dan selanjutnya berlibur bersama keluarga besar di Cappadocia.


"Sky ... Star ... jangan lari-lari nanti jatuh!" ucap Hanna melihat anak-anaknya berlarian kesana-kemari.


"Iya, Mommy," jawab mereka dengan sesekali tertawa riang.


Mereka mampir sebentar ke sebuah toko pakaian. Hanna membeli beberapa pakaian hangat untuk kedua anaknya.


"Mommy ... kenapa Daddy belum datang? Kita kan sudah janjian dengan Daddy mau bertemu di sini," ucap Star yang sudah tak sabar menunggu kedatangan daddynya. Sebab Evan telah berjanji akan membawa mereka untuk pergi ke sebuah festival rumah hantu tak jauh dari pusat perbelanjaan itu.


"Sebentar lagi, Sayang. Daddy masih di jalan. Hari ini Daddy sangat banyak pekerjaan."


Sky melirik sebuah toko mainan tak jauh dari tempat mereka sekarang berada. Matanya seketika berbinar melihat banyaknya mainan yang dapat terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri.


"Mommy, apa aku boleh ke sana dulu?" tanya Sky seraya menunjuk toko mainan itu.


"Boleh. Tapi jangan nakal," ujarnya seraya melirik seorang pengasuh anaknya. "Celia ... tolong temani anak-anak, ya. Aku masih harus membeli beberapa pakaian untuk mereka."

__ADS_1


"Baik, Nona," jawab wanita itu.


Ia pun mengikuti Sky dan Star yang sudah melangkah lebih dulu. Berlarian dan saling berkejaran dengan riang gembira.


Begitu melewati pintu kaca, Sky begitu terkesiap menatap banyaknya mainan yang ada di toko besar itu.


"Wow, mainannya banyak sekali. Bibi Celia ... Apa aku boleh membeli mainan? Satu saja!" ucap Sky penuh harap, membuat wanita itu tersenyum.


"Tentu saja. Tuan muda dan Nona Kecil boleh membeli apapun yang diinginkan. Karena Daddy kalian pasti akan membelikannya."


"Aku mau satu saja, Bibi. Apa boleh?" Star ikut menanyakan hal yang sama setelah melihat sebuah boneka Barbie cantik.


"Boleh, Nona kecil."


"Wah ... mobil-mobilannya keren sekali. Aku mau yang ini saja ah." Sky meraih sebuah kotak mainan.


Sudah cukup lama ia menginginkan mainan itu. Namun baru memiliki kesempatan untuk menemukannya.


"Bibi Celia ... Aku mau ini!" ucap Sky.


Celia hanya menyahut dengan senyuman diiringi anggukan kepala.


Tiba-tiba ...


"Kau sedang apa di sini, Sky?" Suara seseorang yang tak asing membuat Sky menoleh.

__ADS_1


"Ozkan?"


Bocah kecil itu tampak cukup terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya. Ya, tetangga lama yang sering ia ceritakan kepada daddynya.


"Kau mau membeli mainan ya?"


Sky menjawab dengan anggukan.


Membuat Ozkan menatap kotak mainan yang berada di genggaman Sky. Ia meraih kotak kecil itu, kemudian menatap ayahnya yang berada di sisi lain dari toko itu.


"Ayah, apa aku boleh membeli ini?" tanya Ozkan seraya mengangkat kotak mainan itu untuk diperlihatkan kepada ayahnya.


"Oh, tidak, Ozkan. Mainan itu sangat mahal. Ambil yang lain saja dan jangan banyak-banyak."


"Tapi Ayah ... aku mau ini!"


"Baiklah. Tapi satu saja ya."


Ozkan pun tersenyum senang. Kemudian menatap Sky. "Ayahku akan membelikan ini untukku."


"Tapi aku duluan yang pegang itu. Berikan padaku!" Sky mencoba meraih kembali kotak itu dari tangan Ozkan. Namun, bocah berusia delapan tahunan itu enggan memberi.


"Kau beli saja mainan lain. Lagi pula apa kau punya uang untuk membelinya?"


***

__ADS_1


__ADS_2