Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 91


__ADS_3

Hanna dan Evan telah tiba di kota Amasya dengan menggunakan sebuah helikopter. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah. 


Pandangan Hanna mengarah keluar, melihat-lihat jalan yang mereka lewati. Kota inilah tempatnya menghabiskan waktu selama tujuh tahun dalam pengasingan. Di mana tak ada yang mengenalnya selain sebagai ibu dari sepasang anak kembar tanpa status yang jelas. Ya, semenyedihkan itu. 


Lamunannya seketika buyar ketika Evan menggenggam tangannya dan menautkan jari-jari mereka. Hingga Hanna merasa hangat dan terlindungi. Evan seolah mengerti apa  yang dipikirkan istrinya. 


“Tuan, apa Anda mau mampir ke suatu tempat dulu?” Osman yang sedang duduk di kursi kemudi melirik tuannya di belakang melalui kaca spion. 


“Tidak. Kita antar Hanna pulang lebih dulu, lalu ke rumah sakit.” Osman mengangguk. “Oh, ya ... Bagaimana kabar terbaru anak yang keracunan itu?” 


“Saat ini masih keadaannya masih sangat lemah. Saya hanya melihatnya dari luar karena dokter melarang kami masuk.” 


Hanna melirik suaminya dan dapat melihat kekhawatiran di sana. Sebagai seorang dokter, Evan menerapkan prinsip kerja sehat dan bersih untuk setiap karyawan, lalu bagaimana bisa ada yang keracunan setelah mengonsumsi makanan dari restorannya? Hanna tak berani membayangkan. 


Tak lama berselang, mobil memasuki halaman rumah. Tampak beberapa wanita dan pria berseragam menyambut di depan pintu. Begitu mobil terhenti, seorang pria datang dan membuka pintu mobil. Menyambut dengan ramah dan menundukkan kepala. 


“Selamat datang, Tuan dan Nona Hanna.” Evan membalas dengan senyum dan anggukan kepala. Mengulurkan tangan kepada Hanna tampak enggan turun dari mobil setelah menatap satu persatu wanita yang berdiri berjejer di depan pintu. 


“Kenapa kita tidak ke vila yang pernah kau sewa saja?” Hanna menatap suaminya penuh harap.


“Kenapa harus menyewa vila?” tanya Evan dengan kerutan di kening. 


Osman yang mengerti arah pembicaraan Hanna langsung menatap istri tuannya itu.  


“Jangan khawatir, Nona. Pelayan yang pernah berbicara yang tidak-tidak tentang Anda sudah dipecat semua. Mereka yang ada di sana adalah para pelayan baru. Jadi silahkan masuk ke rumah. Tidak akan ada lagi gosip antara para pelayan. Kalau pun ada, tolong beritahu saya.” 


Mendengar penjelasan Osman, barulah Hanna bernapas lega. Ia menyambut uluran tangan suaminya dan turun dari mobil. Para wanita yang menggunakan seragam berwarna navy itu menundukkan kepala saat Hanna dan Evan melewatinya menuju pintu utama. 


Evan mengantar Hanna ke kamar, sementara Osman menunggu di bawah sambil menikmati secangkir kopi yang telah disediakan oleh pelayan. 


*** 

__ADS_1


Memasuki kamar, Hanna meletakkan tas ke atas meja. Pandangannya berkeliling, kamar itu sangat berbeda dengan saat terakhir kalinya ia masuk ke sana. Sementara Evan menuju lemari dan mengeluarkan handuk. 


“Mau ikut?” Evan mulai membuka pakaian dan melemparnya ke  keranjang pakaian kotor. 


“Ke mana?” 


“Mandi.” 


Meskipun terdengar santai, namun sudah cukup untuk membuat Hanna merinding. “Kau mandi duluan saja. Aku akan mandi nanti.” Menundukkan pandangan, tetapi ekor matanya tertuju pada tubuh sempurna suaminya. 


Hal yang paling disukai Hanna adalah punggung suaminya yang lebar, yang membuatnya selalu ingin bersandar di sana. 


Hanna menjatuhkan tubuhnya di sofa dan memanjangkan kakinya. Sementara dari kamar mandi sudah mulai terdengar suara gemercik air. Hanna meraih ponsel dan membuka foto-foto selama perjalanan tadi. Bibirnya tersenyum saat mendapati sebuah foto selfie dengan Evan yang tiba-tiba  menciumnya. 


“Sayang, bisakah kau membantuku?” 


Hanna menatap pintu kamar mandi yang tertutup. “Ada apa?” 


Wanita itu melangkah menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya. 


“Masuklah. Pintunya tidak dikunci.” 


Menghela napas panjang, ia akhirnya memutar gagang pintu. Tubuhnya tersentak saat Evan menariknya. 


“Kena kau!” 


.


.


.

__ADS_1


.


Evan menciumi wajah istrinya yang tampak begitu lelah dalam dalam balutan selimut tebal. Membenahi selimut dan menutupi dadanya yang terbuka, lalu mencium kening lagi.


“Aku akan langsung ke rumah sakit. Kau di rumah saja, ya? Kau terlihat sangat lelah.” 


“Apa kau akan lama?” 


“Tidak tahu, Sayang. Aku harus mengurus beberapa hal. Istirahatlah.” 


Terdengar ketukan pintu, Evan meraih handuk dan melilit pinggangnya. Berjalan menuju pintu dan membuka sedikit hingga hanya menyisakan celah yang hanya cukup untuk tubuhnya. Sementara Hanna langsung bersembunyi di bawah selimut dan menutupi kepalanya.


"Ada apa?" tanya Evan menatap Osman yang ada di depan pintu.


"Bukankah kita harus ke rumah sakit, Tuan?"


"Tunggu sebentar. Aku akan mandi dulu."


Osman menatap heran. Jika dilihat dari rambut yang masih basah, ia dapat menebak bahwa tuannya itu baru saja mandi, lalu mengapa harus mandi lagi?


"Baiklah, saya akan menunggu di bawah."


Evan mengangguk, lalu kembali menutup pintu kamar. Osman melirik arloji di pergelangan tangannya, menggeleng-gelengkan kepala setelahnya.


"Aku menunggunya selama dua jam sampai menghabiskan tiga gelas kopi."


Dan lihat, apa yang sedang dia lakukan di kamar. Dasar pengantin baru tidak tahu diri.


Sambil menggerutu, ia kembali ke lantai bawah. Sepertinya Osman akan butuh secangkir kopi lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2