Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 97


__ADS_3

Hanna baru tiba di gedung Keong Kembar Cafe. Saat melewati pintu kaca otomatis, tampak beberapa pelayan yang mengenalnya menyambut dengan ramah, termasuk Eliya. Mereka membungkukkan badan tanda hormat. Meskipun beberapa di antaranya belum pernah bertemu secara langsung, namun mereka tahu wanita yang baru tiba itu adalah istri sang bos dari gosip-gosip yang beredar di antara pekerja.


"Selamat datang, Nona Hanna," ucap Eliya.


"Terima kasih, Eliya," balasnya dengan mengulas senyum ramah kepada semua gadis berseragam itu.


Hanna melirik sebuah ruangan khusus berdinding kaca tempat Evan pernah duduk bersama Star saat pertama kali Hanna menginjakkan kaki di tempat itu. Namun, ruangan itu kosong. Evan tak terlihat di sana.


Pandangannya kemudian menyapu setiap sudut tempat itu dan tak juga menemukan suaminya.


"Em ... Eliya, di mana suamiku? Dia memintaku datang kemari siang ini."


"Tuan ada di lantai tiga, Nona."


"Di lantai tiga?" tanya Hanna dengan kerutan tipis di kening. Karena baru dua kali menginjakkan kaki di kafe, ia tak tahu menahu tentang setiap ruangan di kafe milik suaminya.


"Tapi aku tidak tahu yang mana ruangannya. Ini untuk yang ke dua kalinya aku ke mari dan belum pernah ke atas sebelumnya."


Eliya kembali tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan mengantar Nona ke atas. Mari Nona, ikut saya." Eliya berjalan lebih dulu diikuti Hanna di belakang punggungnya.


Tiba di depan pintu lift yang menutup, Eliya menekan sebuah tombol dan menunggu beberapa saat. Sesekali melirik Hanna dengan kekaguman.


Beruntung sekali dia bisa menikah dengan Tuan Azkara. Penampilannya menjadi sangat berubah.


Eliya sama sekali tak pernah menyangka bahwa bekas tetangga yang dulu kerap berseteru dengan ibunya kini menjadi istri pemilik tempatnya bekerja.


"Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Hanna menyadari tatapan Eliya.


Lamunan Eliya membuyar. "Tidak apa-apa, Nona. Anda terlihat sangat cantik hari ini."


"Iya, Nona. Sejak kejadian anak yang keracunan itu, kafe dan restoran menjadi sangat sepi. Sepertinya mereka semua masih ragu untuk berkunjung kemari."


Hanna mengangguk mengerti. Ia pun ikut prihatin dengan apa yang terjadi.


"Oh ya ... Ibu dari anak itu sedang berada di atas. Tadi katanya ada yang mau dia bicarakan dengan tuan," lanjut Eliya.


Tak lama berselang, pintu lift terbuka. Seorang wanita berjalan keluar dari sana dengan tergesa-gesa hingga tanpa sengaja menabrak Hanna.

__ADS_1


"Auh, apa yang kau lakukan?"


Wanita itu terlihat marah, padahal dirinya lah yang menabrak lebih dulu. Tanpa menatap wajah Hanna, ia terfokus pada tas mahal miliknya yang hampir jatuh. Lalu dengan angkuh membenarkannya dengan mengapit tali tas di sela ketiak dan bahu.


"Maaf Nona, aku tidak melihat Anda," jawab Hanna.


Tiba-tiba kelopak mata wanita itu melebar mendengar suara yang baginya tak asing. Ia refleks mengangkat kepala demi memastikan dugaannya.


Mendadak pupil matanya melebar saat menyadari siapa yang tengah berdiri dalam jarak kurang dari dua meter darinya.


"Hanna?" pekik Aysel terkejut.


Membuatnya memandangi Hanna dari ujung kaki ke ujung kepala. Hanna yang kini berada di hadapannya sangat berbeda.


Dulu ia hanyalah seorang wanita sederhana dengan pakaian kusut tanpa make up. Namun, yang kini dilihatnya adalah sosok wanita cantik dengan penampilan elegan dan memukau.


Apa aku salah lihat? Ini tidak mungkin Hanna Cabrera si wanita penggoda yang memiliki anak kembar tanpa suami itu kan?


***

__ADS_1


__ADS_2