
Osman melirik tangga tanpa ekspresi ketika mendengar bunyi siulan yang sangat ceria dari sana. Ia menggerutu dalam hati. Kesal dengan tuannya yang tampak begitu bahagia tanpa beban, padahal masalah besar sedang menanti.
“Anda sudah siap?” tanya Osman melirik arloji di pergelangan tangannya entah untuk ke sekian kali.
“Sudah, ayo kita berangkat,” ujarnya dengan tersenyum senang. “Maaf membuatmu lama menunggu. Aku harus menemani Hanna dulu.”
Ya, tentu saja. Anda mabuk cinta, sedangkan saya mabuk kopi.
Osman terdiam beberapa saat dengan helaan napas panjang. Jika saja Evan bukan bosnya, ia pasti sudah memakinya habis-habisan.
"Hey, ayo berangkat!" ucap Evan membuyarkan lamunan Osman.
"Baik, Tuan. Mari."
Mobil melaju meninggalkan rumah. Evan duduk santai di samping Osman sambil membaca berkas laporan keuangan yang baru saja diberikan Osman. Ia cukup terkejut melihat berkas laporan itu.
“Penurunan omset sangat tajam dalam dua hari ini.” Evan menutup kembali map di tangannya dan meletakkan di kursi belakang. “Apakah kafe dan restoran sangat sepi?”
“Iya, Tuan. Sepertinya masyarakat merasa takut setelah kejadian anak yang keracunan itu. Selain itu kita harus bersiap kalau orangtua anak itu menuntut ganti rugi.”
“Kau benar, tapi aku tidak memusingkan masalah kerugian. Itu bisa diatur. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan anak itu. Ini sudah menyangkut nyawa seseorang dan kita tidak boleh bermain-main.”
“Anda benar,” sahut Osman kembali terfokus kepada jalan di depannya.
Evan mengusap punggung lehernya, rasa lelah cukup terasa. Perjalanan dari Indonesia ke Istanbul, kemudian menuju Amasya cukup menguras tenaga. Belum lagi pertempuran dengan Hanna yang lebih banyak menghabiskan energi.
"Anda lelah?" tanya Osman melirik tuannya sekilas.
"Sedikit!"
Huuftt! Saya tidak heran kalau tenaga Anda terkuras.
“Oh ya, Osman. Mulai sekarang peringatkan semua pekerja dan koki untuk lebih teliti menjaga kebersihan dan memastikan bahan yang digunakan berkualitas terbaik dan tidak dalam masa kadaluarsa. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi.”
“Baik.”
*
__ADS_1
*
*
*
Rumah sakit Amasya.
Dari balik jendela kaca, Evan menatap seorang anak perempuan yang terbaring lemah di pembaringan pasien. Tampak beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya.
Evan kini sedang berkonsultasi dengan salah seorang teman dokternya yang kebetulan menangani gadis kecil itu.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Evan.
“Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan dia terpapar racun tetrodotoksin,” ujar sang dokter.
“Tetrodotoksin?” Kening Evan berkerut karena terkejutnya. “Tapi bagaimana mungkin? Aku tidak pernah memberi izin koki di restoran untuk mengolah hidangan ikan atau hewan yang mengandung tetrodotoksin. Kau tahu racun tetrodotoksin itu sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal.”
Melihat kekhawatiran di wajah Evan, Dokter Omar mengusap bahunya. “Tenanglah, Evan. Semuanya sedang dalam penyelidikan. Kita akan segera mengetahui dari mana asal tertrodotoksin itu. Mungkin saja sebelum ke restoranmu, mereka makan di tempat lain.”
“Kau benar. Aku juga harus memastikannya di restoran.”
Evan mengangguk mengerti. “Lalu di mana orang tuanya? Aku harus bertemu dengan mereka.”
“Tunggulah sebentar, dia sedang ke ruangan Dokter Maria."
Perhatian Evan kembali tertuju kepada gadis kecil yang kira-kira usianya tak jauh dari Sky dan Star. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan. "Aku benar-benar sangat terkejut mendengar berita ini. Aku tidak pernah berharap akan ada seseorang yang keracunan setelah makan di restoran ku."
"Jadi kau adalah pemilik restoran itu?" Seorang wanita tiba-tiba muncul di antara mereka dengan suara nyaris membentak. Evan seketika menoleh, begitu pun dengan Dokter Omar.
Kerutan di kening Evan semakin dalam melihat wanita yang berdiri dengan jarak kurang dari dua meter darinya. Sama seperti Evan, wanita itu juga tampak sangat terkejut.
Dokter Omar tersenyum ramah berusaha mencairkan suasana. "Nyonya ... ini adalah Dokter Evan, pemilik restoran yang Anda kunjungi."
"E-van?" ucap wanita itu tanpa berkedip.
"Aysel?"
__ADS_1
Evan dan wanita itu saling tatap, membuat Dokter Omar menebak-nebak dalam benaknya.
"Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?"
Wanita itu diam mematung, seolah belum mempercayai bahwa laki-laki di hadapannya adalah pemilik restoran tempat anaknya keracunan makanan.
"Emh ... Maafkan aku. Dokter Omar, kami sudah lama saling kenal. Kami dulu kuliah di tempat yang sama," ujar wanita itu dengan intonasi yang tiba-tiba melunak.
"Benarkah?" ucap Dokter Omar. "Syukurlah kalau kalian sudah saling kenal. Kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik dengan kepala dingin."
"Tentu," sahut wanita itu. "Maafkan ketidaksopananku, Evan."
Evan mengangguk dan tersenyum. "Tidak apa, aku mengerti."
*
*
*
"Aysel ... Aku benar-benar minta maaf. Aku ikut menyesal semua ini harus terjadi. Aku akan bertanggungjawab untuk apa yang dialami anakmu."
Wanita cantik itu mengangguk. Sikapnya sudah melembut, tidak seperti tadi, sebelum mengetahui bahwa ternyata Evan adalah pemilik restoran tempatnya makan bersama anaknya.
"Terima kasih, Evan. Maafkan aku tadi marah-marah. Ceyda adalah satu-satunya yang kumiliki. Karena itulah aku sangat sedih dengan kejadian ini." Ia mengusap cairan bening yang menggenang di ujung matanya.
"Tidak apa. Aku mengerti keadaanmu. Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama."
"Terima kasih, sekali lagi."
Evan menatap gadis kecil yang terbaring tak berdaya itu. Membelai puncak kepalanya dengan lembut, lalu kemudian menatap Aysel. "Oh, ya ... Di mana suamimu?"
Raut wajah wanita itu mendadak sedih dan Evan menyadarinya. "Soal itu--" Ucapannya menggantung, membuat Evan merasa bersalah.
"Maaf, aku tidak bermaksud--"
"Tidak apa-apa, Evan." Aysel meraih jemari Evan dan menggenggamnya. Namun, Evan seketika menepis, sehingga Aysel merasa tidak enak.
__ADS_1
****