Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Capture 54


__ADS_3

Di sebuah mansion mewah .... 


Hanna telah selesai mengganti pakaian anaknya dengan piyama. Mereka sedang bersiap untuk tidur.


“Mommy, kapan daddy ke mari?” tanya Sky.


Hampir setiap malam sebelum tidur bocah bermata perak itu menanyakan daddynya. 


“Tidak lama lagi, Sky,” balas Hanna mengulas senyum di bibir. 


“Aku sangat merindukan daddy, Mommy,” celoteh Star.


Ia memeluk sebuah boneka pengantin laki-laki dengan setelan jas. Star akan tidur dengan memeluk boneka itu ketika merindukan daddy-nya. 


“Bersabarlah, Nak. Setelah semua ini selesai, kita akan selalu bersama daddy dan tidak akan pernah terpisah lagi.” Hanna membelai lembut rambut putrinya. 


“Apa Mommy juga merindukan daddy?” 


Pertanyaan polos Star membuat pipi Hanna memerah. Sama seperti kedua anaknya, ia juga memiliki kerinduan yang sama. 


"Mommy, apa rumah Ozkan dan Murad sangat jauh dari sini? Aku belum sempat memberitahunya kalau daddyku sudah kembali."


"Cukup jauh, Sky." Ia tersenyum lembut. "Apa kalian suka tinggal di sini?" tanya Hanna mengingat Sky dan Star butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan.


Cuaca di Kota Amasya dan ibu kota sangat jauh berbeda. Selain itu perbedaan bahasa membuat mereka terkadang bingung.

__ADS_1


Beruntung seluruh anggota keluarga Azkara menguasai bahasa Turki. Sehingga memudahkan mereka berkomunikasi dengan Sky dan Star.


Keluarga Azkara mewajibkan anak-anak mereka mempelajari bahasa Turki. Bahkan Dennis, anak Zian yang kini berusia 13 tahun sudah menguasai beberapa bahasa dunia.


"Aku sangat suka tinggal di sini, Mommy. Tapi lebih suka kalau daddy juga ada di sini."


"Kalau begitu sekarang tidurlah. Ini sudah malam. Besok, begitu kalian terbangun akan bertemu dengan daddy.”


"Benar, Mommy?" Star sudah terlihat kegirangan.


"Iya, malaikat kecilku." Ia menciumi kening anaknya bergantian.


Kemudian meraih sebuah buku dan membacakan dongeng, hingga berselang beberapa menit, Sky dan Star telah lelap.


Seulas senyum tampak hadir di bibirnya melihat anak-anaknya yang kini mendapatkan kehidupan layak, dengan sebuah keluarga yang menyayangi mereka.


"Sekarang kalian punya keluarga yang utuh. Tidak akan ada lagi yang menghina kalian."


Walaupun sebelumnya Hanna sempat ragu memikirkan latar belakang dirinya dan sempat mengira keluarga besar Azkara tidak akan menerima Sky dan Star. Tetapi jauh di luar dugaan, keluarga itu justru menyambutnya dengan hangat dan memberi kasih sayang kepada kedua anaknya. 


****


Di sisi lain, perdebatan masih terjadi di sebuah ruangan. Evan sudah beberapa kali menanyakan keberadaan Hanna dan anaknya. Namun, Botak tak kunjung memberi jawaban.


"Tidak tahu!” jawab Botak santai membuat Evan menatapnya tajam.

__ADS_1


“Apa maksudmu tidak tahu? Kalian pasti menyembunyikan Hanna dan anak-anakku di suatu tempat, kan?” tuduhnya dengan yakin.


Botak terkekeh, kemudian mengalihkan pandangannya dari peta. “Benar. Tapi mereka tidak ada di daerah mana pun yang ada di dalam peta itu.” 


Batin Evan menjerit dan murka. Rasanya sangat ingin memaki pria itu. “Apa maksudmu Hanna tidak ada di salah satu daerah di dalam peta itu?” 


“Nona Hanna dan anak-anaknya memang tidak ada di Turki, Tuan Muda.” 


Terkejut, Osman dan Evan pun saling melempar pandangan. Sungguh makhluk tanpa rambut di kepala itu seolah menguji kesabaran. Bahkan dalam keadaan diculik pun ia masih terlihat tenang.


“Lebih baik katakan di mana Nona Hanna dan anak-anaknya. Kami tidak akan bisa menjamin keselamatanmu sekarang,” ancam Osman dengan sorot mata elang. Seolah dengan tatapan itu ia dapat menelan Botak hidup-hidup.


“Apa kalian pikir bisa mengikatku dengan tali kecil ini?”


"Lepas saja kalau bisa! Kau jangan macam-macam sekarang!" imbuh Evan.


Botak pun melepas tali yang menjerat tubuhnya dengan sangat mudah. Osman yang menyadari tanda bahaya pun mundur beberapa langkah.


Tiba-tiba ... 


“Osman, apa yang terjadi? Kenapa lampunya padam?” tanya Evan begitu sekeliling terlihat gelap.


Semuanya terlihat semakin gelap, kemudian perlahan berputar, seiring dengan kesadarannya yang semakin menurun.


****

__ADS_1


__ADS_2