Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 130


__ADS_3

“Hentikan! Kau membuatku tertawa sampai sakit perut,” ucap Evan seraya berusaha meredam tawanya. Evan mengusap ujung matanya yang berair. Cara Hanna meminta dengan merayu benar-benar terasa menggelitik perut. 


“Tapi janji dulu, begitu sembuh kau harus memenuhi semua rencana ngidamku!” Hanna menaikkan jari kelingkingnya. Seperti yang selalu dilakukan kedua anaknya saat akan mengucapkan sebuah janji. 


Evan pun menyambut dengan menautkan jari kelingkingnya. “Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa berjalan lagi? Kau pasti butuh orang lain untuk mewujudkan rencana ngidammu, kan?” 


Meskipun ucapan Evan terdengar seperti sedang melontarkan candaan, namun terasa begitu menyayat di telinga Hanna.


“Kau akan sembuh dan aku akan memaksamu untuk itu,” pekik Hanna tak terima.


“Baiklah, Sayang. Kalau begitu aku Ervan Maliq Azkara berjanji akan memenuhi semua rencana ngidam Hanna Cabrera Azkara begitu bisa berjalan kembali,” ucap Evan dengan meletakkan tangan di dada—membuat Hanna merebahkan kepala di dadanya lagi. Namun, kali ini bola matanya terlihat berkaca-kaca. 


“Sebentar—sebentar, sepertinya aku lupa sesuatu. Tadi kan aku pesan jus, kenapa belum datang juga. Apa jangan-jangan mereka lupa membawakan jus-ku?” 


“Memang pesan di mana?” 


“Di kafe rumah sakit. Sebentar ya, aku akan segera kembali.” Ia tersenyum, lalu beranjak turun dari tempat tidur dan keluar kamar. 


Sementara Evan menatap pintu yang baru saja tertutup. Wajah yang tadinya cerah ceria seketika berubah murung.


Kenapa tidak menangis di depanku saja? Setidaknya aku bisa membantu menghapusnya.


Di luar ruangan ...


Hanna menyandarkan punggungnya di dinding. Sesak terasa semakin menghimpit dadanya, yang kemudian disusul dengan derai air mata yang sialnya semakin berusaha ditahan semakin deras mengalir. 

__ADS_1


Hanna tak tahan lagi rasanya. 


“Akibat kecelakaan itu Evan mengalami dislokasi lutut. Mungkin akan butuh waktu lama untuk pemulihan. Tapi tetaplah percaya bahwa Evan bisa sembuh. Kita semua akan melakukan yang terbaik untuknya. Hanna, kau satu-satunya yang bisa memberinya semangat.” Ucapan si sulung Fahri beberapa waktu lalu masih melekat dengan jelas di ingatannya. 


Hal yang membuat Hanna kadang menangis di malam hari dan menyembunyikan air matanya di siang hari.


“Hanna!”


Panggilan itu membuat Hanna hampir terlonjak karena terkejut. Ia menoleh pada seseorang yang berdiri di sisinya. 


“Kak Elma ... maaf, aku—” Ia buru-buru menyeka air mata yang mengalir di pipi dan berusaha menunjukkan senyum seadanya. 


“Bersabarlah. Evan akan sembuh. Sekarang jangan menangis. Dia pasti akan ikut sedih kalau tahu kita menangisinya.” 


Hanna mengangguk, tetapi masih terdengar suara sesegukan. Elma pun memeluknya, hingga adik iparnya itu merasa lebih baik.


"Tidak ada yang tidak mungkin Hanna. Kita tidak boleh kehilangan harapan," ucapnya berusaha menenangkan. “Aku juga sudah menghubungi seorang ahli bedah ortopedi terbaik di Jerman. Kita akan berangkat setelah Evan membaik dan bisa keluar dari rumah sakit.” 


“Baik, Kak. Terima kasih.” 


.


.


.

__ADS_1


.


“Bagaimana keadaanmu, lebih baik?” tanya Fahri yang baru tiba setelah kembali dari rumah sakit tempatnya praktek. 


“Aku merasa lebih baik, hanya saja kakiku tidak bisa digerakkan dan kadang terasa sangat nyeri. Memang dokter bilang apa?” Evan menatap kakak sulungnya dengan menuntut jawaban. 


“Tidak apa-apa. Hanya pergeseran sendi ringan,” jawab Fahri enteng. “Oh ya ... Elsa dan Willy tidak kemari?” 


Evan menghela napas panjang dengan pikiran yang langsung tertuju kepada suami dari saudara kembarnya. Pasangan yang terkenal hot itu selalu saja membuat emosinya naik turun. 


“Jangan sebut nama Kak Willy. Lihat, aku belum benar-benar sembuh sudah mau dikasih pil setan.” 


Fahri terkekeh seraya menghempas tubuhnya di kursi. “Sepertinya dia takut kau akan mengalami impotensi. Itu akan sangat mengerikan.” 


“Apa hubungannya kaki dengan pil setan? Yang cedera kan kaki, bukan bagian itu,” gerutu Evan. Ingin rasanya memaki saudara iparnya. “Lagi pula tidak akan ada dislokasi di bagian itu, kan?” 


“Tidak, kecuali kalau kau punya persendian di bagian itu,” jawab Fahri seraya tergelak. 


.


.


.


Malam sudah larut.

__ADS_1


Evan mencium kening istrinya setelah memastikan wanita itu sudah terlelap. Ia berbaring dengan tatapan kosong juga raut wajah yang suram. 


“Dislokasi ....” gumam Evan dalam hati. 


__ADS_2