
"Sttt!" Evan meletakkan jari telunjuk di depan hidung, kemudian melirik Sky dan Star.
Ia melangkah mendekat demi memastikan anak-anaknya sudah benar-benar tidur dengan nyenyak.
"Ayo ikut aku ke kamar kita," bisiknya sambil menarik pergelangan tangan Hanna menuju pintu.
"Tunggu, sebentar." Langkah Hanna terhenti, kemudian menatap suaminya. "Bagaimana kalau mereka terbangun dan mencariku?"
"Itu biar jadi urusan nanti."
Evan memutar gagang pintu dan baru ingat, pintunya terkunci. Sebab itu lah tadi ia nekat masuk melalui jendela. "Di mana kuncinya?"
"Sepertinya Sky yang menyembunyikan kuncinya."
Evan menepuk dahinya. "Ya ampun." Ia menggelengkan kepala tanda frustrasi dengan tingkah anak-anaknya. "Mereka benar-benar berpikir aku mau menghukummu. Apa aku segila itu?"
"Mereka tadi mendengarmu mengatakan mau menghukumku. Karena itu lah Sky dan Star menjauhkan kita."
Evan menghela napas panjang, kemudian mulai mencari tempat Sky menyembunyikan kunci kamar. Sungguh perjuangan yang tidak mudah.
"Menurutmu di mana kuncinya?" tanya Evan membuka laci meja satu-persatu dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Sky dan Star.
"Aku benar-benar tidak tahu." Hanna ikut membantu Evan mencari kunci. Namun, tak juga menemukan.
__ADS_1
"Aku bisa gila kalau seperti ini terus." Sambil mencari, ia bergumam-gumam kesal.
Evan melirik Sky, kemudian berjalan mendekati putranya itu. Tangannya menyelinap masuk ke bawah bantal.
Ketemu! Ternyata Sky menyembunyikan kunci kamar di bawah bantal. Evan benar-benar gemas sekaligus tak habis pikir dibuatnya.
"Kau menemukannya?" tanya Hanna yang berdiri di belakang suaminya. Evan menunjukkan kunci yang ia temukan di bawah bantal.
"Sungguh Sky sangat pintar dalam melindungi mommy-nya," ujarnya seraya berdecak.
Tak ingin menunggu lama, Evan segera membuka pintu menggunakan kunci. Begitu pintu terbuka, ia melongok kan kepala keluar untuk memastikan keadaan benar-benar aman untuk mereka.
"Sepertinya aman. Semua orang sudah tidur."
****
Hanna gemetar saat memasuki kamar itu. Entah mengapa ia merasa sangat gugup. Terlebih saat menyadari keinginan Evan membawanya ke kamar mereka malam itu.
"Sayang ..." Ia memeluk Hanna dengan erat, mencium keningnya berulang-ulang. "Kau sudah siap?" bisiknya dengan mesra dan menggoda.
Malu, Hanna menundukkan pandangan. Tubuhnya gemetar tatkala Evan membelai wajahnya dengan lembut. Bahkan Evan dapat merasakan tubuh Hanna yang gemetar.
"Kau gugup?"
__ADS_1
Hanna mengangguk pelan yang mana membuat Evan tertawa kecil. Biasanya Hanna sangat galak, namun malam ini tampak sangat menggemaskan dengan sikap malu-malunya.
"Jangan tegang begitu. Santai saja, kita kan sudah pernah melakukannya."
Wajah Hanna semakin merah karena malu. Ia boleh merasa beruntung sebab pencahayaan di kamar temaram, sehingga menyamarkan rona merah di wajahnya.
Tak ingin mengulur waktu, Evan menggendong Hanna bak pengantin baru dalam film-film. Membaringkannya di ranjang.
"Jangan ke mana-mana. Aku akan segera kembali," bisik Evan sebelum beranjak masuk ke kamar mandi.
Hanna menarik napas dalam-dalam saat pintu kamar mandi tertutup, hingga terdengar suara gemercik air dari dalam sana.
"Bagaimana ini. Kenapa aku jadi sangat gugup?" gumam Hanna dengan jari-jari saling meremas.
Tak lama berselang, Evan keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk putih di pinggang. Hanna seketika membuang pandangannya saat melihat Evan tanpa pakaian.
Postur tubuhnya yang tinggi, otot-otot perut yang terlihat kuat meskipun tak membentuk roti kasur layaknya tokoh pria dalam novel-novel. Namun terlihat sangat sek*si bagi Hanna.
Ia merinding saat melihat bulu-bulu halus di bagian dada suaminya. Tangannya refleks meraih bantal dan menyembunyikan wajahnya saat Evan berjalan mendekat.
"Kali ini aku benar-benar akan menghukummu seperti kata Sky."
****
__ADS_1
Eakkkkkk gantung kek jemuran tetangga Thorrrrr ...