
Dua minggu kemudian ...
Evan dan seluruh keluarganya telah berada di Indonesia setelah menjelajahi Cappadocia yang merupakan kota impian sebagian orang. Pengalaman menaiki balon udara sangat tak terlupakan bagi Hanna.
Di mana ia begitu ketakutan dengan ketinggian sampai harus memeluk suaminya selama mereka melayang di udara.
Kini ...
Kehidupan sudah berjalan dengan baik dan normal.
Hanna tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan sebahagia sekarang. Memiliki dua anak, keluarga dan juga seorang suami yang teramat mencintainya. Seolah merupakan kejutan paling indah yang diberikan semesta kepadanya.
"Sayang ..."
Hanna terlonjak ketika Evan tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang. Membuat lipatan pakaian yang sudah disetrika dan terlipat rapi terjatuh ke lantai. Ia baru saja akan memasukkan lipatan pakaian ke dalam lemari.
"Kau mengagetkanku. Lihat kan, pakaiannya jadi jatuh dan kusut lagi," protes Hanna seraya menatap pakaiannya yang teronggok di lantai. Yang kemudian ia punguti satu persatu. Meletakkan ke atas tempat tidur dan merapikan kembali.
"Maaf, Sayang. Aku tidak sengaja. Lain kali akan aku ulangi," ucap Evan membuat Hanna mendengus.
Suaminya itu terkadang sangat iseng dan menyebalkan.
"Bagaimana hari pertamamu bekerja?"
Hanna menatap suaminya dengan antusias. Ini adalah hari pertama Evan bekerja di rumah sakit milik Zian.
"Lumayan melelahkan. Hari ini ada banyak pasien korban lelaki yang datang untuk berkonsultasi," tukas Evan dengan tawa kecil di bibirnya. Membuat kening Hanna berkerut mendengar ucapan sang suami.
"Pasien korban lelaki? Maksudnya?" Hanna tampak belum mengerti arah pembicaraan Evan.
__ADS_1
"Wanita hamil. Mereka kan memang korban para lelaki. Apa itu salah?"
Hanna tertawa. "Memang benar sih."
Evan lalu beranjak menuju sudut ruangan. Melepas satu persatu pakaiannya dan memasukkan ke dalam keranjang dan hanya menyisakan bokser yang menutupi area terlarangnya.
Ia meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Sementara Hanna melanjutkan pekerjaannya. Ia tersenyum melirik kamar mandi di mana terdengar suara gemercik air dan juga suara siulan yang riang gembira.
Tak lama berselang, Evan pun keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya.
"Sayang ... Kapan kau punya waktu untuk melihat rumah baru kita?" tanya Evan membuka lemari dan mengeluarkan pakaian dari sana.
"Terserah kau saja."
"Bagaimana kalau besok saja. Setelah aku pulang kerja."
Hanna mengangguk setuju. Sudah beberapa hari ini Evan ingin mengajak wanitanya itu untuk melihat rumah baru mereka. Karena tak lama lagi, mereka akan pindah ke rumah baru yang dibeli Evan beberapa waktu lalu.
Hanna berdecak menatap lemari suaminya yang penuh dengan pakaian.
"Nanti saja. Biar aku membantumu. Sekarang aku harus keluar dulu."
"Mau kemana?" tanya Hanna melihat suaminya tampak terburu-buru mengenakan pakaian.
"Aku ada janji dengan seorang teman. Sepertinya dia membutuhkan bantuan. Tidak lama, aku akan pulang sebelum jam makan malam."
"Baiklah."
Evan berdiri di depan cermin demi memastikan penampilannya sudah cukup rapi. Menyisir rambut dan terakhir menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
__ADS_1
Aroma parfum yang menguar membuat Hanna mengapit lubang hidungnya dengan jari. Ia tak tahan dengan aroma menyengat dari parfum itu.
"Sayang, aku pergi dulu ya ..." Evan mencium kening dan bibir, membuat kepala Hanna seperti berputar karena aroma menyengat.
*
Selepas kepergian suaminya, Hanna kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia membuka lemari pakaian suaminya dan mengeluarkan beberapa pakaian lama yang jarang terpakai.
"Ya ampun ... banyak sekali. Kenapa dia sangat suka mengoleksi pakaian tapi malah jarang dipakai."
Hanna menghela napas panjang. Ia lantas mengeluarkan isi lemari di pojok kanan atas.
Bruk!
Perhatian Hanna teralihkan pada sebuah benda yang tanpa sengaja terjatuh dari lemari pakaian suaminya.
Ia membungkukkan tubuhnya meraih buku tersebut.
"Ini seperti diary."
Hanna membolak-balikkan buku di tangannya dan meneliti. Ia mengusap tulisan dengan logo huruf 'K' yang terdapat pada sampul luar buku tersebut.
Hanna pun membukanya.
Seketika kelopak matanya melebar menyadari buku macam apa yang berada di genggamannya. Detik itu juga, cairan bening sudah menggenang di bola matanya.
Hanna sama sekali tak pernah menyangka akan menemukan hal seperti ini. Keterkejutannya bahkan membuat sendi-sendinya terasa lemas hingga rasanya tak sanggup berdiri.
Bahkan buku yang sejak tadi digenggamnya terjatuh ke lantai begitu saja.
__ADS_1
***