Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 105


__ADS_3

Evan menginjak punggung laki-laki itu tanpa belas kasih hingga membuatnya meringis kesakitan. Namun, ekspresi memelas yang ia tunjukkan tak membuat Evan menaruh belas kasih.


Memikirkan seperti apa ketakutan Hanna saat Xavier mencoba melecehkannya saja sudah membakar amarahnya.


“Aaaarrggghh! Ampuni saya, Tuan. Saya tidak melakukan apa-apa kepada wanita itu! Tolong maafkan saya.” Xavier mengatupkan tangan di depan dada.


“Kemana semua sikap kurang ajarmu saat itu? Padahal kau tahu dia seorang wanita yang tidak berdaya dan kau malah mau mengambil keuntungan darinya.” Evan mengangkat kakinya dari punggung Xavier. Mencengkram punggungnya hingga terpaksa bangkit lagi. Berdiri dengan tubuh yang lemah lunglai.


Bugh! Bugh! Bugh! 


Xavier kembali terjerembab ke lantai, nyaris kehabisan tenaga. Cairan merah mengalir di bibir dan hidung, juga beberapa memar merah yang terdapat di wajahnya. Jika Evan tak menghentikan kegilaannya, mungkin Xavier akan mati di sana.


“Kau bilang pada semua orang bahwa dia yang merayumu, kan? Sekarang katakan yang sebenarnya!” teriak Evan dengan penuh kemarahan. 


“Ampuni saya, Tuan. Saya mengaku bersalah, Hanna tidak merayu saya,” ucap Xavier dengan nada tersendat-sendat. “Saya lah yang sudah menjebaknya dengan menawarkannya sejumlah uang untuk membayar biaya operasi anaknya.” 


Tangan Evan mengepal. Sudah bersiap lagi melayangkan tinju. "Kau benar-benar sangat licik. Katakan, apa saat itu kau memberinya sejumlah uang?” 


“Ti-tidak, Tuan! Saya tidak memberinya uang. Karena saya memintanya datang hanya untuk tujuan yang lain. Hanna tidak mengambil uang satu sen-pun dari saya.” 


Evan mendorong tubuh Xavier hingga membentur lantai, kemudian melirik ke arah sebuah pilar di mana pencahayaan berpendar karena hanya satu lampu yang menyala di dalam ruangan, yaitu lampu yang mengarah pada tempat Evan sekarang berdiri.


“Aysel, kau sudah dengar kan? Bukan istriku yang sudah merayu si brengsek ini! Dia lah yang sudah mencoba untuk menjebak Hanna dengan cara yang sangat licik.” 

__ADS_1


Mata Xavier yang sudah tampak sayu kembali melotot, mendapati kenyataan mengejutkan bahwa laki-laki yang memukulinya adalah suami dari wanita yang pernah hampir ia lecehkan. Kali ini tamatlah riwayatnya.


Xavier lalu melirik seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik sebuah pilar. 


“Aysel?” gumam Xavier menyadari kehadiran mantan istrinya di sana. Bola matanya berputar kesana-kemari, menahan sakit dan malu akibat perbuatan di masa lalu yang akhirnya terungkap kebenarannya hari ini.


Aysel melayangkan tatapan tajam ke arah mantan suaminya itu.


“Jadi sebenarnya kau yang menjebak Hanna?” tanya Aysel dengan rasa marah bercampur malu yang seakan mampu membunuhnya saat itu juga. “Kau katakan padaku dan semua orang bahwa dia lah yang sudah berusaha merayumu.” 


Xavier yang masih terkejut tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia sama sekali tak menduga akan kehadiran mantan istrinya di sana. 


"Maaf ..."


Evan pun memberi kode kepada dua orang anak buahnya, membuat dua pria itu maju dan meraih tubuh Xavier dan membawanya untuk duduk kembali ke kursi. Laki-laki itu sudah tak memiliki daya untuk sekedar berdiri. 


“Ma-afkan aku, Evan. Aku juga bersalah. Aku sering menghina Hanna dan karena salah paham, aku membuatnya menanggung sesuatu yang tidak pernah dia lakukan." Wanita itu terisak-isak mengakui perbuatannya, tetapi Evan terlihat Enggan untuk menatapnya.


"Aku ingin kau membuat sebuah pengakuan di media dan membersihkan nama Hanna, agar semua orang di Amasya mengetahui yang sebenarnya."


Aysel mengangguk setuju. "Baiklah. Aku bersedia."


Evan melirik Osman yang tampak berdiri dengan santai di sudut ruangan, dengan jas milik tuannya yang menggantung di lengan kirinya.

__ADS_1


"Osman, kau atur semuanya! Bila perlu buat semua stasiun TV di Amasya memuatnya," perintah Evan diikuti anggukan kepala oleh Osman.


"Baik, Tuan. Itu mudah saja."


"Sekarang, minta orangmu mengantar Aysel kembali ke rumah sakit. Ceyda pasti sudah mencarinya."


"Baik!" Osman melangkahkan kakinya mendekat. Kemudian menyerahkan kembali jas milik Evan. Sedangkan Aysel sudah melangkah keluar dengan lesu, mengikuti seseorang yang akan mengantarnya pulang.


*


*


*


"Tuan ... bagaimana dengan laki-laki ini? Akan kita apakah dia?" tanya Osman menatap Xavier.


"Terserah! Lakukan sesukamu!" jawab Evan santai sambil membenarkan pakaiannya. Ia mengusap kemejanya yang merah terkena noda darah Xavier.


"Bagaimana ini? Hanna akan curiga kalau melihatnya."


Baru saja Evan menyebutkan nama istrinya, ponsel sudah berdering. Osman melirik layar yang membuat keningnya berkerut.


"Tuan, ini dari Nona Hanna," ucap Osman membuat Evan tersadar. Ia melirik arah jarum jam pada arlojinya. Sudah larut malam, namun ia belum juga kembali padahal ia telah berjanji untuk kembali lebih awal.

__ADS_1


Gawat!


****


__ADS_2