Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Capture 42


__ADS_3

“Kenapa, Nak?” tanya Evan lembut. Tangannya bergerak naik dan turun mengusap rambut dan punggung Star. Sekilas ia melirik penuh tanya kepada Eliya dan Sema. 


Evan bahkan dapat merasakan tubuh Star gemetar, membenamkan wajahnya di dada daddy-nya. Begitu pun dengan Sky yang tampak takut namun sesekali mengintip.


"Di mana saya harus meletakkan ini, Tuan?" tanya Eliya begitu melihat meja dipenuhi dengan mainan.


“Tolong letakkan di meja ujung saja!” Evan menunjuk meja tak jauh darinya. Dua gadis itu pun meletakkan nampan ke meja, lalu berdiri kaku dengan posisi tangan saling meremas. 


“Takut, Daddy,” lirih Star tak berani mengalihkan pandangan. Evan kembali melirik Eliya dan Sema bergantian, sorot matanya seolah menuntut sebuah jawaban. 


“Takut pada siapa? Ayo, Star ... Sky ... Kalian kenapa?” 


Eliya yang menyadari reaksi Star dan Sky sudah memucat. Ia tak berani lagi mengangkat pandangannya. 


Matilah aku! Bagaimana kalau mereka mengadu bahwa selama ini aku tidak pernah bersikap baik terhadap mereka? Tuan Evan pasti akan sangat marah dan mengusirku dari sini. batin Eliya. 


“Tu-Tuan ... Maafkan saya,” ujar Eliya takut-takut. Sebelum Sky dan Star mengeluarkan suara, Eliya memilih mengakui kesalahannya lebih dulu. 


“Minta maaf untuk apa?” Kening Evan berkerut bingung. 


Evan masih menatap penuh tanya. Ia sama sekali tak mengetahui perihal Eliya yang merupakan anak Nyonya Ursula—yang kerap kali terlibat pertengkaran dengan Hanna karena menghina anak-anaknya. Eliya pun menatap Star dan Sky. Raut wajahnya penuh penyesalan. 

__ADS_1


“Untuk semua perbuatan saya selama ini. Saya banyak melakukan kesalahan terhadap Sky dan Star, juga terhadap Nona Hanna. Maafkan saya, Tuan.” 


Setelah mengucapkan kalimat itu, Eliya kembali menunduk. Tanpa dijelaskan lebih, Evan dapat menangkap maksud Eliya. Ya, Eliya pasti salah satu tetangga lama Sky dan Star yang bersikap buruk terhadap mereka, begitu batin Evan menebak. Namun, ia sama sekali tak menunjukkan reaksi berlebihan dan terlihat cukup santai. 


“Tidak apa-apa, kembalilah bekerja. Biar aku yang akan membujuk mereka,” ucapnya diiringi senyum. 


Apa? Tuan Evan tidak marah? Atau sedang menyiapkan sesuatu untuk menghukumku? Eliya bergetar. Ketakutan merasuk semakin dalam ke hatinya. 


“Ba-baik, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf.” Dengan langkah meragu, Eliya dan Sema keluar dari ruangan itu dengan saling dorong satu sama lain. 


Evan lantas mendudukkan Star di sofa bersebelahan dengan Sky dan kemudian berjongkok di hadapannya. Ketakutan yang tadi tersirat di wajah Star perlahan menghilang setelah Eliya keluar. 


“Sudah jangan takut lagi. Bukankah kakak Eliya sudah meminta maaf?” bujuk Evan dengan lembut. “Memangnya kenapa kalian takut dengan kakak Eliya?” 


“Itu Kak Eliya, Daddy?” ucap Sky. “Kakak Eliya itu tetangga kita. Dia sangat galak.” 


“Sudah tidak apa-apa.” Ia memeluk kedua anaknya. “Kalian harus bisa memaafkan Kakak Eliya. Dia kan sudah menyesali perbuatannya. Jadi kalian tidak boleh takut lagi.” 


“Iya, Daddy.” 


“Sekarang kalian makan kebabnya. Paman koki yang gendut itu sudah membuat kebab isi daging kesukaan kalian.” 

__ADS_1


“Yeay ...” Star bersorak kegirangan. “Apa aku boleh makan dua, Daddy?” 


“Sepuluh juga boleh, Sayang.” 


“Daddy, kalau makan kebab setiap hari, aku pasti cepat besar.” 


“Iya, Nak. Makanlah sebanyak yang kalian mau.” 


Tak lama berselang, Osman masuk ke dalam ruangan itu. Menundukkan kepala tanda hormat dan berdiri dalam jarak kurang dari tiga meter di hadapan tuannya. 


“Tuan ...” 


“Ada apa? Aku sedang menikmati kebersamaanku dengan anak-anak. Aku tidak mau diganggu urusan apapun.” 


“Ini tentang Nona Hanna, Tuan.” 


Tatapan berpindah pada pria di hadapannya. “Hanna kenapa?” 


“Nona Hanna pergi dari rumah. Dia bilang mau ke rumah lamanya?” 


“Apa?” Mata Evan melotot tajam.

__ADS_1


****


__ADS_2