Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 132


__ADS_3

“Daddy pulang! Daddy pulang!” Pekik Sky penuh semangat saat mendengar suara mobil terhenti di halaman rumah. 


Dengan tidak sabaran, ia berlari kencang diikuti Star dan beberapa sepupunya yang lain. Begitu pun seluruh penghuni rumah yang juga sudah menanti sejak dua jam lalu. 


Pintu mobil mewah itu terbuka memunculkan sosok Evan dari sana. Osman turun lebih dulu dan menurunkan kursi roda dari bagasi belakang. 


“Hati-hati!” Zian dan Fahri membantu Evan turun dari mobil, hingga duduk di kursi roda. 


Sementara Sky dan Star hanya menatap dari jarak yang tidak begitu jauh, dengan mata berkaca-kaca. Keduanya tampak ragu untuk mendekat, terutama Sky yang sudah hampir menjatuhkan air matanya. Melihat kesedihan dalam tatapan kedua anaknya, Evan pun tersenyum.


“Hey, jagoan, ayo kemari!” Evan merentangkan tangannya meminta Sky mendekat. “Dan kau putri kecilku, kenapa diam di situ?” Mereka masih diam dan saling melirik satu sama lain. 


“Sky ... Star ... Ayo sini.” Hanna memberi isyarat kepada kedua anaknya dengan anggukan kepala.


"Apa daddy masih sakit, Mommy?" lirih Sky mengusap wajahnya yang basah.


"Tidak, Nak! Daddy baik-baik saja. Hanya butuh sedikit istirahat dan Daddy akan sembuh."


"Benar?" Sky masih ragu dan ingin memastikan.


"Iya, Nak. Ayo kemari, apa kalian tidak merindukan daddy?"


Perlahan dua pasang kaki itu melangkah, meski terlihat ragu. Hingga berada tepat di hadapan daddynya, mereka pun memeluk.


"Oh ya, daddy membawa banyak mainan untuk kalian semua. Coba lihat di bagasi mobil." Dan, sudah pasti mainan adalah hal yang dapat mengalihkan perhatian anak-anak dari kesedihannya.


Sky, Star dan beberapa sepupunya dengan cepat mengambil kotak mainan yang memenuhi bagasi mobil. Saling berebut, meskipun begitu tidak ada pertengkaran di antara mereka.


Hari ini seluruh keluarga Azkara berkumpul menyambut Evan yang baru kembali setelah beberapa minggu menjalani perawatan di rumah sakit.


Makan malam bersama dengan menu kesukaan Evan dan juga obrolan hangat yang mewarnai ruang keluarga. Ditambah tawa riang dari anak kecil yang bermain.


"Jadi kalian baru saja membobol toko mainan ya?" cibir Zian mengingat laporan pengiriman satu truk mainan ke yayasan miliknya tadi sore.

__ADS_1


"Bukan aku, tapi Hanna yang melakukannya." Evan melirik Hanna dengan ekor matanya, membuat wanita itu tersipu malu.


"Setidaknya kantongmu tidak akan menjerit. Apa kalian tahu, Naya pernah meminta membeli semua lukisan di sebuah museum terkenal di Barcelona."


Naya mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan suaminya. "Tapi kau kan sangat pelit! Bahkan satu lukisan pun tidak kau belikan!"


"Kau bayangkan saja sendiri satu lukisan harganya setara dengan sebuah rumah mewah. Dan benda itu hanya akan kau pajang dengan penuh kebanggan di dinding kamarmu. Lupakan saja, Nona Kanaya Indira Adiwinata!"


Wanita cantik itu mendengus seraya membenamkan pukulan di dada suaminya.


"Hentikan, Nay! Ini sakit!" Zian mengusap-usap dadanya yang baru saja menjadi sasaran empuk serangan istrinya.


"Kau benar, Nay! Kak Zian memang pelit. Aku sempat dengar kabar, dia mau menutup sebuah perusahaan yang memproduksi lingerie, supaya kau tidak bisa membelinya lagi," sambar dokter Willy tanpa mengindahkan ekspresi kesal kakak ipar mafianya itu.


"Heh, diam kau! Jangan sampai kuminta botak menyapamu ya! Aku masih punya beberapa kenalan mafia kejam yang bisa menculikmu."


"Benarkah?" seloroh Willy dengan raut menantang.


"Valendra Weston!" Zian menyebut satu nama dengan santai, tetapi berhasil membuat seluruh keluarga Azkara merinding disko dibuatnya.


"Aku juga meminta bantuannya untuk menemukan Sky dan Star saat diculik wanita bernama Cleo. Bukankah mafia satu itu sangat kejam?" ucap Zian membuat lelaki yang kerap disapa Wilo itu menelan saliva dengan susah payah.


Ekspresi Willy pun mengundang tawa semua orang. Dokter satu itu adalah satu-satunya pria dewasa di keluarga Azkara yang tidak memiliki bekal kemampuan bela diri. Mungkin, satu-satunya yang dapat ia banggakan adalah bakat playboy dan juga pil setan andalannya.


"Tidak!" sambar Willy secepat kilat. "Lain kali kalau mau culik aku, pakai jasa Botak saja. Aku rasa itu akan lebih baik, nanti kuberi bonus pil setan yang banyak!"


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Hanna baru saja selesai membantu suaminya berganti pakaian dengan piyama. Ia juga sempat membantu mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang suaminya.

__ADS_1


"Apa kau tidak lelah terus merawatku? Kau melakukan semuanya tanpa mengeluh sedikit pun."


"Aku senang melakukannya." Ia membenamkan kecupan sayang di pipi suaminya.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Dengan senang hati," balasnya seraya tersenyum.


Evan terdiam sebentar, lalu menatap wajah Hanna lekat.


"Bagaimana kalau kakiku tidak bisa sembuh?" Sebuah pertanyaan yang membuat senyum di wajah Hanna meredup.


.


.


.


.


.


.


.


.


Valendra Weston adalah tokoh utama di novel


di bawah ini


__ADS_1


kisahnya berbalut misteri, Tegang dan seru.


Apalagi kalau masuk ke rak buku kamuuuuuuhhh iya kamuuuu... 😘😘😘


__ADS_2