
“Aku lama berteman dengannya sebelum tahu bahwa dia adalah istri kak Zian.”
“Maksudnya?” tanya Hanna masih tak mengerti.
“Ceritanya sangat panjang, Sayang.” Evan membelai rambut istrinya.
“Ceritakan padaku. Aku sangat suka mendengar apapun tentang keluargamu.”
Evan tersenyum melihat begitu antusiasnya Hanna. Istrinya itu selalu tertarik dengan apapun yang berhubungan dengan keluarga Azkara.
“Keluarga kita," tukas Evan. "Kau juga sekarang bagian dari kami kan?”
Evan membawa Hanna untuk duduk di kursi. Mereka duduk dengan saling berhadapan.
“Awalnya Kak Zian menikahi Naya secara sembunyi-sembunyi. Dia bahkan tidak memberitahu siapapun termasuk aku dan Kak Fahri. Kak Zian sangat membenci Naya dan sengaja membuatnya hidup menderita. Saat itu Kak Zian menutupi identitasnya dari Naya dan mengaku sebagai seorang montir.”
Raut wajah Hanna mendadak terlihat sedih. Antar percaya dan tidak. “Bagaimana bisa? Kalau di lihat-lihat Kak Zian sangat mencintai Kak Naya. Dia bahkan rela menjadi pengangguran hanya untuk bisa bersama Kak Naya sepanjang waktu.”
“Memang seperti itu awalnya. Kak Zian jatuh cinta pada seorang gadis remaja pemain piano. Suatu hari tanpa sengaja dia menembak gadis itu dan meninggalkannya begitu saja di jalan. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu kembali, tapi Kak Zian tidak lagi mengenali wajah gadis itu. Bahkan dia menikahinya tanpa tahu bahwa Naya adalah gadis yang pernah dia tembak.”
__ADS_1
“Kenapa semenyedihkan itu? Lalu bagaimana kau mengenal Kak Naya?”
“Hari itu aku dan Rafli bermain futsal. Tanpa sengaja aku menendang bola dan tepat mengenai kepalanya. Dia mimisan dan aku membawanya ke rumah sakit. Kami akhirnya berteman dan Naya bekerja di kafe-ku.”
“Apa Kak Naya juga tidak tahu kalau kau adiknya Kak Zian?”
Evan menggeleng. “Karena Kak Zian menutupinya selama satu tahun dan Naya orangnya agak tertutup. Saat itu aku juga tidak tahu kalau dia istri orang."
"Lalu bagaimana kau mengetahuinya?"
"Kami baru mengetahuinya saat Kak Fahri membaca buku catatannya Naya. Saat itu dia sudah sekarat dan Kak Zian baru menyadari bahwa gadis yang dia cari selama tujuh tahun adalah Naya.”
“Tentu saja. Karena itulah dia berjanji akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk Naya. Kau lihat sendiri kan bagaimana posesifnya dia.”
Hanna tertawa kecil mengingat betapa kakak iparnya itu sangat ketat mengawasi istrinya. Bahkan makanan yang dimakan Naya pun harus dengan anjuran seorang ahli gizi. Bahkan Naya demam saja akan membuatnya panik luar biasa.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Hanna.
“Apa yang mau kau tanyakan?”
__ADS_1
Hanna terdiam beberapa saat.
“Kau bilang berteman dengan Kak Naya selama satu tahun tanpa mengetahui bahwa dia istri kakakmu. Apa kau tidak pernah jatuh cinta kepadanya? Dia wanita yang sangat cantik dan baik hati. Keluarga juga sangat mengistimewakannya. Aku merasa dia memiliki sesuatu yang akan membuat semua orang menyukainya. Termasuk aku.”
Evan terpaku. Ia tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan itu. Ingin jujur, namun menjaga perasaaan istrinya akan lebih baik.
“Em ... Sayang ... sepertinya kita harus ke bawah. Tamu-tamu istimewamu mungkin akan datang sebentar lagi. Kita kan harus bersiap-siap.”
Hanna menepuk dahinya. Ia hampir saja lupa dengan sebuah pesta kecil yang sudah dipersiapkan Evan di kafenya. Sebuah pesta perpisahan sebelum mereka kembali ke Indonesia dan hari ini mereka juga akan membagikan makanan secara gratis untuk semua pengunjung.
“Aah, aku hampir lupa. Aku akan bersiap-siap dulu. Di bawah Sky dan Star sudah berada di ruangan khusus anak-anak.”
Hanna mencium pipi suaminya, kemudian dengan penuh semangat beranjak keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Evan yang masih mematung.
Maafkan aku Hanna. Akan lebih baik jika kau tidak tahu apapun tentang masa lalu karena itu akan menyakitimu. Kisahku dan Naya tidak pernah berakhir karena memang kisah itu tidak pernah dimulai. Biarkan saja semua terkubur oleh waktu.
*
*
__ADS_1
*