Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 134


__ADS_3

"Sky, Star ... kenapa kalian belum siap-siap juga. Ayo cepat mandi dan ganti pakaian. Kalian kan harus sekolah pagi ini."


Dengan segala kepolosannya, Sky dan Star saling melirik satu sama lain. "Ini kan hari Minggu, Mommy!" jawab Sky.


"Benarkah?" Hanna kembali tersenyum dengan gugup.


Beberapa minggu belakangan, seluruh waktunya ia curahkan untuk Evan sampai tak lagi mengingat hari. Sedangkan urusan anak-anak sepenuhnya ia berikan kepada pengasuh, yang juga dibantu Elma, Naya dan Elsa.


"Iya, Mommy. Aku akan tinggal di rumah hari ini dan merawat Daddy," ucap Sky penuh semangat yang kemudian melompat ke tempat tidur dan memeluk daddynya.


"Aku juga, Mommy," tambah Star dengan begitu riang.


"Emh, anak-anak Daddy wangi sekali pagi ini." Evan memeluk dan menciumi pipi kedua anaknya bergantian.


"Bajuku bagus kan Daddy!" seru Sky memamerkan kemeja barunya.


"Iya, Nak! Kau terlihat sangat tampan dengan kemeja ini. Celananya juga bagus."


Namun, perhatian Sky seketika tertuju pada satu arah. Dada daddynya terlihat memerah di beberapa bagian. Mendadak senyum merekah itu menghilang, menyisakan wajah murung.


"Apa daddy sedang alergi?" Sebuah pertanyaan polos baru saja lolos dari bibir mungil Sky. Ia mengusap dada daddynya di mana terlihat tanda merah.


"Alergi?" Evan meneliti bagian dadanya dan menemukan sisa lipstik Hanna yang tertinggal di sana.


Bisa gawat ini!


Baru saja Evan akan menjelaskan, sudah terlihat genangan air mata di bola mata putranya. Sepertinya akan ada salah paham pagi ini.


"Rupanya kalian di sini anak-anak. Ibu cari di kamar tidak ada." Melihat pintu kamar yang terbuka lebar, Elma dan Naya langsung saja masuk setelah meyakini sepasang anak kembar itu sedang bertamu ke kamar orang tuanya. "Ayo turun, sudah waktunya sarapan."


"Eh, ada apa? Kenapa Sky sedih?" tanya Naya melihat bola mata keponakannya berkaca-kaca.


Sky terdiam beberapa saat. Hingga tak lama berselang, Fahri dan Zian ikut masuk ke kamar itu. Ini sudah jam sarapan, namun belum ada yang turun ke ruang makan.

__ADS_1


"Kenapa kalian masih berkumpul di sini? Evan apa kau sakit?" Pertanyaan dari Fahri membuat Sky semakin gusar.


Melihat gelagat putranya, Hanna sudah menebak bahwa akan ada kejadian memalukan di pagi yang indah ini.


Sky melirik Elma, satu-satunya orang yang selama ini mampu menjawab pertanyaan apapun. "Ibu, apa alergi itu menular?"


Benar saja, baru saja Hanna ingin meminta anak-anaknya turun dari tempat tidur demi menghindari pembahasan itu, Sky sudah mengajukan sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban.


Elma dan Naya saling melirik dengan kerutan tipis di kening. Jika Sky sudah bertanya tentang alergi, maka mereka harus menyiapkan sebuah jawaban yang masuk akal.


"Alergi itu tidak menular, Nak," jawab Elma.


"Tapi kenapa alergi Mommy bisa menular ke daddy, Ibu."


Evan seketika menarik selimut menutupi dada tel*njangnya. Jika tidak memikirkan Hanna yang mungkin akan malu, ia bisa saja bersikap santai di hadapan saudara-saudaranya. Namun, setelah melihat semburat merah di pipi Hanna, maka akan lebih baik jika ia berusaha menutupinya.


"Kau salah lihat, Sky. Tidak ada merah di badan Daddy!" balas Evan berusaha menyamarkan bekas lipstik di dadanya.


"Tapi tadi aku lihat, di badan Daddy ada merah-merahnya seperti mommy dulu."


Kali ini Sky menatap Hanna dengan mengintimidasi.


"Mommy jangan dekat-dekat dengan Daddy! Alerginya mommy sudah menular," pekik Sky membuat Hanna ingin bersembunyi di dalam kapal Titanic yang telah karam di dasar Samudera Atlantik.


"Ibu Elma, tolong sembuhkan alergi daddyku!" pekik Sky dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Prank! Suara pecahan kaca terdengar memekak, membuat Hanna yang sedang berada di dalam kamar mandi bergegas keluar.


Rasa khawatir seketika menjalar melihat suaminya terduduk di lantai dengan pecahan gelas berserakan di lantai.


"Sayang, ada apa?" Hanna berjongkok di hadapan suaminya, memeriksa tangan dan kaki, khawatir jika ada yang terkena pecahan kaca.


"Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan gelasnya," ucap Evan dengan raut wajah tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kenapa kau tidak menungguku?"


"Aku merasa tidak berguna. Bahkan untuk minum saja harus merepotkanmu. Kau akan lelah menjalani hidup seperti ini." Ucapan Evan bagaikan sayatan belati tajam bagi Hanna. Walau bagaimana pun keadaan suaminya, ia akan menerima.


"Kalau ini terjadi padaku, apa yang akan kau lakukan? Meninggalkanku atau menemaniku menjalaninya?"


"Apa yang kau katakan, Hanna. Tidak akan terjadi apapun terhadapmu."


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" pekik Hanna menatap tajam suaminya.


Sementara Evan masih menunduk. "Kau tahu kan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Kalau begitu biarkan aku menemanimu juga."


"Kau akan menghabiskan seluruh hidupmu dengan orang cacat?"


"Akan kugunakan kekayaanmu sebagai alasan untuk bertahan. Aku akan membeli apapun yang kumau dengan uangmu dan itu akan sangat menyenangkan."


"Bagaimana kalau aku jatuh miskin? Kau tidak punya alasan untuk bertahan lagi."


"Aku mencintaimu. Akan kugunakan itu sebagai bentengku."


"Dan bagaimana kalau keadaan mengikis cintamu?"


"Maka aku akan bertahan tanpa melihat yang lain."


"Kau pasti sudah gila."


"Aku sudah gila dari dulu! Aku pernah menyiram nyonya Ursula dengan air bekas cucian piring dan oli bekas. Aku juga sering mengancam Nyonya Gulsha saat menagih sewa rumah. Bukankah hanya wanita gila yang bisa melakukan semua itu."


Evan terdiam. Ucapan Hanna menciptakan genangan air di bola matanya.


"Kemari, biar aku memeluk wanita gila ini!"

__ADS_1


__ADS_2