Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 45


__ADS_3

“Emm ... Maaf, Nyonya ... Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku akan membereskan barang-barang yang tersisa dan pergi dari rumah itu.” 


“Kenapa, Nona Hanna? Maaf kalau aku salah bicara, kau boleh tinggal di sana sesukamu.” 


“Tidak apa-apa, Nyonya. Aku tidak bisa tinggal di rumah itu kalau kau sudah menjualnya pada orang lain.” 


"Tapi kenapa? Apa seseorang berkata yang bukan-bukan tentangmu? Tidak usah dengarkan mereka. Kau tahu lingkungan di sini memang keras. Mereka akan mengatakan apapun yang buruk tentangmu."


Hanna tidak menyahut lagi. Ia meninggalkan rumah Nyonya Gulsha dengan terburu-buru. Menuju rumah sewa yang dihuninya selama tujuh tahun belakangan. 


Memasuki rumah, pandangan Hanna berkeliling.


Tempat itu lah saksi bisu di mana dirinya menerima hinaan demi hinaan. Menjalani kehamilan seorang diri, merasakan sakitnya melahirkan sepasang anak kembar tanpa didampingi siapapun. Berjuang seorang diri membesarkan Sky dan Star dalam lingkungan yang keras. 


Ia bukanlah wanita yang kuat, keputusasaan seolah meremukkannya.


"Aku harus ke mana sekarang. Dia membeli rumah ini dari Nyonya Ursula dan orang-orang akan berpikir aku yang memanfaatkannya."


Duduk di sebuah kursi, Hanna mengeluarkan sebuah amplop dari saku kardigan rajutnya. Sebuah amplop berisi hasil tes DNA Sky dan Star yang dilakukan Evan dengan diam-diam. Hanna tak sengaja menemukan saat mencari Sky yang tadi bersembunyi di dalam kamar Evan. 


“Bahkan dia membutuhkan ini untuk meyakinkan bahwa Sky dan Star adalah anaknya.” 


_

__ADS_1


_


_


Senja sudah berganti petang ketika sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gang kecil. Evan turun dari mobil ketika Osman membukakan pintu. 


“Aku akan masuk dan bicara dengan Hanna.” 


“Baik, Tuan.” 


Evan melangkah melewati gang sempit itu, sementara Osman berjalan di belakangnya.


Tiba di ujung gang, Evan menatap rumah itu. Lampu yang menyala walaupun redup meyakinkannya bahwa Hanna ada di dalam sana.


Hening! Tak ada sahutan apapun.


"Hanna, tolong buka pintunya. Mari kita bicara."


Evan mengusap wajah kasar, ia terus memanggil namun tak kunjung mendapat sahutan.


Laki-laki itu menoleh pada Osman yang berdiri tak jauh dari rumah. Sudah ada banyak tetangga pula yang berdiri di belakang Osman, termasuk Nyonya Ursula, Nyonya Gulsha, Nenek Laura dan beberapa orang lain lagi.


"Ada apa, Tuan?" tanya Nenek Laura kepada Osman.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nyonya. Maaf untuk keributan ini. Kami kemari hanya untuk menjemput Nona Hanna."


"Hanna? Dia ada di dalam?"


"Iya, Nyonya." Kemudian melirik Nyonya Gulsha yang berada di antara barisan tetangga. "Nyonya Gul, apa Anda punya kunci cadangan rumah ini? Saya bisa saja mendobrak pintunya, tapi Nona Hanna pasti akan marah."


"Sepertinya ada di rumah. Sebentar saya akan mencari kunci cadangannya."


"Baik, Nyonya ... terima kasih," jawab Osman menganggukkan kepala.


Secepat kilat, Nyonya Gulsha kembali ke rumah dna mencari kunci. Ia kembali kurang dari sepuluh menit dengan membawa banyak kunci.


"Ini, Tuan. Saya tidak tahu yang mana kuncinya, tapi coba saja karena salah satunya pasti cocok."


"Terima kasih, Nyonya."


Osman pun beranjak menuju pintu. Evan menggeser posisi berdirinya, sehingga Osman mencoba satu persatu kunci yang diberikan Nyonya Gulsha.


Pintu terbuka!


Evan beranjak masuk, sementara Osman dan para tetangga lain menunggu di luar.


Di dalam, suasana tampak tenang dan sunyi. Hanya ada suara isak tangis yang berasal dari balik tirai.

__ADS_1


****


__ADS_2