Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 43


__ADS_3

"Ada apa, Daddy?" tanya Sky menatap penuh tanya kepada daddy-nya.


Evan menatapnya dengan mengukir senyum. Ia belai puncak kepala putranya lembut. "Tidak ada apa-apa, Nak. Lanjutkan makannya, ya."


Evan dan Osman pun saling tatap satu sama lain. Kemudian memilih duduk di sebuah kursi di sudut ruangan yang dibatasi oleh dinding. Dari sana, anak-anak tidak dapat mendengar isi pembicaraan mereka.


"Apa maksudmu Hanna pergi? Apa ada masalah sampai dia meninggalkan rumah?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Nona Hanna tidak mengatakan apapun."


"Dan kau tidak cegah dia?"


"Saya sudah berusaha mencegahnya. Tapi ... Anda kan tahu bagaimana kerasnya Nona Hanna. Dia tidak akan mendengarkan saya, meskipun saya berusaha mencegahnya."


"Tapi itu bukan lingkungan yang baik untuk Hanna, Osman. Di lingkungan itu Hanna hanya mendapatkan hinaan dan cacian dari orang-orang." Evan semakin frustrasi, ia memijat pelipis sebelah kanannya. Entah dengan cara apa meluluhkan Hanna. "Apa Hanna mengatakan sesuatu sebelum pergi?"


"Tidak, Tuan. Nona Hanna hanya bilang tidak layak ada di rumah dan memilih kembali ke rumah lamanya. Dia hanya menitipkan Nona Star dan Tuan Muda Sky."


Evan teringat kebersamaannya beberapa hari belakangan. Sikap Hanna sangat dingin, bahkan tidak ada celah bagi Evan untuk membangun hubungan baru dengannya.


"Tuan, apa saya minta orang menjemput paksa Nona Hanna saja?"


"Tidak, Osman! Jangan! Hanna akan semakin marah. Dia tidak suka dipaksa. Aku yang akan membujuknya."


_


_

__ADS_1


_


Di sisi lain, Hanna baru saja tiba di pemukiman itu.


Saat akan melewati sebuah gang sempit, tampak Nyonya Ursula sedang duduk di meja kasir tokonya. Sontak wanita itu berdiri saat menyadari siapa yang baru melewati tokonya.


"Ha-Hanna Ca-bre-ra ..." Bola mata Nyonya Ursula melotot hingga hampir keluar dari tempatnya.


Ia meneliti dari jarak aman. Memperhatikan Hanna yang penampilannya tidak berubah. Masih sama seperti kesehariannya dulu.


"Hanna Cabrera!" panggil Nyonya Ursula membuat Hanna menoleh ke sumber suara.


Hanna memutar bola mata dengan malas. Aroma permusuhan masih begitu pekat di antara meraka.


"Hanna, apa kabar? Senang bertemu denganmu lagi." Ia meneliti Hanna dari ujung kaki ke ujung kepala. Sorot matanya menyiratkan keingintahuan yang menggebu.


Nyonya Ursula tertawa kecil, ia terlihat meragu. "Kau ini sangat suka bercanda, Hanna."


"Apa yang kau inginkan dariku, Nyonya Ursula? Tidak biasanya kau seramah ini padaku."


"Emh ... Sepertinya aku harus meminta maaf untuk sikapku selama ini. Mulai sekarang kita bisa menjadi teman dan tetangga yang baik, kan?"


Hanna melirik wanita itu dengan ekor mata. Gelagat Nyonya Ursula sangatlah aneh baginya. Ia yang biasanya memaki dan menghina tiba-tiba menjadi ramah.


"Oh, ya ... aku dengar kau tinggal di rumah Tuan Azkara. Apa itu benar?"


"Mulai hari ini tidak lagi. Jadi kita akan kembali menjadi tetangga."

__ADS_1


"A-apa? Kau akan tinggal di sini lagi? Wah aku senang sekali kalau begitu, kita akan bertetangga lagi, Hanna." Ia mengusap-usah lengan Hanna, seolah mereka adalah tetangga yang tidak pernah terlibat pertengkaran.


"Ngomong-ngomong kemana Nyonya Ursula yang senang menghinaku dan anak-anakku. Kenapa aku merasa kau sangat berbeda hari ini?"


Senyum di wajah Nyonya Ursula seketika meredup mendengar ucapan Hanna. Jika saja tidak mengkhawatirkan nasibnya, ia pasti sudah memaki Hanna habis-habisan.


"Emh, aku minta maaf untuk itu Hanna. Aku menyadari kesalahanku. Tolong jangan adukan aku pada Tuan Azkara. Kalau tidak, dia akan memecat Eliya."


Merasa kesal, Hanna menatap Nyonya Ursula. "Jadi kau bersikap baik padaku hanya karena Tuan Azkara itu, ya?"


"Bukan begitu, Hanna. Aku hanya--"


"Nyonya Ursula ... Aku tidak ada urusan dengan dia mau memecat anakmu atau tidak. Jadi kalau kau bersikap baik padaku hanya demi anakmu, maka lupakan saja!"


"Tapi bukankah, kau adalah ibu dari anak-anaknya, kau pasti bisa meminta apapun darinya kan? Oh ya, kau beruntung sekali bisa mendapatkan Tuan kaya raya sepertinya."


"Kau mau bilang aku yang merayunya sampai punya anak kan?"


Hah, bagaimana dia bisa tahu apa yang kupikirkan?


"Ti-dak, Hanna, bukan begitu."


"Sudahlah Nyonya. Tidak usah berpura-pura. Aku tahu apa yang kau dan semua orang pikirkan tentangku. Jadi tidak usah berpura-pura baik."


Setelah Hanna mengucapkan kalimat itu, ia pergi menjauh meninggalkan Nyonya Ursula. Membuat wanita itu menebak-nebak dalam hati.


"Ya ampun, dia akan tinggal di sini lagi? Apa Tuan Azkara mengambil anaknya dan mengusir Hanna Cabrera?"

__ADS_1


****


__ADS_2