Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 107


__ADS_3

“Aku merasa seperti sedang diinterogasi oleh jaksa penuntut umum.” Evan mengusap tengkuknya yang terasa meremang. Tatapan Hanna sangat mengitimidasinya. 


“Aku hanya perlu tahu kau dari mana? Kau habis menghajar siapa tadi, Xavier?” 


Evan menghela napas panjang. Mengutuk mulut dan otaknya yang begitu sulit untuk bekerja sama. Bahkan untuk berbohong pun terasa sangat sulit. 


“Maaf,” ucapnya pelan. “Aku memang habis menghajar Xavier. Aku rasa dia perlu dihukum. Dia bisa saja melakukannya pada wanita lain kan. Bukan hanya padamu saja.” 


“Tapi yang kau lakukan itu melanggar hukum. Bagaimana kalau dia melaporkanmu ke polisi?” 


“Hadapi saja,” jawab Evan santai, membuat mata Hanna menatapnya dengan kerutan di kedua alisnya. 


“Tapi kan sekarang kau sedang menghadapi banyak masalah. Belum lagi kasus keracunan anaknya Nona Aysel. Ini hanya akan memperkeruh keadaan.” 


Evan tersenyum, Kemudian membelai puncak kepala sang istri. “Tenang saja, Sayang. Dia tidak akan berani macam-macam lagi. Aku hanya memberinya sedikit pelajaran, bukan membunuhnya.” 


“Tapi aku jadi sangat takut. Kau tidak tahu siapa Tuan Xavier itu. Dia memiliki banyak teman mafia.” 


Memangnya kau tidak tahu kalau kakakku mantan bos mafia? ucap Evan dalam batin sambil tertawa kecil. 


“Tidak apa-apa, Sayang. Jangan berpikir yang macam-macam. Lihat, wajahmu jadi sangat pucat.” 


“Kau yang membuatku takut. Lagi pula sejak kapan kau suka berkelahi?” 


“Iya, maaf. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dulu aku sering menghinamu dengan alasan yang bodoh. Sekarang aku tahu bagaimana sakitnya saat orang yang dicintai dihina atau bahkan dilecehkan seseorang. Aku merasa sangat marah sampai mau membunuh orang itu.” 


“Tapi tidak perlu sampai seperti ini. Aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang. Aku punya Sky dan Star. Aku juga memilikimu. Aku tidak butuh yang lain lagi.” 

__ADS_1


Evan mengusap puncak kepala sang istri dengan penuh kelembutan. Kemudian teringat hal paling penting yang ingin diberitahukannya kepada Hanna. 


“Oh ya ... Aysel sudah  tahu semua, tentang makhluk bodoh bernama Xavier yang sudah memfitnahmu. Xavier mengaku di hadapannya.” 


“Benarkah?” Kelopak mata Hanna kembali melebar. 


“Iya. Dia meminta maaf atas kesalahannya. Besok dia akan melakukan klarifikasi di media dan membersihkan namamu. Jadi setelah itu tidak akan ada lagi orang yang berani menghinamu.” 


Evan merengkuh tubuh istrinya. Sementara Hanna membenamkan wajahnya di ceruk leher yang menjadi wilayah favoritnya. Ia selalu merasa damai saat bersandar di sana.


Antara kesal dan terharu. Kesal karena Evan sampai menghajar seseorang demi dirinya dan terharu karena belum pernah sebelumnya ia merasa dicintai seperti sekarang. 


“Terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku.” 


"Sama-sama, Sayang. Aku hanya menebus kesalahanku dan itu tidak akan pernah cukup."


"Karena kau sudah berbaik hati padaku, maka aku akan menebusnya dengan sesuatu yang menyenangkan," ucap Hanna dengan menggoda, membuat Evan tersenyum senang.


"Baiklah, kalau begitu aku matikan dulu ponselku ... matikan juga ponselmu, ya! Jangan sampai kedua anakmu melakukan panggilan video lagi hanya untuk mengucapkan selamat malam dan itu akan mengganggu kita."


Evan mematikan ponselnya dan juga ponsel milik Hanna. Tersenyum puas lalu memasukkan kedua benda pipih itu ke laci meja.


Semua gangguan sudah disingkirkan. Saatnya bagi Evan untuk menerkam istrinya di tempat tidur. Malam panjang akan segera dimulai.


"Tumben kau tidak memakai pakaian renda-rendamu," protesnya sambil membuka satu-persatu kancing piyama yang digunakan Hanna.


"Aku sedang malas menggunakannya. Besok malam aku akan memakainya lagi."

__ADS_1


"Tidak juga tidak apa-apa. Kau tetap menggoda walaupun tanpa pakaian itu."


Evan membenamkan ciuman di kening, bibir, bagian leher dan belahan buah semangka. Menyesap aroma lembut dari tubuh istrinya, yang selalu membangkitkan semangatnya.


Tiba-tiba ...


Tok Tok Tok!


Suara pintu yang diketuk membuat Evan terlonjak. Kepalanya mendongak dan menatap pintu dengan kesal.


"Siapa itu, mengganggu sekali. Apa dia tidak tahu kalau ini sudah jam tidur?"


Hanna terkekeh melihat ekspresi sang suami yang baginya sangat lucu.


"Buka saja, siapa tahu penting."


"Urusan penting apa malam-malam begini saat semua orang sudah tidur."


"Entahlah. Mungkin Osman."


"Kalau itu benar dia, maka aku akan memecatnya."


Evan bangkit dan menggerutu sepanjang jalan menuju pintu. Mengumpati dalam hati siapapun yang telah menghalangi rencana indahnya.


Ia memutar gagang pintu dengan sangat kesal. Baru saja mulutnya terbuka untuk memaki, namun keterkejutannya mengalahkan rasa kesal yang sempat memenuhi pikirannya, saat menatap dua orang yang berada di ambang pintu.


"Selamat malam, Daddy!"

__ADS_1


***


__ADS_2