
Sebuah villa nyaman dan mewah sudah tersedia sesuai dengan keinginan Evan. Villa yang cukup berjarak dengan bangunan lainnya. Bagian dalam villa sangat nyaman, bersih dan terawat dengan pemandangan danau hijau di bagian belakang.
Evan membaringkan Hanna di sebuah pembaringan Empuk. Membalut tubuh wanita itu dengan selimut. Sepertinya Hanna sangat lelah hingga tak terbangun sepanjang jalan, bahkan saat Evan menggendongnya masuk ke dalam villa.
Ia duduk di bibir tempat tidur. Mematikan lampu utama dan menyalakan satu lampu tidur hingga pencahayaan meredup. Evan terdiam menatap lekat wajah damai Hanna, membelainya dengan kelembutan.
“Maafkan aku, Hanna. Semua keadaan menyakitkan yang kau alami adalah hasil perbuatanku.”
Ia berjalan keluar kamar, Osman berada di balik pintu menunggunya. Mereka menuju sebuah sofa panjang yang berada di dekat jendela besar. Menghempas tubuh lelahnya di sana.
“Bagaimana anak-anak?”
“Mereka baik-baik saja. Para pengasuhnya bilang, tadi Nona kecil mencari Nona Hanna. Tapi sekarang mereka sudah tidur.”
“Apa Star menangis?”
“Tidak, Tuan. Hanya mencari. Tapi setelah dijelaskan mereka mengerti.”
__ADS_1
“Baiklah. Besok bawa mereka ke mari. Hanna dan anak-anak akan tinggal di sini dulu.”
Evan merenggangkan dasi yang melilit kerah kemejanya, menggulung ujung lengan kemeja hingga batas siku dan menyandarkan kepala. Laki-laki itu belum dapat meredam kemarahannya setelah mengetahui apa yang dilakukan para pelayan yang bekerja di rumahnya kepada Hanna.
“Hari ini cukup melelahkan.”
“Ya. Semoga setelah kejadian hari ini semuanya membaik.”
Tak berselang lama, dua orang pelayan wanita datang dengan membawa beberapa makanan dan minuman yang tadi dipesan Osman. Evan hanya meraih secangkir teh melati hangat dan menyeruputnya.
“Tidak ada.”
Sebuah jawaban singkat yang membuat Osman terperangah. Apa maksudnya tidak ada rencana? “Bukankah Anda harus secepatnya membereskan kekacauan ini? Membawa Nona Hanna dan anak-anak pindah dari kota ini dan menikah?”
“Kau pikir ini dunia novel yang segalanya semudah membalikkan telapak tangan?” kesal Evan meletakkan cangkir teh. “Ada banyak hal yang masih harus aku selesaikan lebih dulu. Berkas kepindahan kota saja lumayan memakan waktu apalagi pindah negara. Selain itu rumah sakit Amasya masih membutuhkan tenagaku, dan aku tidak boleh pergi begitu saja. Biar aku selesaikan semuanya dulu.”
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
“Sambil menunggu, Star akan menjalani terapi untuk bisa berjalan normal kembali. Hanna dan anak-anak akan aman di sini untuk sementara waktu.”
“Kalau begitu menikah saja dulu.” Ucapan polos Osman membuat Evan melayangkan tatapan menikam, membuat laki-laki itu meraba leher bagian belakang. Reaksi tuannya memang susah ditebak.
“Aku tidak mungkin menikah tanpa saudara-saudaraku, kan? Selain itu aku harus bersiap menghadapi kemarahan Kak Zian dan Kak Fahri kalau mereka tahu aku habis menghamili anak orang.”
Glek!
Osman menarik napas sambil mengangguk. Jika Evan sudah menyebut kata keluarga, Osman pun akan ikut merinding.
“Ngomong-ngomong ... Apa Anda masih membutuhkan sesuatu yang lain?” Bermaksud mengalihkan pembicaraan tentang keluarga besar Azkara. Lebih baik membahas sesuatu yang lain.
“Untuk sementara jangan sampai Kak Zian dan Kak Fahri tahu apa yang sudah kulakukan. Aku akan menjelaskannya sendiri nanti.”
Glek! Osman menelan saliva dengan susah payah.
****
__ADS_1