
Pembicaraan dengan Nyonya Ursula yang selalu berujung pada pertengkaran membuat Hanna merasa akan gila jika berlama-lama dengan wanita itu. Sejak awal Hanna tinggal di sana, wanita itu hampir tidak pernah memperlakukannya dengan baik.
Menghinanya sesuka hati, bahkan juga menghina anak-anaknya.
“Dasar wanita gila. Sekarang saja pura-pura mau menjadi tetangga yang baik,” gerutunya mempercepat langkah. “Kau pikir semua penghinaanmu selama ini bisa terlupakan dengan permintaan maaf saja? Itu pun karena ayah dari anak-anakku adalah bosnya anakmu. Seandainya ayah anakku hanya orang biasa apa kau tetap akan berbuat baik padaku?”
Langkah kaki Hanna terhenti saat telah berada di depan pintu. Ia teringat kepada sang pemilik rumah.
“Nyonya Gulsha pasti akan mengusirku kalau tidak membayar sewa dua bulan kemarin.”
Ia meraba saku pakaiannya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menghitungnya.
“Ini masih sangat banyak kurangnya.” Hanna memasukkan kembali lembaran uang itu ke dalam saku, lalu bergegas beranjak menuju rumah Nyonya Gulsha yang berada tak jauh dari rumah Nyonya Ursula.
Ia harus menyiapkan mental untuk bertengkar bahkan mengancam wanita bertubuh gemuk itu agar mengizinkannya tetap tinggal di rumah itu.
Baru mengetuk beberapa kali, Nyonya Gulsha sudah membukakan pintu. Ia tampak terkejut menyadari siapa yang ada di ambang pintu.
“Nona Hanna Azkara. Kau kemari?” ucap Nyonya Gulsha dengan senyum lebar. “Ya ampun ... Silahkan masuk, Nona.”
Nona Hanna Azkara? Apa dia sudah gila? tanya Hanna dalam batin.
Nyonya Gulsha menarik lengan Hanna dengan sedikit memaksa, ia menyambut dengan ramah layaknya seorang tamu kehormatan di sebuah kerajaan.
“Silakan duduk dulu, Nona. Aku akan membuatkan teh manis, karena kita akan mengobrol dulu. Sebentar, ya ...”
__ADS_1
Merinding! Mungkin itulah yang dirasakan Hanna. Bahkan ia merasa geli dengan panggilan Nona Hanna Azkara yang disematkan Nyonya Gulsha untuknya.
Belum lagi sikapnya yang sangat berbeda 180 derajat. Hanna sampai bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan wanita yang biasanya suka memaki itu.
“Tidak usah repot-repot, Nyonya. Aku kemari hanya untuk membuat kesepakatan denganmu.”
“Apa, membuat kesepakatan?” Nyonya Gulsha tampak bingung.
“Iya. Aku akan menyewa rumahmu lagi jika kau mengizinkan."
"Menyewa rumahku??"
"Iya." Hanna menatap wanita itu dengan keraguan.
"Tapi Nyonya ... sekarang aku belum punya uang untuk membayarmu. Kalau kau tidak mengizinkan ... Maka aku terpaksa membongkar perselingkuhanmu dengan Tuan Omar dan kau akan menjadi janda tua karena suamimu akan menceraikanmu.”
Meskipun Hanna mengucapkannya dengan nada lembut dan sopan, tetapi mampu membuat seluruh tubuh Nyonya Gulsha meremang. Wanita itu hanya dapat meraba tengkuknya saat merasa udara tiba-tiba menjadi dingin dan menusuk ke tulang.
ini bukan membuat kesepakatan tapi mengancam. gerutu Nyonya Gulsha. Ia mengukir senyum getir di sudut bibirnya.
“Nona Hanna ... Sepertinya kau tidak perlu menggunakan ancaman itu lagi. Kau juga tidak perlu menyewa rumah itu lagi?”
Mata Hanna menyala menyiratkan sebuah ancaman. Seolah tatapan itu mampu menenggelamkan Nyonya Gulsha di palung bumi terdalam. “Kau tidak akan mengizinkanku menyewa rumahmu lagi?”
“Bukan tidak mengizinkan, Nona Hanna. Tapi rumah itu sudah menjadi milikmu.”
__ADS_1
Alis Hanna saling bertaut membentuk busur panah. Dalam hati bertanya bagaimana rumah itu bisa menjadi miliknya.
“Apa maksudmu, Nyonya Gulsha?”
“Rumah itu sudah dibeli oleh Tuan Azkara beberapa waktu lalu. Jadi kau boleh menempatinya kapan kau kau mau."
"Apa? Dia membeli rumahmu?”
“Iya. Dia juga membeli beberapa rumah di sekitarnya. Oh, Nona Hanna ... Kau sangat beruntung memilikinya. Bukankah dia sangat kaya dan tampan?”
Nyonya Gulsha mengatupkan tangan di depan dada. Wajahnya berbinar menebak dalam benak seberapa banyak jumlah kekayaan Tuan Azkara.
"Oh ya, ngomong-ngomong ... bukankah kau sudah tinggal di istana Tuan Azkara? Lalu kenapa kau mau tinggal di rumah itu lagi?”
"Aku sudah keluar dari rumahnya, Nyonya."
"Kau keluar dari rumahnya? Tapi kenapa?"
"Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya."
Nyonya Gulsha menggeser posisi duduknya mendekat pada Hanna. "Ngomong-ngomong ada sesuatu yang membuatku penasaran. Orang-orang bilang, kalian punya anak tanpa pernikahan. Bagaimana itu bisa terjadi?"
Hanna membungkam. Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.
*****
__ADS_1