
Keluarga adalah rumah tempat untuk pulang saat lelah dan tempat berlindung paling aman. Keluarga adalah yang selalu menerima, tanpa peduli seburuk apapun seseorang. Keluarga adalah tempat untuk menanam kasih sayang yang sesungguhnya.
Hanna Cabrera mungkin merasa beruntung berada di tengah-tengah keluarga Azkara. Karena sebelumnya, ia tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang keluarga sejak kecil. Kerasnya kehidupan telah membentuknya menjadi seseorang wanita yang tegar.
Pandangan Hanna berkeliling, menatap anggota keluarga barunya satu persatu. Mereka masing-masing memiliki karakter yang jauh berbeda, tetapi sangat saling menyayangi. Terutama Fahri, sosok hangat dan penyayang tetapi sangat disiplin. Ia mulai penasaran bagaimana Elma dan Fahri bertemu.
“Kak Elma ... Bagaimana Kak Elma menikah dengan Kak Fahri?” tanyanya.
Hanna sangat mengagumi kakak iparnya itu. Elma merupakan menantu tertua di keluarga Azkara. Ia juga seorang dokter ahli bedah.
“Ceritanya sangat panjang, Hanna. Aku mengenal Fahri saat kami merawat Naya bersama,” jawab Elma teringat awal pertemuannya dengan Fahri.
“Kak Naya?” Hanna tampak semakin antusias. Membicarakan tentang keluarga Azkara selalu menjadi hal yang paling menyenangkan baginya. Mereka memiliki keterikatan satu sama lain.
“Iya. Naya adalah pasienku. Dia yang mengenalkan aku dengan Fahri.” Elma tertawa kecil saat mengingat pertemuan pertama dengan suaminya itu. “Awalnya aku tidak menyukainya. Dia kaku dan sangat menyebalkan. Tapi lama kelamaan aku mulai mengaguminya. Aku melihat sesuatu yang berbeda darinya.”
“Dan akhirnya kalian berpacaran?” Hanna tampak sangat penasaran.
“Sayangnya tidak.”
“Kenapa?” tanya Hanna dengan alis berkerut.
“Aku membutuhkan waktu yang sangat lama untuk meyakinkannya bahwa aku adalah pilihan terbaik. Dia itu laki-laki yang sangat dingin terhadap semua wanita. Sedingin gunung es.”
Hanna terkekeh. Ia semakin penasaran dengan masa lalu kakak iparnya. Sebab setahunya, Fahri adalah sosok yang sangat hangat dan penyayang. “Lalu bagaimana Kak Elma mencairkan gunung es itu?”
“Aku berhasil mendekati salah satu adiknya, yaitu suamimu.”
__ADS_1
“Kenapa dengan Evan, Kak?” Melihat eratnya kebersamaan di keluarga Azkara Hanna menjadi sangat penasaran dengan masa lalu suaminya.
"Dia bilang kalau aku bisa mendekati Evan, maka dia memilihku. Saat itu Evan masih remaja. Usianya 14 tahun ketika pertama kali aku mengenalnya. Dia adalah anak yang sangat tertutup, mudah marah dan tidak suka berinteraksi dengan orang baru. Kau sudah tahu kan, cerita tentang Elsa yang hilang saat kecil dan baru ditemukan saat dewasa?”
Hanna mengangguk. Sebelumnya, Elsa telah menceritakan masa lalunya yang terpisah dengan keluarga di usia delapan tahun.
“Evan mengalami depresi karena merasa paling bersalah atas hilangnya Elsa dan menjadi penyebab kematian ibu. Dia kadang menyakiti dirinya sendiri. Puncaknya adalah saat dia mengalami overdosis karena penggunaan obat-obatan terlarang. Evan juga pernah berniat mengakhiri hidupnya saat menjalani rehabilitasi.”
Hanna terhenyak. Ia belum pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya.
"Evan pernah menjadi pecandu?"
Elma mengangguk. "Iya. Karena itu lah setiap kali mereka bertemu, Evan selalu menegaskan kepada kakaknya, bahwa dirinya terbebas dari alkohol dan obat-obatan terlarang."
Hanna lagi-lagi terkekeh. Ia ingat betul saat pertama kali bertemu Fahri dan Zian di Amasya.
“Berarti Kak Elma sangat dekat dengan Evan?"
"Sangat dekat. Dia menceritakan semua rahasianya padaku yang tidak berani dia katakan pada kakaknya."
"Apa termasuk gadis yang dekat dengannya?”
“Evan belum pernah berpacaran sebelumnya, Hanna. Kau wanita yang sangat beruntung.”
“Apa dia belum pernah menyukai seorang gadis?”
Elma seketika terdiam, yang mana membuat Hanna menebak-nebak dalam benaknya.
__ADS_1
“Em ... sudahlah Hanna. Pernah atau tidak, sekarang Evan adalah milikmu. Maka berbahagialah.”
Hanna mengangguk seraya tersenyum. "Terima kasih, Kak."
***
Makan malam selesai, kini waktunya mereka mengabadikan malam spesial itu dengan berfoto bersama.
Seluruh keluarga sudah berkumpul dalam satu tempat.
"Evan apa yang kau lakukan di sana, ayo cepat kemari!" ucap Elma ketika Evan masih duduk di kursi dengan memainkan ponselnya.
"Iya, Kak. Sebentar!" Evan meletakkan ponsel ke atas meja, lalu berjalan mendekat.
"Berdirilah di dekat Hanna!" ujar Fahri menunjuk tempat kosong di sisi Hanna.
Sky seketika berdiri menghalangi langkah Evan, sementara Star memeluk mommy-nya.
"Tidak boleh! Daddy tidak boleh dekat-dekat dengan mommy!" pekik Sky merentangkan tangan seolah menjadi tameng bagi mommynya.
Perhatian semua orang pun tertuju pada Sky dan Star.
"Kenapa tidak boleh, Sky?" tanya Evan menatap Sky penuh tanya.
"Pokoknya tidak boleh. Tadi kan Daddy bilang mau menghukum mommy di kamar! Daddy tidak boleh menghukum mommy!"
Evan dan Hanna saling melempar pandangan, tak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya.
__ADS_1
****