Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 47


__ADS_3

Menangis adalah respons alami manusia untuk meluapkan segala bentuk emosi. Kesedihan, kekecewaan, amarah, frustrasi. Tak hanya itu, bentuk kebahagian pun terkadang diuapkan dalam tangisan. Menangis menjadi salah satu mekanisme terbaik untuk menenangkan diri. 


Hanna sudah menjadi lebih tenang setelah melepaskan beban yang menghimpit pundaknya selama ini. Tangisnya mulai terhenti menyisakan suara sesegukan. Sementara Evan masih mengusap rambut dan punggungnya. Sesekali membenamkan kecupan lembut di kening. 


“Kau tahu ... Kau adalah wanita yang luar biasa. Siapapun yang mendapatkanmu adalah laki-laki yang beruntung. Aku tahu berada di posisimu serba salah. Kau mengandung tanpa seorang suami. Kau tetap mempertahankan mereka tumbuh di rahimmu, di saat sebagian wanita lain memilih menggugurkan --walaupun dunia mungkin akan menghakimimu. Kau melahirkan dan merawat mereka seorang diri ... dan itu tidak mudah. Kau dipaksa keadaan untuk menjadi seorang wanita yang kuat dan dewasa, walaupun kau sebenarnya rapuh. Dan kau menutupi semua kelemahan itu dengan baik. Menjadikan Sky dan Star anak-anak yang luar biasa.” 


Hanna terdiam, menyesap aroma tubuh laki-laki itu. Ia larut dalam pelukan Evan untuk pertama kalinya. Memejamkan mata sesaat, meresapi kehangatan yang menjalar saat kepalanya bersandar di dada laki-laki itu hingga dapat mendengar detak jantungnya dengan jelas.


Cairan bening itu menetes lagi tanpa dapat dibendung. Evan mengeratkan pelukan, menciumi keningnya berulang-ulang. 


“Maafkan aku ... Aku mencintaimu ... Aku mencintaimu ... Aku mencintaimu ... .” Tiga kali Evan membisikkan kalimat itu di telinga Hanna. 


Hingga rasa hangat dan damai itu mulai merasuk, Mata Hanna pun terpejam lagi dengan sendirinya. Melepas rasa lelah yang membelenggunya. 

__ADS_1


Osman masih tetap setia di depan pintu yang terbuka. Beberapa tetangga pun masih di sana, sebagian tetap tinggal karena penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, sebagian lagi ingin meminta maaf secara langsung. 


Tak berselang lama, Evan keluar dengan membawa Hanna di dalam pelukannya. Menggendongnya menuruni tiga anak tangga yang berada di depan teras kecil. Hanna tampak bersandar di dada Evan dengan mata terpejam. Menangis berjam-jam membuatnya lelah dan tidur dengan pulas.   


“Tolong beri jalan, Nyonya!” Osman melangkah lebih dulu menerobos beberapa orang yang memadati gang kecil itu, hingga mereka menggeser posisi ke tepi. Evan berjalan di belakangnya dengan menggendong Hanna. Sementara beberapa orang mengekor di belakang hingga di ujung gang. 


“Silahkan, Tuan.” Osman membuka pintu mobil belakang, kemudian melirik beberapa tetangga. “Tuan dan Nyonya, saya rasa semua sudah jelas malam ini. Tolong jangan ada berita miring atau dugaan buruk lagi tentang Nona Hanna. Jika itu terjadi, Tuan Azkara pasti akan bertindak.” 


“Baik, Tuan,” jawab beberapa orang.


Mobil pun melaju meninggalkan pemukiman itu. Sesekali Osman melirik ke belakang. Evan menyandarkan punggung sambil membelai wajah Hanna yang tidur di pangkuannya. Ia melepaskan jas dan membalut tubuh Hanna. Udara Kota Amasya cukup dingin malam itu. 


“Kita langsung pulang ke rumah, Tuan?” 

__ADS_1


Evan terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu menjawab, 


“Jangan!” 


“Lalu ke mana?” Sambil memperhatikan jalan di depannya, ia sesekali melirik ke belakang. 


“Cari sebuah vila yang bersih dan nyaman dengan fasilitas lengkap. Sebelum Hanna kembali ke rumah, mungkin kau perlu mendisiplinkan para pelayan.” 


“Baik, Tuan. Saya akan membereskan masalah ini secepatnya.” 


Osman menepikan mobil, mengeluarkan ponsel dari saku jas. Menghubungi seseorang. 


“Siapkan sebuah villa eksklusif untuk Tuan Azkara! Iya, sekarang juga. Terima kasih.” 

__ADS_1


****


__ADS_2