Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 36


__ADS_3

Kebahagiaan sedang menjadi milik sepasang anak kembar Sky dan Star. Terbangun di sebuah kamar yang bagi mereka seperti sebuah istana adalah mimpi yang menjadi sebuah kenyataan. Dan bagai hadiah dari Tuhan, daddy mereka kembali. Keadaan Star pun sudah membaik, jarum infus sudah dilepas. 


Star duduk di sebuah kursi, dengan penuh semangat menunjukkan dress cantik yang membalut tubuhnya, bukan lagi pakaian lusuh seperti biasanya. 


“Mommy, ini bajunya bagus ya ...”


“Iya, sayang. Kau terlihat seperti putri dalam negeri dongeng.” 


Gadis kecil itu mengusap gaunnya dengan senyum bahagia. “Apa daddy punya banyak uang, Mommy? Daddy membeli banyak boneka dan baju yang bagus.”


Hanna menyahut dengan senyuman, lalu memeluk putrinya. 


"Star, jangan melihat Daddy sebagai orang yang memiliki banyak uang. Sayangi Daddy karena dia daddymu. Bukan karena dia punya banyak uang."


"Iya, Mommy."


Seorang pelayan kemudian masuk ke dalam kamar. Menganggukkan kepala tanda hormat dan tersenyum.


"Nona, sarapan sudah siap. Semua sudah menunggu di bawah."

__ADS_1


"Baik, terima kasih."


Pagi ini mereka sudah duduk manis di meja makan. Bukan hanya kamar dan seisi rumah yang membuat mereka tercengang, tetapi juga banyaknya makan lezat yang telah terhidang di meja makan. Sky dan Star mungkin baru menebak seberapa kaya daddy-nya. 


Hanna melirik satu persatu beberapa wanita berseragam navy yang sedang melayani mereka, meletakkan makanan di meja. Sungguh, ia merasa tak nyaman dan tak pantas dilayani layaknya seorang ratu seperti sekarang. 


“Silahkan, Nona.” Pelayan meletakkan menu sarapan lagi di hadapannya. “Anda mau yang mana, biar saya ambilkan.” 


“Tidak usah, terima kasih,” ujarnya dengan sungkan. “Aku bisa sendiri.” 


tatapan Hanna berpindah pada kedua anaknya yang tampak begitu bersemangat. Melihat menu bervariasi di meja makan, rasanya seperti mimpi. Baru beberapa hari lalu mereka hidup dalam ketebatasan yang menyedihkan. 


“Itu apa, Daddy?” tanya Star menunjuk salah satu menu berbentuk roti pipih. 


Star melirik menu lain yang tampak menarik. “Kalau itu apa?” 


“Itu seperti bubur yang terbuat dari lentil merah, kaldu ayam dan wortel. Ada bubuk paprikanya juga.” 


“Kalau yang itu?” Star menunjuk lagi satu menu lainnya. Evan pun langsung menjawab. 

__ADS_1


“Itu roti pipih isian daging sapi cincang dengan topping keju dan telur.” 


“Kalau itu ap—” 


“Star ...” Belum selesai Star mengajukan pertanyaan lagi, Hanna sudah memotong. “Jaga sikapmu, Nak. Jangan seperti itu.” 


Evan menatap Hanna dan tersenyum. Melalui raut wajah Hanna, Evan dapat membaca ekspresi tak nyaman dari wanita itu. Hanna tidak terbiasa mendapat perlakuan baik dari orang-orang di sekitarnya, sebab sejak kecil hidupnya penuh dengan perjuangan dan ketidakadilan dari keluarganya sendiri. 


“Tidak apa-apa, Hanna. Aku senang Star banyak bertanya.” Evan mengusap rambut Star yang menunduk setelah mendapat teguran dari Mommy-nya. “Tidak apa-apa, Sayang. Mommy tidak sedang marah. Bagaimana kalau kau coba yang ini dulu. Ini sangat enak.” Ia meletakkan roti panggang ke piring Star. 


Gadis mungil nan cantik itu mengangguk. Kemudian Evan menyuapinya makan. Hanna dapat melihat kebahagiaan kedua anaknya yang begitu haus kasih sayang seorang ayah. Dan melihat kasih sayang Evan terhadap Star dan Sky, ia perlahan menyadari kesalahannya menilai sosok Evan—yang mengira laki-laki itu hanyalah orang kaya yang tidak memiliki perasaan dan akan  menolak kehadiran dua anaknya. Hal itulah yang membuat Hanna memilih menyembunyikan Sky dan Star selama ini. 


“Kenapa kau sedih? Apa kau tidak suka menunya?” Evan langsung menatap beberapa pelayan. Ia baru saja akan meminta menu lain. 


“Aku suka,” jawabnya datar, melirik Evan dan beberapa pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka. 


“Apa Anda akan ke rumah sakit, Tuan?” tanya seorang pelayan yang menuang susu ke dalam gelas dan meletakkan di hadapan Sky. “Saya akan minta sopir menyiapkan mobil.” 


“Tidak. Hari ini akhir pekan. Aku akan menghabiskan waktu dengan anak-anak.” 

__ADS_1


Dan tentunya dengan mommy-nya juga. Hufft entah aku harus berbuat apa sekarang. Google yang serba tahu pun tidak akan tahu bagaimana cara mencairkan gunung es itu. batin Evan menjerit menyadari betapa dinginnya sikap Hanna. 


**** 


__ADS_2