
“Apa katamu? Berani sekali kau menyebut aku bukan siapa-siapamu!”
Evan menikam Hanna dengan tatapan tajam. Sedangkan Hanna tampak tidak begitu mempedulikan. Ia malah bersikap sangat santai seolah tidak ada masalah berarti.
Padahal kecemburuan ayah dari anak-anaknya itu sudah berada di level mematikan. Layaknya gunung merapi yang siap memuntahkan lahar panas.
“Memangnya kau siapaku?” seloroh Hanna membalas tatapan Evan dengan menantang.
Sial! Aku bahkan tidak bisa menyebut dia milikku. Argh, aku ingin sekali mengurung wanita ini di rumah. ucap Evan dalam batin.
"Kenapa? Kau tidak bisa menjawab?" tanya Hanna lagi ketika Evan masih diam mematung.
“Sekarang aku memang belum jadi siapa-siapamu. Tapi tidak lama lagi akan menjadi segalanya bagimu.” Evan begitu yakin saat mengucapkannya.
“Percaya diri sekali dia,” gumam Hanna memalingkan pandangan . “Aku tidak ada rencana menjadikanmu segalanya bagiku.”
Evan mendengus saat merasa telah kehabisan kata-kata. Hanna seolah mengibarkan bendera perang. Namun, perang belum dimulai sudah kalah dengan telak.
"Aku akan memaksamu untuk itu," ujarnya.
"Coba saja!"
Evan tersenyum tipis, lalu memberi kode kepada laki-laki yang berdiri tepat di belakangnya. Walaupun Evan tidak mengucapkan sesuatu pun, Osman dapat menebak apa keinginan tuannya.
__ADS_1
Osman menganggukkan kepala, lalu menatap Sky dan Star. "Nona kecil, Tuan Muda ... ayo kita ke mobil saja dulu."
Tanpa bertanya Sky dan Star menurut apa kata asisten daddy-nya itu. Osman sangat menyenangkan bagi Sky dan Star, karena menuruti semua keinginannya. Laki-laki itu membawa mereka menjauh, menuju sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang.
Sementara Evan menatap mereka yang sudah berada dalam jarak aman. Tak ingin anak-anaknya melihat dan mendengar perdebatannya dengan Hanna. Sebab itulah ia meminta Osman membawa Sky dan Star menjauh dari sana.
Ia lantas mencengkram pergelangan tangan Hanna dengan erat, membuat dahi wanita itu berkerut karenanya.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”
"Tidak akan!" Sambil menggerakkan genggaman dengan sangat posesif, sehingga Hanna tak dapat melepaskan diri.
"Lepaskan! Kemana Ervan Maliq Azkara yang dulu? Bukankah kau sangat membenci Hanna Cabrera?"
Kali ini ucapan Hanna sangat telak membungkam Evan, genggaman tangan erat itu pun merenggang, lalu kemudian terlepas begitu saja. Menyerang dengan masa lalu adalah senjata ampun Hanna untuk membungkam laki-laki di hadapannya.
"Tidak ada!" jawab Hanna ketus.
"Tapi tadi aku mendengar anak-anakmu memanggilnya daddy. Apa dia ayahnya anak-anakmu?" tanyanya semakin penasaran.
Hanna tak menjawab. Ia hanya melirik Evan, lalu kemudian menundukkan pandangan dengan wajah merona merah. Bukan merupakan hal yang dapat dibanggakan jika memiliki anak di luar pernikahan. Namun, cinta satu malam yang terjalin tanpa sadar itu telah membuahkan sepasang anak kembar.
Agha menarik pergelangan tangan Hanna yang membuat Evan seperti terbakar. Ia pun menghempas tangan laki-laki itu.
__ADS_1
"Jangan sentuh dia!" ujar Evan menatap tajam.
Detik itu juga, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka. Osman membuka kaca jendela mobil. Sedangkan Evan kembali meraih pergelangan tangan Hanna dan membuka pintu mobil. Mendorong Hanna masuk dengan sedikit memaksa.
"Kau sudah gila ya?" ucap Hanna kesal.
"Sudah lama." Evan pun masuk ke dalam mobil dan duduk di sisi Hanna. "Jalan Osman!"
"Baik, Tuan!"
Ia melirik ke belakang di mana Evan dan Hanna duduk. Laki-laki itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bukankah kelakuan mereka seperti sepasang remaja yang sedang saling cemburu?
****
Baca juga Karya di bawah ini yaaa....
Blurb :
Akibat kesalahan satu malam, ia terjebak ke dalam sebuah pernikahan dengan seorang pria beristri. Kebencian istri pertama membuatnya tak dianggap, diabaikan, bahkan direbut hak nya sebagai seorang istri dan ibu.
Mampukah Lula bertahan dengan statusnya sebagai istri yang disembunyikan??
__ADS_1
Terima kasih ❤️❤️🥰🥰🥰