
Hanna terbangun dengan tubuh yang terasa lelah. Permainan Evan semalam benar-benar membuat tenaganya terkuras. Bahkan pria itu mampu membuat Hanna melupakan rasa sakit yang bersarang hatinya, walaupun hanya untuk sejenak dan ikut menikmati indahnya pergumulan semalam.
Hanna duduk bersandar, menggulung selimut dan menutupi bagian dadanya. Pandangannya mengarah panda lantai dan seperti pagi-pagi sebelumnya, ia akan mendapati piyama yang mereka gunakan semalam teronggok begitu saja di sana. Karena selepas menjalankan ritual wajib sebelum tidur itu, Hanna akan kelelahan dan mengantuk, hingga untuk menggunakan kembali pakaian pun terasa malas.
"Mau kemana, Sayang?"
Evan menarik Hanna ke dalam pelukannya, ketika menyadari wanitanya itu hendak turun dari tempat tidur. Ia mengurungnya dalam dekapan seakan tak rela untuk melepas.
"Aku mau ke kamar mandi."
Evan melirik arah jarum jam di dinding. Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Di luar juga belum terang sepenuhnya, terlihat melalui celah jendela kamar. Evan pun mengeratkan pelukannya, menghujani wajah istrinya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Sayang ... Ada apa denganmu?" Evan menatap wajah Hanna dalam-dalam.
Biasanya Hanna akan tertawa jika Evan menggesekkan dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus ke bahu istrinya itu, hingga akhirnya akan memohon ampun dan meminta Evan menghentikannya. Namun, kini Hanna tak menunjukkan reaksi apapun, selain menahan rasa geli yang ditimbulkan dari sentuhan itu.
"Apa kau merasa sakit? Atau ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Tidak ada." Hanna mendorong wajah suaminya yang masih menciumi wajahnya. "Aku hanya mau mandi. Tubuhku rasanya lengket."
Hanna mendorongnya dada Evan hingga pelukan itu terlepas. Kemudian menggeser posisi hingga kakinya menyentuh lantai. Satu tangannya masih memegang selimut di dadanya, lalu kemudian berdiri saat berhasil menggapai jubah piyama yang menggantung di sisi tempat tidur.
__ADS_1
Evan pun menatap punggung istrinya yang dalam hitungan detik menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu? Tidak biasanya Hanna sedingin ini."
Evan bermonolog memikirkan dinginnya sikap istrinya. Namun, kehamilan Hanna menjadi jawaban satu-satunya yang dapat terlintas dalam benaknya.
"Ya, ini pasti pengaruh kehamilan." Kemudian tersenyum senang mengingat bibit kehidupan baru yang sedang tumbuh di rahim istrinya.
.
.
.
Laki-laki itu mengenakan pakaian dengan cepat. Ia harus buru-buru ke rumah sakit pagi ini karena ada janji penting dengan seorang pasiennya. Bahkan mungkin akan melewatkan sarapan pagi.
Evan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Meletakkan sepatu di dekat kakinya.
Bruk!
Perhatian Evan pun tertuju pada buku kecil yang baru saja terjatuh ke lantai, yang mana membuat kedua bola matanya melebar.
__ADS_1
Betapa tidak, di buku itulah tertuang segala rahasia yang dipendamnya selama bertahun-tahun. Tentang cinta yang tak tergapai.
Bagaimana buku ini bisa ada di sini? Evan meraih buku itu dan membolak-balikkan di tangannya.
Evan mulai menerka-nerka dalam hati. Benda yang hampir ia lupakan itu muncul secara tiba-tiba.
"Apa jangan-jangan Hanna sudah membacanya? Karena itulah dia jadi banyak diam?"
Ya ampun, aku sempat mengira sudah membuang buku ini. Lalu bagaimana Hanna menemukannya?
Evan masih bertanya-tanya dalam benaknya ketika pintu kamar terbuka. Dengan gerakan cepat, ia menyembunyikan buku itu di balik tubuhnya.
Hanna muncul dari balik pintu dengan wajah pucat dan datar.
"Sayang, ada yang perlu aku bicarakan denganmu," ucap Evan. Suaranya terdengar lirih.
"Ya ... kebetulan aku juga mau menanyakan sesuatu," balas Hanna masih tanpa ekspresi.
Hanna melangkahkan kakinya mendekat. Namun, saat telah berada di hadapan suaminya, seluruh ruangan itu seperti berputar dalam pandangannya.
Detik itu juga, tubuh Hanna ambruk. Beruntung Evan menangkapnya sebelum menyentuh lantai.
__ADS_1
"Hanna!" teriak Evan panik.
***