Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 101


__ADS_3

Evan membaringkan tubuhnya di sisi Hanna yang masih terlelap. Memeluk dan menciumi wajahnya hingga membuat wanita itu merasa terganggu oleh bulu-bulu tipis yang tumbuh di sekitar wajah suaminya. Alhasil, Hanna  pun membuka matanya. 


“Emh ... aku ketiduran ya?” ucapnya dengan suara serak, seraya meneliti ruangan itu dan merentangkan tangan ke samping untuk merenggangkan otot-ototnya. 


“Tidak apa-apa, tidur lagi saja.” Evan memainkan hidungnya di pipi Hanna yang membuat wanita itu tersenyum geli. Ia tak pernah tahan dengan sensasi geli ketika kulitnya bersentuhan dengan bulu halus di wajah suaminya. 


“Hentikan! Hahaha!” Ia berusaha mendorong kepala Evan menjauh, namun Evan malah semakin merapatkan wajahnya dan kali ini bermain di ceruk leher. “Tolong hentikan, aku tidak tahan. Hahaha!” 


“Biar saja.” Evan membenamkan wajahnya di leher, dada dan mengakhiri permainan dengan mencium pipi. Kemudian menatap wajah Hanna lekat-lekat dan membelainya. “Kau merasa lebih baik sekarang?” 


“Iya.” Hanna tersenyum tipis, memeluk Evan dan membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. “Terima kasih, Sayang.” 


Ujung mata Evan mengerut mendengar panggilan itu. Hanna sangat jarang memanggilnya dengan kata-kata sayang. 


“Coba katakan lagi!” 


“Apanya?” Kepala Hanna terangkat, menatap Evan dengan kerutan tipis di kening. 


“Kau memanggilku apa tadi?” 


Hanna pun tersipu malu. Menutup wajahnya dengan kedua  tangan. Namun, sepertinya Evan tak pernah merasa cukup untuk menggodanya. “Ayolah, katakan lagi. Kau jarang sekali memanggilku sayang. Apa sopan seorang istri memanggil suaminya dengan nama saja? Selain itu aku jauh lebih tua darimu.” 


“Jangan menggodaku seperti itu.” Hanna meraih bantal dan memukul-mukulkan ke tubuh suaminya. Mereka pun tertawa dan saling menyerang dengan bantal, sejenak melupakan masalah yang sedang membelitnya. 


Tok Tok Tok! 


Terdengar suara pintu yang diketuk. Evan melepaskan pelukan dan menuju pintu. Tampak Eliya datang dengan membawa troli makanan. 


“Ini pesanan Anda, Tuan.” 


“Terima kasih, Eliya. Letakkan di situ saja!” Evan menunjuk sebuah ruang kosong di dekat meja. 


“Apa Anda butuh sesuatu yang lain?” ucap Eliya sesaat setelah meletakkan troli makanan itu. 


“Tidak, terima kasih.” 


Eliya akan keluar, namun tiba-tiba berhenti di ambang pintu. Kemudian membalikkan tubuhnya lagi. "Oh ya, Tuan ... Tuan Osman sudah menunggu di bawah. Beliau berpesan ... kalau bisa jangan lama-lama."

__ADS_1


"Iya, katakan padanya setelah makan aku akan turun."


"Baik."


Evan masuk kembali ke ruangan itu. Hanna tampak sudah duduk manis di atas sofa sambil menatap menu makanan  yang baru dibawakan Eliya. Ia meraih jus tomat dan menyesapnya. 


“Segar sekali.” 


Sementara Evan beranjak menuju jendela kaca besar dan menyibak tirainya, hingga cahaya dari luar memenuhi seisi ruangan itu.


Hanna mendekat dan memeluknya dari belakang, membuat Evan terlonjak karena terkejut hingga menumpahkan jus tomat ke pakaian mereka. 


"Ah, ya ampun. Bagaimana ini, pakaianku jadi kotor?" Hanna meletakkan gelas jus ke atas meja dan mengusap kemeja putihnya yang mendadak menjadi merah. 


“Maaf, Sayang! Aku benar-benar tidak sengaja. Salah sendiri kenapa tiba-tiba muncul di belakang?” 


“Ya sudah, tidak apa-apa. Pakaianmu juga kotor, maaf,” ujarnya sambil mengusap pakaian suaminya. “Apa tidak ada tissue di ruangan ini?” 


“Tidak ada! Sekalian saja mandi.”


"Mandi?"


*


*



Hanna membalut tubuhnya dengan jubah mandi, mengikat tali di pinggang sebelah kiri dan duduk di kursi. Adegan yang terjadi antara dirinya dengan sang suami di kamar mandi benar-benar membuat wajahnya bersemu merah. 


“Ya ampun, aku malu sekali.” Hanna mengusap pipinya yang terasa panas. “Apa normal berbuat begitu di kamar mandi.” Ia menghela napas panjang. 


Tak lama berselang, Evan menyusul keluar dari kamar mandi. Membuat Hanna menunduk malu. Melirik hidangan di meja makan yang belum disantap karena harus terganti dengan adegan saling santap di kamar mandi. 


“Makanannya sudah dingin. Mau aku pesankan yang lain?” tanya Evan. 


“Tidak usah, kita akan makan ini saja. Tidak baik membuang makanan. Aku pernah merasakan susah makan.” 

__ADS_1


Evan tersenyum dan mengusap rambut Hanna yang masih basah. 


Suara pintu diketuk kembali terdengar. Evan berjalan menuju pintu dan membuka sedikit hingga menyisakan celah yang hanya cukup untuk kepalanya. Tampak Osman berdiri di depan pintu, menatapnya curiga. 


“Ada apa?” tanya Evan langsung membuka pintu hingga menampakkan tubuhnya yang hanya menggunakan handuk. Membuat Osman memaki dalam hati. 


“Bukankah Anda bilang mau menyelesaikan sesuatu?” 


Evan menepuk dahinya, bagaimana ia bisa melupakan janji dengan Osman untuk menyelesaikan urusan dengan Aysel dan mantan suaminya dan memilih memenuhi fantasi liarnya dengan Hanna.


“Ah, maafkan aku. Aku lupa. Tunggu sebentar lagi, aku akan segera turun.” Ia menutup pintu lagi dengan tidak tahu malunya, membuat Osman mendengus. 


“Tidak di rumah, tidak di restoran sama saja. Dasar!” 


*


*


*


*


Osman menatap malas ketika melihat pintu lift terbuka dan memunculkan tuannya dari sana. Menyesap segelas kopi di hadapannya sambil menggerutu dalam hati. Ia melirik sepasang suami istri yang keluar dengan pakaian berbeda saat datang tadi.


"Sayang, kau duluan ke mobil. Aku ada urusan sebentar dengan Osman."


"Baiklah."


Hanna sudah melangkah lebih dulu, memasuki mobil yang terparkir tepat di depan pintu masuk.


"Maaf membuatmu menunggu lama."


"Tidak masalah, Tuan. Saya menunggu Anda selama tiga jam dan itu menyenangkan," ujar Osman sambil menunjukkan beberapa gelas kopinya.


"Kau sedang menyindir, ya?" ucap Evan tak terima. "Aku perlu tambahan nutrisi untuk bisa menghajar orang!"


Ya, tentu saja. Anda kelebihan libido sementara saya kelebihan kafein.

__ADS_1


***


__ADS_2