Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 81


__ADS_3

Setelah melewati pagi yang memalukan, akibat kesalahpahaman berkepanjangan antara dirinya dan Sky, Evan menuju kafe miliknya yang bersebelahan dengan kantor Kia Group. Sepanjang perjalanan ia menggerutu kesal. Betapa tidak, Sky membangun benteng kokoh antara dirinya dengan Hanna, bahkan Sky memilih diantar dengan sopir ke sekolah, karena takut mommy-nya akan mengalami alergi jika berdekatan dengan daddy-nya. Alhasil, Evan harus menelan pil kekecewaan.


“Kenapa wajahmu kusut begitu?” Rafli menatap Evan yang duduk dengan menyandarkan kepala, menatap langit-langit ruangannya dengan penuh beban. 


“Aku bisa gila kalau seperti ini terus.” 


Kening Rafli berkerut, sorot matanya penuh tanya. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan sahabatnya itu. “Memangnya kenapa? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” 


“Lebih buruk dari yang kau bayangkan.” 


“Maksudnya?” 


Evan menghembuskan napas frustrasi, menatap foto Sky dan Star yang bertengger cantik di atas  meja, kemudian membalikkannya sehingga Rafli dapat melihat. “Gara-gara mereka!” 


“Sky dan Star?” tanya Rafli semakin bingung. “Ada apa dengan mereka?” 


“Sky salah paham padaku. Dia mengira aku habis menghukum mommy-nya. Dia bahkan melarangku mendekati Hanna.” 


Rafli tertawa kecil, ia pun tahu seposesif apa Sky terhadap Hanna. “Memang apa yang terjadi sampai dia mengira kau menghukum Hanna?” 


“Dia melihat tanda kemerah—” Seketika Evan membungkam. Hampir saja ia membocorkan apa yang membuatnya malu di meja makan pagi tadi. Akhirnya, ia memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. “Sudahlah, jangan bahas. Ini terlalu menyebalkan.” 

__ADS_1


“Baiklah.” rafli mengangguk mengerti. “Ngomong-ngomong kapan kau mulai bekerja di rumah sakit Kak Zian?” 


“Aku belum tahu. Aku harus mengerjakan sesuatu yang penting dulu dalam minggu ini.” 


Evan mengeluarkan ponsel dari saku jaket, kemudian menghubungi seseorang melalui ponselnya. Sedangkan Rafli menatapnya curiga. Ia menunggu dengan sabar sampai pembicaraan penting itu selesai dengan sebuah kesepakatan. 


“Ada urusan apa kau dengan orang itu?” 


Evan tersenyum senang setelah menyusun sebuah rencana luar biasa. Meletakkan kembali ponsel ke atas meja dengan penuh suka cita. “Aku sedang menjalankan misi penting dengan—”


“Jangan sebut namanya di sini? Aku masih ingat bagaimana dia menculikku saat Kak Zian menanyakan gadis pemain piano yang bernyanyi di ulang tahun perusahaannya,” sambar Rafli dengan cepat. “Aku tidak tahu bagaimana Kak Zian bisa punya makhluk peliharaan sepertinya.” 


**** 


"Mommy ... Apa Mommy masih alergi?" tanya Sky melingkarkan tangan di lengan mommy-nya. Sedangkan Star sudah tertidur pulas di sisinya.


Hanna tersenyum dan membelai rambut Sky.


"Mommy jangan sedih, ya. Kalau besar nanti aku akan jadi dokter dan mengobati alergi Mommy."


Hanna membelai wajah Sky, menatap wajahnya lekat. Ia harus menjelaskan kesalahpahaman anaknya itu.

__ADS_1


"Daddy tidak membuat mommy alergi, Sky. Daddy juga tidak menghukum mommy, karena daddy sangat menyayangi kita semua. Kau mengerti, kan?" jelas Hanna. "Kau masih ingat saat di Amasya dulu ... kau selalu berdoa supaya Daddy cepat kembali. Sekarang Daddy sudah kembali dan dia menyayangi kita."


"Tapi kenapa badan Mommy merah saat dekat dengan daddy?"


"Sky ... ada banyak hal yang belum dimengerti anak kecil. Suatu hari kau pasti akan mengerti. Sekarang tidurlah. Ini sudah malam."


Hanna membalut tubuh kedua anaknya dengan selimut, kemudian membacakan sebuah cerita sebelum tidur. Setelah memastikan Sky telah terlelap, ia beranjak keluar kamar. Seharian ini Hanna belum melihat suaminya setelah insiden tadi pagi di meja makan. Evan juga tak menghubunginya hari ini.


"Dia kemana? Apa jangan-jangan dia marah?"


Hanna melangkah menuju lantai bawah untuk memastikan. Tampak suasana sudah cukup sunyi, sepertinya penghuni rumah sudah berada di kamar masing-masing. Sebagian lampu utama pun telah dipadamkan. Menyisakan cahaya kuning yang berpendar dari lampu-lampu hias.


"Apa itu?" Hanna terlonjak ketika melihat sekilas pantulan bayangan hitam melalui dinding ruangan.


Perlahan ia melangkah mundur. Bola matanya melebar dalam pencahayaan temaram, menoleh ke kanan dan kiri demi menemukan objek yang baru saja dilihatnya.


"Siapa itu?" pekik Hanna.


Sosok tangan kekar dengan sapu tangan putih muncul di hadapan wajahnya, membekap hidung dan mulutnya. Dan secara perlahan, kesadaran wanita itu mulai menurun.


****

__ADS_1


 


__ADS_2