
“Aku bisa jelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan.”
“Apa lagi yang mau kau jelaskan? Kami sudah tahu semuanya!” ujar Zian. “Kau harus dihukum karena sudah merusak masa depan seorang gadis dan menelantarkan anak-anakmu.”
"Aku dijebak saat itu. Lagi pula aku baru tahu tentang keberadaan Sky dan Star! Kalau tahu, aku pasti sudah mencari mereka sejak lama."
Tatapan Evan sangat memelas. Sedangkan Hanna yang berdiri di belakang punggungnya membeku. Antara rasa malu dan takut. Apa lagi saat melihat Evan yang biasanya memiliki kekuasaan tampak tak berdaya di hadapan dua pria itu.
“Tuan, maafkan aku.” Akhirnya Hanna memberanikan diri membuka suara. Pandangannya masih menunduk tanpa berani mengangkat kepala. “Semua ini salahku. Aku lah yang merahasiakan keberadaan anak-anakku darinya. Dan maafkan aku sudah membuat aib di keluarga kalian.”
Fahri dan Zian saling tatap satu sama lain. Mereka akhirnya melunak mendengar ucapan Hanna. Wanita di hadapan mereka bukanlah seorang wanita super cantik dengan penampilan modis layaknya istri-istri mereka, melainkan seorang wanita biasa dengan pakaian sederhana tanpa riasan di wajah.
"Jangan bicara begitu. Karena kau juga akan menjadi bagian dari keluarga Azkara. Hanna, maafkan ketidaktahuan kami, tentang apa yang dilakukan Evan padamu. Kau pasti menjalani hari-hari yang berat selama tujuh tahun ini," ucap Dokter Fahri mengusap bahu wanita itu.
"Dan semua itu karena kebodohan si Keong itu!"
“Mommy ... Daddy ...” Panggilan lembut itu membuat ketegangan mulai mereda.
Fahri dan Zian tersenyum tatkala menatap sepasang anak kembar yang memasuki ruangan itu.
Karena tak tahan mendengar laporan tentang kondisi keponakan-keponakannya yang selama ini hidup kekurangan, mereka akhirnya menyusul ke Turki.
“Oh ... lihat mereka! Bukankah mereka sangat lucu dan menggemaskan?” ucap Fahri. Bola matanya berkaca-kaca.
Zian berjongkok di hadapan Sky. Sementara Star duduk di atas kursi roda. Ia membelai dua wajah itu bergantian.
__ADS_1
“Mereka memang berasal dari klan Azkara. Wajahnya tidak bisa berbohong. Iya kan?” Ia merengkuh tubuh kecil itu dengan keharuan. Fahri pun merasakan hal yang sama saat menatap Sky dan Star, lalu memeluknya bersama.
Sementara dua bocah menggemaskan itu tampak bingung ketika dua orang asing itu memeluknya. Menatap mommy dan daddynya di balik punggung.
"Itu paman-paman mu, Nak. Ucapkan salam kepada mereka," terang Evan menyadari raut bingung putranya.
Fahri melepas pelukan, menciumi wajah keponakannya bergantian. Sky yang masih malu langsung berlari dan memeluk mommy-nya.
“Oh, ya ... kita harus cepat mempersiapkan semuanya.”
"Mempersiapkan apa?" tanya Evan membuat Zian lagi-lagi menjewer telinga adiknya.
"Kau pikir kami akan membiarkanmu berduaan terus tanpa status? Anak kalian butuh keluarga yang utuh."
"Zian, kau bisa siapkan semuanya kan?"
"Kau benar."
Fahri membawa Star ke dalam gendongannya, lalu melirik Osman yang masih membeku di ambang pintu.
“Osman, tolong suruh orang membawa kursi roda ini ke mobil.”
“Baik, Tuan,” jawab Osman mengangguk.
"Mau dibawa kemana kursi rodanya?" Evan menatap penuh tanya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu tahu. Biar ini menjadi urusan kami."
Mereka kemudian menghampiri Hanna.
“Hanna, apa kau bersedia ikut dengan kami? Tidak baik kalau kalian berada dalam satu rumah tanpa status. Jadi kalian harus menikah secepatnya."
Hanna terdiam. Ia merasa sangat tidak layak berada di antara keluarga Azkara. "Maaf, Tuan--"
"Jangan memanggil tuan. Kau adalah adik kami juga. Panggil kakak saja kan bisa," ucap Zian santai.
Senyum tipis terlukis di sudut bibir Hanna. Tidak pernah mendapat perlakuan baik dari orang-orang sekitarnya, membuat kepercayaan dirinya meredup.
"Sekarang ikutlah dengan kami."
“Tapi mereka mau dibawa ke mana, Kak?” tanya Evan.
“Bukan urusanmu!”
Tanpa peduli reaksi adiknya, mereka melangkah keluar dengan membawa Sky dan Star, juga Hanna. Sementara Evan hanya dapat menatap punggung Hanna. Seakan tak rela melepas wanitanya itu.
Ini namanya ditinggal saat sedang hangat-hangatnya. gerutu Evan dalam batin
Kemudian menatap makhluk menyebalkan yang masih berdiri di pintu dengan senyum terpaksa.
Osman merasa tubuhnya akan terbelah menjadi dua bagian ketika tatapan tajam Evan terarah kepadanya.
__ADS_1
Tamat riwayatku.