Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 75


__ADS_3

Sudah larut malam  tetapi Evan belum dapat memejamkan mata. Sejak tadi ia hanya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur. Meraba tempat kosong di sebelahnya, ia mendengus. Sky dan Star telah menyandera mommy-nya dan tak mengizinkan Evan masuk ke kamar itu. 


Ia melirik kesal pada ponsel yang terus berdering tanda pesan masuk. Walaupun belum membuka ponsel, namun Evan dapat menebak itu adalah pesan dari grup WhatsApp saudara-saudaranya dan sudah menebak apa yang sedang mereka bicarakan. 


“Sial sial sial! Ini sangat menyebalkan!” 


Laki-laki itu menyandarkan punggungnya, mengusap wajah dengan frustrasi. Baik Zian, Fahri dan Willy mengejeknya habis-habisan tadi. 


“Apa yang harus kulakukan sekarang?” 


Evan merenung beberapa saat. Memikirkan malam ini yang seharusnya menjadi malam paling indah, tetapi harus gagal karena salah paham anak-anaknya. Ia pun harus menahan gejolak dalam dirinya setelah tadi melihat kemolekan tubuh istrinya. 


“Kenapa juga aku harus melihatnya.” 


Evan akhirnya meraih ponsel, lalu menghubungi makhluk paling menyebalkan baginya. Ia menunggu beberapa saat hingga panggilan terhubung. 


“Iya, Tuan.” Suara Osman terdengar serak. Mungkin ia sudah tidur ketika Evan menghubunginya. 


“Aku ada tugas untukmu!” 


“Sekarang?” 


“Terserah kau saja.” 


Osman terdiam beberapa saat. Sepertinya sedang mengumpulkan kesadarannya. “Tugas apa, Tuan?” 


“Carilah sebuah rumah yang nyaman dan jaraknya cukup jauh dari jangkauan keluarga Azkara.” 


Hening! Osman tidak segera menjawab. 


“Rumah yang jauh dari jangkauan keluarga Azkara?” 


“Iya.” 


“Ba-baik, Tuan. Saya akan segera mencarikannya.” 

__ADS_1


Panggilan terputus. Osman beranjak dari tempat tidur dan menuju sebuah lemari khusus. Peta Kota Jakarta ia gelar di atas meja. Mencari titik yang dirasa aman dari jangkauan keluarga Azkara. Sebuah buku berisi catatan aset-aset keluarga Azkara berada di tangannya.


*


Cukup lama Evan menunggu hingga ponselnya berdering lagi. 


“Kau ada kabar buruk apa?” tanya Evan ketus. 


“Tuan, saya sudah mencari lokasi dalam kota yang cukup jauh dari jangkauan keluarga Azkara.” 


“Lalu?” 


“Tidak ada yang aman, Tuan. Keluarga Azkara memiliki rumah, villa, restoran di beberapa titik. Sepertinya kalau mau yang aman harus ke luar negeri.” 


Dengusan panjang terdengar yang mana membuat Osman merinding.


“Kau memang tidak berguna!” Evan memutuskan sambungan telepon setelahnya. 


*


*


*


*


“Siapa itu?” gumamnya dengan alis berkerut. 


Ia menyibak selimut, kemudian melangkah menuju jendela. Suara itu semakin terdengar jelas. 


“Aku harus melakukan sesuatu.” 


Pandangannya berkeliling dan berhenti saat menemukan tongkat kasti di sisi lemari. Hanna meraihnya dan bersiap memukul jika makhluk itu benar-benar masuk ke dalam kamar. 


Hingga sosok hitam tinggi besar menyelinap melalui jendela.

__ADS_1


Bugh Bugh Bugh 


Hanna melayangkan serangan bertubi-tubi pada sosok hitam jangkung itu. Menghantamkan pukulan pada punggungnya. 


“Kau mau merampok ya? Rasakan ini!” Hanna terus memukuli tanpa memberi kesempatan sosok itu untuk melawan. Yang ia lakukan hanya melindungi kepalanya dengan tangan. 


“Hanna hentikan! Ini aku!” 


Tunggu! Sepertinya aku kenal suara itu. 


Wanita itu lantas pergi ke sudut ruangan untuk menyalakan lampu utama. Alangkah terkejutnya saat menemukan siapa yang ada di kamar. 


“Kau?” 


“Kau pikir siapa?” balas Evan mengusap-usap bagian tubuhnya yang terasa sakit akibat serangan yang dilakukan Hanna. 


“A-aapa yang kau lakukan di sini? Kenapa masuk lewat jendela?” Hanna yang masih terkejut memeluk tongkat kasti di dadanya. 


“Semua ini karena anak-anakmu!” kesal Evan. 


Namun kemudian ia terdiam. Terpaku menatap wanita di hadapannya. Meskipun Hanna hanya menggunakan setelan piyama, namun ia tampak jauh berbeda dari biasanya. Sangat cantik.


Kulitnya terlihat lebih mulus dan segar. Rambut yang biasanya acan-acakan kini tergerai, meskipun Hanna dalam keadaan baru terbangun dari tidurnya. 


Menyadari tatapan Evan yang seakan melahapnya, Hanna menundukkan pandangan. “Kenapa kau melihatku begitu?” 


“Tidak apa-apa.” Evan tiba-tiba salah tingkah Namun ia berusaha mengalihkan. Menutup jendela dan menarik tirai. 


"Mereka sudah tidur, kan?" tanya Evan seraya melirik tempat tidur.


"Sudah."


Ia mendekati Hanna dan memeluknya.


"Bagaimana kalau kita ke kamar saja. Jangan di sini."

__ADS_1


Hanna menunduk malu, setelah menyadari maksud ajakan itu.


****


__ADS_2