Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 84


__ADS_3

Kantor Kia Group ... 


 


Hari bergerak menuju siang, di mana seluruh staf kantor masih disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. 


Kedatangan seorang pria yang berjalan santai dengan setelan piyama berhasil menyita perhatian semua orang. Ada  yang saling berbisik, ada yang hanya menatap dari kejauhan dan tampak pula beberapa staf yang membungkukkan kepala tanda hormat saat berpapasan. 


"Selamat siang, Tuan," sapa salah satu staf dengan ramah.


“Di mana bos kalian?” Tanpa menjawab sapaan itu, dengan santai ia bertanya kepada dua pria yang  menyapanya. 


“Bos?” Mereka saling menatap satu sama lain dengan bingung. Mengapa pria berpiyama itu menanyakan keberadaan sang bos, padahal sebenarnya dirinyalah pemilik perusahaan itu. “Kan Anda bosnya,” ucap salah satu pria. 


“Maksudku pimpinan kalian di mana?” 


“Oh, Pak Dimas sedang keluar. Ada rapat penting. Tapi Nona Anita ada di atas, Bos!” 


Ia tampak mendengus, sambil menatap pintu lift dengan kesal. “Ya sudah, aku mau menemuinya.” 


“Baik.” 


***** 


Anita terlonjak saat pintu ruangannya terbuka secara tiba-tiba. Wanita dengan tatapan tajam layaknya elang itu lantas bangkit dari duduknya. Menatap pria yang berjalan dengan songong ke hadapannya. 


“Wah ajaib sekali, kau kemari setelah sekian purnama. Jangan bilang kau mau bekerja lagi,” sindir wanita itu ketus, menatap kakak angkatnya dari ujung rambut ke ujung kaki. Mengumpat dalam hati atas kelakuan kakaknya yang selalu semaunya sendiri. 


Zian menggeser secarik kertas ke hadapan Anita, lalu menatapnya dengan mengintimidasi. “Baca itu! Kau yang memberi perintah Botak untuk menculik Hanna, kan?” tuduhnya dengan keyakinan yang tak terbantahkan. “Sekarang katakan padaku ke mana perginya mereka.” 

__ADS_1


Meskipun tatapan kakak angkatnya sangat mengintimidasi, namun rupanya tak cukup mampu untuk menakuti wanita itu. Bahkan ia sangat santai memasukkan berkas-berkas ke dalam map yang telah dibubuhi oleh tanda tangannya. 


“Kenapa tanya aku? Bukankah Evan menitipkan sebuah surat untukmu?” 


“Tapi dia tidak memberitahu kemana mereka pergi. Dia hanya bilang di tempat pertama kali bertemu. Memangnya di mana pertama kali mereka bertemu?” 


Anita mengangkat bahu, tersenyum tipis menatap Zian. “Mana aku tahu.” 


"Kau benar-benar menyebalkan. Baiklah, aku akan melaporkan kelakuanmu ini pada suamimu. Kau sudah bekerja sama dengan Botak untuk menculik seseorang."


Anita melebarkan kelopak matanya setelah mendengar ancaman mematikan itu. Ia lantas menatap Zian dengan kesal.


"Mereka akan ke Istanbul!" jawabnya dengan pasrah.


*


*


*


Kelopak matanya berkerut, ketika cahaya dari jendela terasa menyilaukan mata. Pun dengan pandangannya yang masih memburam, yang kemudian secara perlahan mulai terlihat jelas.


Hal pertama yang hadir di matanya adalah senyum di wajah suaminya, mata indah yang menatapnya penuh cinta. Dengan belaian lembut yang melenakan.


"Kau sudah bangun?"


Antara sadar dan tidak, Hanna kembali memejamkan mata. Hingga sekelebat bayangan di ruangan itu membuatnya tersentak dan refleks melebarkan mata. Ia baru menyadari tidak sedang berada di kamarnya.


"Kita di mana?" Hanna meneliti seisi ruangan asing itu.

__ADS_1


Sebuah ruangan yang tidak begitu luas, namun sangat mewah dan menarik. Tempat tidur berukuran tidak begitu besar dengan cermin menggantung di dinding sehingga Hanna dapat melihat pantulan dirinya. Ia masih mengenakan piyama semalam.


Goncangan kecil di pembaringan membuatnya terlonjak kaget, lalu kemudian tersadar akan segalanya.


"Kita sedang di pesawat?" Mata Hanna melebar seolah tak percaya.


Evan terkekeh melihat ekspresi Hanna yang sangat menggemaskan baginya.


"Iya. Aku meminjam jet pribadi Kita Group dengan sedikit memaksa, jadi mau tidak mau mereka pinjamkan padaku."


Meskipun terkejut, tetapi Hanna mencoba untuk menetralkan perasaannya. Ia meneliti suaminya yang tampak berpakaian santai, hanya celana jeans dengan kaus putih. Tak seperti Evan yang biasanya.


"Lalu anak-anak bagaimana? Di mana mereka?"


"Mereka di rumah. Maaf aku tidak mengajak mereka, karena ini akan menjadi perjalanan kita berdua saja." Ia membelai rambut Hanna ketika melihat kekhawatiran di wajahnya. "Tenanglah, mereka akan baik-baik saja. Lagi pula di rumah banyak yang menjaga."


"Memangnya kita mau ke mana?"


"Ke tempat pertama kali kita bertemu. Kau masih ingat malam pertama kita bertemu?"


Hanna terdiam. Kenangan masa lalu berputar kembali di dalam ingatannya.


"Istanbul?"


"Ya. Bagaimana kalau kita memulai semuanya dari awal?"


****


Covernya baru ya gengs, ini adalah cover eksklusif yang dibuat Noveltoon.

__ADS_1


🤭🤭🤭


__ADS_2