
“Kenapa wajahmu jadi merah begitu? Apa kau segugup itu?” Wajah Hanna semakin merah sekarang. Jari telunjuk Evan menelusuri garis wajahnya dengan lembut dan berhenti di bibir. Mengusapnya dengan lembut. Ingin melahapnya, namun menggantung dalam jarak kurang dari lima sentimeter. Menunggu reaksi Hanna selanjutnya.
“Lepa-lepaskan aku!”
Suara Hanna yang terbata diiringi rona merah di wajahnya begitu menggemaskan bagi Evan—yang membuat laki-laki itu tertawa dalam hati. Mungkin menjahili Hanna malam ini akan sangat menyenangkan. Jemarinya menjelajah turun ke leher. Menerobos celah kemeja yang kancingnya terbuka dan berhenti di antara lereng bukit yang terbelah.
“Ma-ma-mau apa kau?” Deru napas wanita itu semakin tak beraturan hingga membuat dadanya naik turun. Demi apapun Evan sudah tidak tahan lagi rasanya.
“Tidak mau apa-apa. Hanya mau mengancingkan kembali kemejamu.”
Hanna diam dan tak bereaksi saat Evan mengancingkan kemeja bagian atas. “Memangnya apa yang kau pikirkan? Apa kau sedang berharap sesuatu yang lebih?” Ia melayangkan tatapan curiga yang membuat Hanna melotot.
Wanita itu reflek menarik bantal, menghantamkan ke tubuh Evan dengan kesal, yang disambut dengan gelak tawa.
Evan kembali berbaring, menjerat Hanna ke dalam pelukan dengan posesif. Ia benamkan wajah wanita itu di dadanya, hingga rasanya Hanna kesulitan bernapas. Kuat namun sangat hangat dan nyaman.
“Tidurlah, Sayang.” Mencium kening dan bibir berulang-ulang.
“Di sini?” Hanna ragu, sebab Osman maupun pelayan bisa saja masuk dan melihat mereka dalam keadaan terlampau dekat. “Tapi bagaimana kalau—”
“Tenang saja. Osman sudah pergi dan pelayan di sini tidak akan ada yang masuk ke sini. Jadi aku akan memelukmu sampai pagi.”
“Tapi aku belum mengantuk.”
“Tidur, atau sesuatu benar-benar akan terjadi.” Kelopak mata Hanna pun melebar mendengar nada bicara santai namun sangat mengancam.
Ia benamkan wajahnya dada laki-laki itu. Hanna begitu terbuai oleh setiap sentuhan lembut yang diberikan Evan.
__ADS_1
*
*
*
*
Pagi-pagi buta aroma kecemasan sudah mulai mendominasi. Semua pelayan sudah berkumpul di sebuah ruangan luas yang bersebelahan dengan dapur. Empat di antaranya yang bertugas untuk kebersihan rumah, tiga lainnya yang bertugas di dapur dengan seorang koki khusus, dan dua wanita yang bertugas melayani Sky dan Star. Di sisi lain ada dua pria yang bertugas di sebagai penjaga rumah.
Udara dingin tiba-tiba terasa menyeruak tatkala Osman memasuki ruangan itu dengan raut wajah datar. Wanita-wanita itu sudah merinding, saling memberi kode melalui gerakan mata. Terlebih kini Osman berdiri tepat di hadapan mereka.
“Aku tidak akan bertanya siapa orangnya yang sudah berani menghina Nona Hanna. Jadi sebaiknya kalian akui sendiri kesalahan yang sudah kalian lakukan.”
Drama bisik-bisik terdengar. Saling melempar pertanyaan satu sama lain dengan bingung. Ada tiga wajah sudah terlihat memucat di sana. Menyadari itu, Osman melirik tiga pelayan yang bertugas di dapur itu dengan tatapan tajam.
“Saya juga, Tuan. Maafkan kami,” ucap dua pelayan lain bersamaan.
“Apa kalian tidak tahu siapa Nona Hanna, sampai berani bicara yang tidak-tidak tentangnya?” Osman meninggikan suaranya, yang membuat tiga pelayan itu gemetar. “Nona Hanna sangat berharga bagi Tuan Azkara. Siapapun yang mengusiknya tidak akan mendapat maaf.”
“Maafkan kami, Tuan.” Hanya kalimat singkat itu yang ada mereka katakan.
“Kalian bertiga, kemasi barang-barang kalian hari ini juga. Gaji dan pesangon akan dikirim ke rekening kalian masing-masing. Kesalahan kalian ini sangat fatal dan tidak bisa dimaafkan.”
Meskipun sedih dipecat, namun tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Salah satu di antara mereka bahkan sudah menangis karena kehilangan pekerjaan.
“Rumah ini hanya membutuhkan seseorang yang mau bekerja, bukan bergosip.” Ia melirik tajam satu persatu pelayan yang berkumpul. “Dan peringatan ini berlaku untuk semua orang. Siapapun yang berani mengedarkan berita miring tentang Nona Hanna akan dipecat.”
__ADS_1
“Baik, Tuan.”
***
Sinar matahari yang hangat menembus kaca jendela besar di ruangan perapian. Di bawah balutan selimut Hanna menggeliat pelan. Menutup matanya dengan lengan ketika cahaya matahari terasa menyilaukan.
Evan yang begitu sensitif dengan gerakan langsung terbangun ketika merasakan sesuatu yang bergerak-gerak di sisinya.
“Sudah pagi ya?” ucapnya dengan suara parau.
Ia membenarkan posisi berbaring hingga menyamping.
“Lepaskan aku, aku mau bangun.” Hanna berusaha melepas pelukan, tetapi Evan justru semakin mengeratkan.
“Sebentar lagi, Sayang. Biar aku memelukmu dulu, bukankah ini masih terlalu pagi?” Ia membuka mata, menatap wajah polos itu dengan senyuman dan berakhir dengan kecupan manis di kening, kelopak mata kanan dan kiri, kemudian menuju bibir.
Tiba-tiba ....
“Hey, Keong laknat!”
Evan membuka mata saat mendengar panggilan, sepertinya ia sangat kenal dengan suara itu.
“Tunggu! Tidak ada yang berani memanggilku Keong Laknat selain ...”
Habis lah telingaku!
****
__ADS_1