
Setelah beberapa minggu menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya hari ini Evan akan kembali ke rumah.
Hanna sedang merapikan beberapa pakaian dan memasukkan ke dalam sebuah koper. Sementara Evan duduk di kursi dengan wajah datar sambil memainkan tablet ditangannya.
“Sudah selesai, mari kita pulang!” seru Hanna penuh semangat diiringi senyum secerah mentari. “Anak-anak pasti sudah tidak sabar bertemu daddynya.” Ia berdiri tepat di hadapan suaminya, mencium pipi dan memeluk seerat-eratnya.
“Tidak ada lagi yang ketinggalan?”
"Semua sudah beres."
Di Luar pintu sudah ada Osman yang sejak tadi menunggu. Pria itu langsung masuk setelah mendapat panggilan dari sang nyonya bos.
“Biar aku saja yang mendorong kursi rodanya. Tolong kau bawa koper itu saja,” pinta Hanna ketika melihat Osman memegangi gagang kursi roda.
Seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya ingin selalu melayani suaminya.
“Anda bisa?”
“Tentu saja.”
"Baiklah. Silahkan, Nona."
.
.
.
.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang siang itu. Selama perjalanan, Evan lebih banyak diam. Hanya pandangannya yang sesekali mengarah ke luar jendela, menatap ramainya jalanan siang itu.
__ADS_1
“Bisakah kita mampir sebentar ke toko mainan anak? Aku rasa kita perlu membeli beberapa hadiah untuk anak-anak,” ucap Evan dengan senyum tipis yang kemudian menghilang berganti dengan wajah murung. “Aku tidak mau mereka sedih melihat keadaanku seperti ini. Setidaknya mainan baru bisa mengalihkan perhatian anak-anak.”
Meskipun dapat melihat kesedihan dalam setiap kalimat yang diucapkan Evan, namun Hanna masih berusaha untuk tetap tersenyum. Ia genggam jemari suaminya itu.
“Jangan khawatir tentang anak-anak, mereka pasti kuat. Tapi baiklah, kita akan membeli mainan dulu.”
Tak lama berselang, mereka tiba di sebuah toko kecil. Hanna mendorong kursi roda melewati sebuah pintu kaca.
Baru memasuki ruangan itu, tatapan semua orang sudah tertuju kepada mereka. Namun, baik Hanna maupun Evan tak begitu memerdulikan.
Dengan dibantu Hanna, Evan memilih beberapa mainan yang mungkin akan disukai anak-anaknya, juga untuk beberapa keponakan kesayangannya yang pasti sudah menunggu di rumah.
"Sayang, coba ambilkan yang di atas itu!"
"Yang mana?" Hanna melirik ke arah rak yang ditunjuk suaminya.
"Kotak biru."
"Oh, sebentar!" Hanna berjinjit, lalu meraih kotak yang diminta Evan.
Cukup lama mereka memilih beberapa mainan, tak ada masalah berarti. Namun, satu hal yang sedari tadi disadari Evan yang benar-benar membuatnya merasa tak nyaman. Tatapan beberapa orang yang terus tertuju kepadanya. Bahkan tatapan itu membuatnya merasa terintimidasi.
Pria berwajah khas Timur Tengah itu mendengus, lalu memasukkan mainan yang baru saja dipilihnya ke dalam keranjang belanjaan.
“Osman, cepat bayar itu dan kita keluar dari sini!”
Hanna yang masih memilih beberapa mainan pun terkejut mendengar nada bicara suaminya yang seperti sedang menahan kesal. Kemudian melirik beberapa orang yang berada di toko tersebut.
Tatapan orang-orang yang mengarah kepada suaminya membuat Hanna meradang. Bahkan tadi ia tak sengaja mendengar bisik-bisik antara beberapa pengunjung.
Hanna lalu melirik seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
“Permisi, Nona!” Setidaknya kata itu dapat terucap dengan fasih oleh Hanna.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya wanita karyawan toko yang datang mendekat.
“Di sini beli mau mainan semuanya, bisa?” ucap Hanna lantang dengan bahasa Indonesia seadanya. Sehingga membuat karyawan toko itu melongo dan tampak berusaha merangkai kata yang diucapkan Hanna.
Evan seketika menyeringai mendengar ucapan istrinya yang belepotan. Tingkah Hanna dengan segala keposesifannya selalu menggemaskan bagi Evan. Hal sederhana yang mampu membuyarkan kekesalan yang sempat menghinggapi hatinya.
“Em, maaf! Maksud majikan saya ... dia mau membeli semua mainan yang ada di toko ini.” Osman membenarkan ucapan Hanna yang mungkin tak dapat ditangkap dengan baik oleh karyawan toko itu.
“Membeli semua mainan yang ada di toko ini?” Wanita itu melotot tak percaya.
“Iya, tolong dibungkus semuanya,” ucap Osman seraya melirik Hanna. “Nona, apa Anda juga berminat membayarkan mainan yang mereka beli?” Seraya melirik beberapa pengunjung lain dengan ekor matanya.
“Tentu saja. Kau bayarkan saja semuanya sekalian,” sambar wanita itu.
"Baik, kalau begitu ke mana mainan-mainan ini akan saya kirim?" Sebuah pertanyaan yang jawabannya sudah pasti. Karena tidak mungkin mainan sebanyak ini dikirim ke rumah keluarga Azkara.
“Selain mainan yang ada di keranjang itu, bawa semuanya ke Yayasan KIA saja.”
“Baik, Nona.”
Osman sudah berjalan menuju kasir bersama karyawan toko itu. Sementara yang lain tampak sibuk membenahi semua mainan di rak setelah mendapat perintah dari bos pemilik toko.
Para pengunjung lain yang tadi menatap remeh pun tampak tak percaya melihat pasangan muda yang membeli semua mainan di toko itu.
Hanna kemudian berjongkok di hadapan suaminya. “Maafkan aku! Aku gunakan uangmu untuk membeli mata dan mulut mereka,” bisik Hanna pelan.
“Tidak apa-apa, Sayang. Apapun untukmu,” balas Evan sambil mengelus rambut Hanna, kemudian berbisik pelan, "Lagi pula mainan di toko ini tidak begitu banyak, jadi tidak akan membuat kantong Osman sampai bocor."
.
__ADS_1
.
.