
Suasana kepanikan menyelimuti. Semua perhatian tertuju kepada wanita asing yang tiba-tiba menerobos dan mengacaukan pesta.
Bahkan saat petugas keamanan membawanya keluar, ia masih terus berteriak dan memaki dengan kasar.
Hanna yang masih terkejut dan syok belum dapat mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan tubuhnya masih gemetar.
"Duduklah," Evan membawanya untuk duduk di sebuah kursi, lalu mengusap wajah Hanna yang basah oleh cairan bensin dengan tissue. "Kau tidak apa-apa?"
"Ti-dak apa-apa, aku hanya terkejut." Hanna menarik napas dalam-dalam demi mengembalikan akal sehatnya yang hampir hilang. Beruntung wanita misterius itu belum sampai menyalakan korek api dan membakarnya.
"Siapa wanita tadi? Apa kau mengenalnya?" tanya Evan yang masih berjongkok di sisi Hanna, sambil mengusap gaun berlumur bensin itu dengan tissue.
Hanna menggeleng pelan. "Aku tidak kenal. Aku juga belum pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya."
"Tapi kenapa dia sampai mau membakarmu dengan menyiramkan bensin?"
Hanna hanya menggeleng. Konsentrasinya membuyar dan tak dapat berpikir dengan jernih. Yang diingatnya hanyalah makian wanita tadi. Meskipun belum sepenuhnya menguasai Bahasa Indonesia, namun Hanna dapat mengartikan teriakan wanita itu.
"Kau ingat tadi, dia menyebutku pembunuh. Padahal aku baru pertama kali menginjakkan kaki di negara ini. Bahkan aku sama sekali belum punya teman."
Tak ingin Hanna ketakutan dan khawatir, Evan mengusap bahunya. "Tenanglah. Yang penting kau tidak apa-apa. Polisi yang akan mencari tahu apa motif wanita itu menyerangmu."
__ADS_1
"Baiklah."
Evan kemudian teringat pada sosok yang tadi dilihat Hanna, dan setelah melihatnya, ia bersikap cukup aneh.
"Oh, ya ... Tadi kau bilang melihat seseorang. Apa yang tadi menyerangmu?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Tadi aku melihat seseorang yang mirip dengan Cleo. Tapi sepertinya hanya mirip saja. Cleo tidak mungkin ada di negara ini, kan?"
Evan tersentak. Ia lantas melirik Osman yang berdiri di belakangnya bersama beberapa orang lain yang berkerumun.
"Baik, Tuan."
****
Suasana sudah lebih tenang sekarang. Pelaku penyerangan Hanna sudah digelandang ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.
Hanna keluar dari sebuah ruangan setelah mengganti gaunnya dengan pakaian biasa, karena gaun yang dikenakan tadi terkena siraman bensin dan cukup berbahaya jika mengenakannya.
__ADS_1
"Kau merasa lebih baik?" tanya Naya.
"Iya, Kak."
"Lebih baik sekarang kita pulang dan lanjutkan acaranya di rumah. Kami sudah menyiapkan sebuah acara khusus untuk kalian."
Hanna mengangguk seraya tersenyum. "Terima kasih, Kak Nay."
Pandangan Hanna berkeliling. Ia menatap suaminya yang berada di sisi kiri ruangan sedang membicarakan sesuatu dengan saudara-saudaranya.
Sementara di sisi lain anak-anak berkumpul di satu meja yang sama. Hanna kembali meneliti seisi ruangan itu.
"Kak Naya, di mana Sky dan Star? Aku tidak melihat mereka."
Naya pun mengedarkan pandangannya. Ia juga tak melihat dua keponakan kembarnya itu.
"Kau benar. Em ... mungkin berada di tempat lain. Ayo kita ke sana dan tanya mereka." Ia menunjuk meja tempat para suami dan kakak iparnya duduk.
"Apa ada yang melihat Sky dan Star?" tanya Naya kepada mereka.
Kening Zian berkerut. Ia dan yang lain baru menyadari ketiadaan keponakan kecilnya. "Bukannya mereka bersama kalian?"
__ADS_1
"Tidak," jawab Hanna dan Naya bersamaan.
****