
Belum ada kata yang dapat terucap dari bibir Hanna sejak satu jam lalu. Tangisnya perlahan mulai mereda menyisakan suara sesegukan. Kini Evan telah dipindahkan dari Instalasi Gawat Darurat ke ruangan perawatan.
Hanna berdiri di depan sebuah jendela kaca, tatapannya mengarah pada suaminya yang terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.
Sedangkan Fahri, Zian dan Elma sedang berada di ruangan dokter untuk membicarakan penanganan terhadap adik bungsunya itu.
"Evan kritis. Lukanya cukup serius dan ada benturan keras di kepala. Selain itu, dia mengalami patah tulang kaki." Ucapan Fahri tadi masih membekas di ingatannya.
Suara langkah kaki saling berkejaran terdengar dari kejauhan. Hanna melirik sekilas, tampak Naya berjalan dengan tergesa-gesa ke arahnya.
"Hanna, bagaimana keadaan Evan?" tanya wanita itu dengan mimik wajah penuh kekhawatiran.
Hanna tak menjawab dengan sebuah ucapan. Namun, air mata yang kembali berderai sudah cukup sebagai jawaban, yang mana mendorong Naya untuk memeluknya erat.
"Evan pasti akan baik-baik saja. Jangan khawatir."
Alih-alih menjadi lebih tenang, ucapan Naya malah membuat tangis Hanna kian pecah. Rasa takut kehilangan begitu kuat.
"Tolong carikan seorang dokter terbaik yang bisa menyembuhkannya, Kak. Aku tidak mau kehilangan dia. Kami baru saja bertemu beberapa bulan lalu setelah berpisah lama."
Naya terdiam. Yang ia lakukan hanya mencoba memberi kekuatan kepada adik iparnya melalui pelukan.
.
.
.
Suasana kembali hening. Naya dan Hanna duduk di sebuah kursi panjang. Hanna terus menatap jendela kaca itu, karena dari tempatnya duduk, ia dapat melihat suaminya. Berharap Evan akan segera tersadar.
"Kak Nay, boleh aku tanya sesuatu?" Hanna memulai pembicaraan.
"Mau tanya apa?"
__ADS_1
Hanna terdiam beberapa saat seraya menarik napas dalam-dalam.
"Bagaimana kalian bertemu sampai menjadi sahabat?"
Bayang-bayang masa lalu pun kembali terekam di benak Naya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan Evan.
"Kami bertemu secara tidak sengaja empat belas tahun yang lalu. Saat itu aku sedang terburu-buru untuk pulang. Aku tidak ingat kejadian persisnya karena saat itu aku pingsan dan Evan menolongku. Dia membawaku ke rumah sakit dan sialnya, dia jadi tahu apa yang kurahasiakan dari semua orang. Aku sedang sekarat saat itu."
"Kalian langsung berteman?"
"Tidak," jawabnya dengan gelengan kepala. "Awalnya aku menjauh darinya. Kurasa dia agak aneh. Lalu kemudian aku membutuhkan pekerjaan dan dia membantuku. Kami akhirnya berteman. Aku bekerja di kafe miliknya. Evan merahasiakan bahwa dia adalah pemilik kafe itu, tapi Rafli tidak sengaja membocorkannya."
Wanita itu tersenyum. Ia menggenggam tangan Hanna.
"Hanna ... kau harus tahu satu hal. Sebenarnya Evan tidak pernah mencintaiku."
Deg!
"Aku tahu itu sejak awal kami berteman. Tapi sebenarnya dia hanya salah mengartikan perasaannya. Dia merasa prihatin dengan apa yang kualami sampai mengartikan perasaan itu sebagai cinta."
Ucapan Naya mengukir kerutan di kening Hanna. Bola mata Hanna yang memerah kembali tergenang oleh air mata.
"Lihatlah, betapa mudahnya dia melupakanku setelah bertemu dengan cintanya yang sebenarnya. Kau!"
"Dia bahkan menyebut namamu di setiap harinya selama tujuh tahun perpisahan kalian. Sampai membuat Rafli bosan dan mengadu padaku. Rafli bilang, Evan sangat menyebalkan. Bibirnya berkata benci tapi menyebut nama Hanna Cabrera setiap hari. Bukankah itu aneh?"
Hanna seketika menundukkan pandangannya, menahan air mata namun sia-sia, tetap saja mengalir tak tertahan.
.
.
.
__ADS_1
Malam semakin larut. Hanna masuk ke dalam ruangan di mana suaminya terbaring tak sadarkan diri. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di sisi pembaringan. Dadanya terasa penuh dengan sesak.
Melihat tubuh suaminya yang terluka di beberapa bagian, membuat hatinya seperti disayat.
Sakit! Namun, untuk menangis pun Hanna tak mampu lagi.
"Kau pernah bilang akan memberikan apapun yang kuinginkan tanpa penolakan. Sekarang aku mau meminta sesuatu darimu. Apa kali ini kau akan memberikannya?"
Tangannya membelai wajah pucat itu, kemudian merebahkan kepalanya di lengan suaminya dengan manja, seperti yang selama ini kerap dilakukan Hanna.
"Aku mau memintamu untuk bangun dan memarahiku karena sudah meragukanmu. Ayo bangun dan hukum aku!"
Ia mengguncangkan lengan suaminya pelan.
"Aku harus bilang apa saat anak-anak bertanya nanti? Dan bagaimana dengan anakmu yang sedang tumbuh di rahimku? Apa kau akan membiarkannya tumbuh tanpamu lagi?"
"Bangun dan peluk aku sekali saja!" Hanna terus memohon hingga lelah tiba dan memeluknya dalam kesunyian.
.
.
.
Malam pun terlewati.
Hanna masih terlelap ketika sayup-sayup mendengar suara lenguhan lemah. Perlahan, setengah kesadarannya merasakan sentuhan di pucuk kepala dan membelai rambutnya dengan lembut.
Mengira ini hanya sebuah halusinasi, Hanna merasa enggan untuk membuka mata. Ia memilih diam dan membiarkan dirinya larut dalam mimpi.
"Sayaaang ..."
Panggilan lemah itu membuat Hanna spontan membuka mata dan mengusap cairan bening yang tiba-tiba mengalir.
__ADS_1