
“Benar, Daddy ... Di bawah sangat banyak orang. Ayo Daddy, kita turun. Tante Nay bilang aku boleh potong kuenya bersama mommy dan Daddy.”
“Iya, Nak. Sebentar.”
Evan memijat pangkal hidungnya dengan jari. Tubuhnya terasa sedikit lemas untuk melakukan sesuatu, tetapi Sky seakan mendesaknya dengan terus menarik lengannya.
Ketukan pintu terdengar lagi. Seorang pria masuk dengan membawa troli makanan.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa pria itu dengan ramah. “Saya membawakan menu sarapan untuk Anda.”
“Terima kasih, letakkan di meja saja.”
“Baik.” Ia menata menu sarapan di atas meja.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita pun datang, membuat kerutan di kening Evan saat menyadari siapa yang berada di sana. Wanita itu adalah karyawan dari Event Organizer miliknya.
“Mila, sedang apa kau di sini?”
“Tuan ... Saya datang untuk memberitahu, setelah sarapan Anda diminta segera bersiap. Anda sudah ditunggu di bawah.”
“Memang ada apa di bawah?” tanya Evan. Sepertinya efek obat bius masih tersisa. Ia bahkan tidak menyadari segalanya.
Wanita itu menatap dengan raut muka bingung. Bagaimana si pengantin sangat santai di hari pernikahannya dan masih duduk di dalam kamar.
"Ini kan hari pernikahan Anda, Tuan," jawab wanita itu.
"Apa? Pernikahan?" pekik Evan tak percaya.
__ADS_1
Kelopak matanya melebar. Ia diam mematung dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Namun akal sehatnya segera kembali.
"Maksudmu hari pernikahanku?"
"Iya, Tuan. Di bawah semua orang sudah menunggu. Nona Hanna juga sedang dirias sekarang. Mungkin sebentar lagi selesai."
Evan termangu, lalu melirik Sky yang menggunakan setelan jas. Ia baru paham maksud putranya yang tadi mengatakan Star dan mommy-nya menggunakan pakaian seperti putri.
Walaupun mendadak dan tak terduga, tetapi rupanya hal itu melambungkan perasaan bahagia.
"Baiklah, terima kasih. Kau boleh keluar. Aku akan turun dalam sepuluh menit."
"Baik, Tuan. Saya permisi."
Evan mengusap wajahnya. Tatapannya kemudian tertuju pada setelan jas yang menggantung di sudut kamar.
Tanpa menunggu lagi, Evan segera masuk ke kamar mandi. Bahkan suara siulan ceria terdengar dari dalam sana.
****
Evan menatap pantulan dirinya di balik sebuah cermin besar. Kini ada Rafli yang membantu merapikan penampilannya. Evan tersenyum ke arah Sky dan Star yang tampak tidak sabar lagi menunggu mommynya yang masih dirias di dalam ruangan lain.
"Daddy, kenapa lama sekali?" tanya Star seolah tak sabar.
"Sebentar lagi, Nak."
Satu lagi kejutan membahagiakan bagi Evan, Star mengalami banyak kemajuan. Meskipun belum dapat berjalan dengan normal, tetapi ia tak lagi membutuhkan tongkat. Sebuah alat penopang terpasang di kaki kirinya.
__ADS_1
"Anak-anakmu sangat menggemaskan. Ya ampun, aku tidak percaya kalau wanita malam itu adalah Hanna," ucap Rafli.
"Ya. Takdir memang unik, ya. Aku sangat terkejut saat mengetahui bahwa wanita itu adalah Hanna."
Ia menatap kedua anaknya. Lalu tersenyum setelahnya.
"Mommy!" panggil Star dan Sky ketika Hanna muncul dari balik pintu. Mereka beranjak menuju mommynya.
Evan pun menoleh.
Jantungnya berdebar lebih cepat memandangi sempurnanya kecantikan Hanna dalam balutan ball gown berwarna senada dengan jas nya. Ia bahkan lupa untuk berkedip. Sementara Hanna menunduk malu saat pandangan mereka bertemu.
"Aku tahu Hanna sangat cantik. Kau bisa menatapnya nanti setelah pernikahan kalian selesai." Rafli melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya.
Evan tak menyahut. Hanna telah berhasil mengalihkan dunianya. Bahkan tak ada kata yang terucap di bibirnya.
Inikah Hanna Cabrera? Seorang wanita yang dulu kubenci karena salah paham?
"Sekarang kita harus segera ke tempat acara. Karena kalau kalian terlambat, Kak Zian akan memerintahkan tuyul kesayangannya untuk menculikmu dan mengembalikanmu ke Turki."
"Diam kau! Jangan sebut nama orang itu dulu. Kau tidak tahu kan, bagaimana dia membawaku ke mari."
"Kau seharusnya berterima kasih padanya," ketus Rafli. "Ngomong-ngomong, kau ada persiapan apa untuk malam keduamu? Hehe."
Deg! Dig! Dug!
Baru diberi pertanyaan itu saja sudah membuat pikiran Evan melayang-layang. Ia menatap Rafli dengan kesal.
__ADS_1
****