
Pagi itu ....
Setelah beberapa bulan tak menginjakkan kaki di lingkungan tempatnya pernah tinggal, Hanna akhirnya mengunjungi tempat itu lagi. Sesuai dengan janji suaminya, Hanna datang menemui Nenek Laura.
Kenangan begitu erat melekat dalam ingatannya. Tujuh tahun lalu adalah pertama kali ia datang ke tempat itu sebagai seorang gadis muda yang misterius.
Hanna menatap rumah Nyonya Gulsha yang pernah disewanya selama bertahun-tahun. Ia tersenyum saat teringat akan wanita itu. Meskipun Nyonya Gulsha cukup cerewet dan galak, tetapi ia tetap mengizinkan Hanna menyewa rumahnya, walaupun kadang terlambat membayar sewa.
"Hanna, apa kabar, Nak?"
Senyum merekah menarik kerutan di wajah wanita tua itu. Ia rentangkan tangan menyambut Hanna ke dalam pelukannya. Rasa haru dan bahagia menjalar ketika Hanna membalas pelukannya.
"Nenek Laura, apa kabar? Aku sangat merindukan Nenek," ucap Hanna mengeratkan pelukannya.
"Baik, Nak. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik, Nenek. Sangat baik!"
Nenek Laura mengusap puncak kepala Hanna dengan penuh kasih sayang. Ia tersenyum bahagia. Meskipun Hanna telah menjadi istri dari seorang pria yang sangat kaya raya, namun ia sama sekali tak berubah.
"Aku pikir kau sudah melupakanku."
"Jangan bicara begitu, Nenek. Aku masih sama seperti dulu."
Nenek Laura menyeka air mata yang menggenang di ujung matanya.
"Baiklah. Ayo masuk dulu. Aku baru saja membuat roti panggang kesukaanmu."
*
*
__ADS_1
*
Nenek Laura belum mampu membendung air matanya yang terurai. Rasa tak percaya masih memenuhi hatinya. Hanna baru saja memberinya sebuah kunci rumah. Sesuatu yang tak pernah terpikir olehnya.
"Hanna, tapi ini terlalu berlebihan. Aku sama sekali tidak mengharapkan yang lebih."
"Tidak, Nenek. Anggap saja itu sebagai hadiah untuk Nenek. Selama tinggal di Amasya, nenek sangat banyak membantuku. Hanya dengan cara seperti ini aku bisa membalas kebaikan Nenek."
"Terima kasih, Nak. Semoga kau selalu bahagia."
Hanna memeluk wanita itu.
"Nenek bisa pindah ke rumah baru kapan saja. Selain itu suamiku juga akan mengirimkan uang setiap bulannya, supaya Diara bisa pulang dan tidak perlu lagi bekerja di tempat yang jauh dari nenek."
Nenek Laura menggenggam kunci rumah itu dengan berlinang air mata. Evan membelikan sebuah rumah di kawasan yang cukup strategis. Terlebih, rumah yang disiapkan Evan untuknya adalah sebuah rumah yang cukup besar.
***
Kedatangan Hanna pun membuat beberapa tetang heboh. Suasana tiba-tiba menjadi ramai.
Ia sudah beberapa kali memohon maaf dan berterima kasih, karena Evan tidak memecat putrinya yang bekerja di kafe miliknya.
"Hanna, aku tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa. Aku sangat malu dengan perbuatanku di masa lalu. Terlebih lagi, aku sering menghina anak-anakmu.*
"Tidak apa-apa, Nyonya. Aku juga minta maaf, aku juga sering berbuat kasar terhadapmu."
"Itu kan karena aku duluan yang berbuat kasar."
Hanna tersenyum.
"Tidak usah dipikirkan lagi. Yang penting sekarang kita sudah berteman."
__ADS_1
"Oh, ya ... Aku dengar besok kau akan meninggalkan Amasya."
"Iya, Nyonya."
"Apa kalian akan langsung pulang?"
"Tidak, kakak iparku sangat ingin pergi ke Cappadocia. Kami sekeluarga akan ke sana."
"Wah itu pasti akan sangat menyenangkan."
*
*
*
Di sisi lain, Evan sedang menikmati istirahat siangnya di sebuah ruangan ketika pintu ruangannya terbuka.
Ia tersenyum dan langsung berdiri dari duduknya ketika melihat istrinya baru saja tiba. Evan menyambutnya dengan pelukan.
"Sepertinya kau sangat bahagia hari ini," ucap Evan menatap wajah Hanna yang berseri-seri.
"Iya, tentu saja," jawabnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena diacak-acak oleh Evan dengan gemas. "Nenek Laura titip pesan untukmu. Dia mengucapkan terima kasih untuk hadiahnya."
"Aku senang kalau dia suka." Evan kembali memeluk istrinya. Mencium pipi dan kening.
"Oh, ya ... Bersiap-siaplah, karena besok kita akan ke Istanbul. Kak Zian dan Naya sudah beberapa kali menghubungiku. Sepertinya Naya sudah tidak sabar untuk pergi ke Cappadocia. Lihat saja, dia pasti akan naik balon udara seharian."
"Apa Kak Naya belum pernah ke sana?"
"Belum. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya. Dia akan membuat Kak Zian repot dengan keinginannya yang kadang di luar nalar manusia normal."
__ADS_1
"Wah ... Sepertinya kau sangat mengenal Kak Naya ya. Kau bahkan tahu seperti apa kebiasaannya," ucap Hanna membuat Evan terdiam.
****