Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 70


__ADS_3

Seluruh anggota keluarga Azkara bersuka cinta atas kembalinya Sky dan Star. Setelah kejadian hilangnya mereka, keluarga Azkara memperketat penjagaan di rumah. Kini setiap sudut dijaga oleh anak buah Botak.


Malam ini sebuah pesta kecil diadakan untuk menyambut kebahagiaan baru. Sebuah pesta yang diadakan di taman belakang mansion besar itu. Keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. 


Seperti biasa, Kay akan menjadi yang paling bahagia atas kembalinya adik-adiknya. Sejak tadi ia terus menjaga adik kesayangannya, Star dan Sky..


“Kalian suka makanannya?” tanya Kay menyuapkan potongan demi potongan daging ke mulut mereka.  


“Suka. Makanan ini namanya apa, Kakak Kay? Di Amasya tidak ada makanan seperti ini,” tanya Sky.


Kay tersenyum bahagia melihat Star makan dengan lahap. “Ini namanya sate ayam. Kalau kalian suka, aku akan meminta bibi membuatnya setiap hari.” 


Star mengangguk antusias. “Mau, aku sangat suka ...” Ia memeluk Kay seerat-eratnya. Menghujani dengan kecupan pada wajah cantik gadis belia itu. “Aku sayang Kakak Kay.” 


“Aku juga sangat menyayangimu, adik kecilku. Ayo makan lagi.” 


***    


Sementara itu di meja para orangtua, pembicaraan cenderung tak jelas selalu terjadi ketika tiga bersaudara yang dijuluki Trio Azkara itu berkumpul.


"Jadi apa rencanamu setelah ini? Apa kau akan bekerja di rumah sakit KIA?" tanya Fahri.


"Iya, Kak. Kak Sandra sudah beberapa kali memintanya padaku," jawab Evan.

__ADS_1


"Itu bagus, rumah sakit membutuhkan dokter sepertimu."


Evan mengangguk seraya tersenyum.


“Ngomong-ngomong jadi kau sudah tahu jenis buah apa yang tidak berasal dari pohon?” tanya Fahri seraya terkekeh, membuat Evan tersedak potongan daging yang baru saja masuk ke mulutnya. 


Ia masih ingat dengan jelas, beberapa tahun lalu Fahri dan Zian membuatnya bingung dengan membahas jenis buah yang tak berasal dari pohon. Dan hingga  kini, Evan belum juga menemukan jawabannya. 


“Tolong jangan dibahas, Kak. Atau Kak Zian akan menanyakan sesuatu yang akan membuat kita kesulitan menjawabnya.” 


Mendengar ucapan Evan, tentu saja Zian tak terima. Ia adalah makhluk yang selalu benar dan tidak pernah merasa bersalah.


“Heh, jangan sembarangan menuduh. Aku tidak pernah memberi kalian sebuah pertanyaan yang tidak ada jawabannya.” 


Zian menatap Evan dengan menyelidik, sehingga Evan merasa risih dengan tatapan itu. “Apa kau sebodoh itu sampai buah yang tidak berasal dari pohon saja tidak kau temukan jawabannya sampai sekarang?” 


Evan mendengus. Kedua kakaknya itu masih sama dalam memperlakukannya. Tidak pernah berubah walaupun usia mereka tak lagi muda.


“Memang buah apa yang tidak berasal dari pohon versi Kak Zian?” tanya Evan. Ia tak pernah berhasil menebak apa isi kepala kakaknya itu.


Fahri menutupi seringainya dengan jari. “Coba kau tanyakan pada Hanna. Dia pasti akan memberimu jawabannya.” 


Evan semakin bingung, tetapi tak lagi mengajukan pertanyaan apapun. Apa hubungannya pertanyaan bodoh Zian dengan Hanna, begitu isi pikirannya.

__ADS_1


“Evan, di mana Hanna? Sejak tadi aku belum melihatnya,” tanya Elma menghampiri mereka.


“Hanna masih di kamar, Kak. Sepertinya sedang mandi. Aku akan memanggilnya dulu.” 


"Baiklah, tapi cepat ya."


Evan pun beranjak, lebih baik menemui Hanna dan berdebat dengannya tentang hal-hal kecil, dari pada melayani kegilaan kedua kakaknya. Sepenjang berjalan menuju kamar, ia terus menggerutu.


"Dasar aneh, Kak Zian kan punya istilah sendiri untuk apa saja yang ada di sekitarnya. Buah yang tidak berasal dari pohon. Buah apa itu?"


Setibanya di depan pintu kamar, ia membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Duduk dengan santai di sofa. Sepertinya Hanna masih di kamar mandi.


Sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Hanna melangkah menuju lemari pakaian dengan santai. Sepertinya tak menyadari kehadiran suaminya di kamar.


Ia mengeluarkan pakaian dari dalam lemari, lalu melepas handuk putih yang membalut tubuhnya.


Seketika bola matanya melebar, tubuhnya terasa meremang ketika melihat sosok Evan melalui pantulan cermin di meja rias.


"Aaaa!" Suara teriakan Hanna menggema. Betapa tidak, dirinya sedang dalam keadaan tak tertutupi sehelai benang pun.


Mata Evan melotot, wajahnya memerah karena malu, tetapi anehnya ia tak dapat memalingkan pandangannya dari sana. Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam benaknya tentang istilah buah-buahan yang membuatnya bertanya-tanya.


Sial, jadi ini yang dimaksud Kak Zian buah yang tidak berasal dari pohon?

__ADS_1


*** 


__ADS_2