Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 135


__ADS_3

Semua orang pernah merasakan titik terendah dalam hidupnya. Putus asa dan merasa tak berguna mungkin akan memenuhi pikiran. Inilah yang saat ini dirasakan Evan. Selama berminggu-minggu ia hanya dapat duduk di kursi roda dan merasa merepotkan orang-orang di sekitarnya. Bahkan untuk beranjak dari tempat tidur dan pindah ke kursi roda pun membutuhkan bantuan orang. 


Malam ini, di dalam sebuah ruangan dengan pencahayaan seadanya, pria itu sedang menikmati pelukan kesunyian. Hampir dua jam waktunya dihabiskan di ruangan itu. Merenung dan menyesali semua yang terjadi kepadanya. Hingga hadirnya bayangan hitam yang jatuh di dinding dan membuyarkan lamunannya. Tampak dua kakaknya berada di ambang pintu.


“Ada apa, Kak?” tanya Evan dengan nada terdengar lesu. 


Zian melangkah masuk ke dalam ruangan temaram itu, diikuti Fahri di belakang punggungnya. 


“Mereka bilang kau ada di sini dan sedang tidak mau diganggu,” ucap Fahri yang kemudian berjalan ke belakang pintu dan menyalakan lampu utama. 


“Aku tidak apa-apa. Hanya sedang ingin sendiri saja.”


Tatapan Evan kembali mengarah pada lampu-lampu taman di belakang rumah yang terlihat melalui jendela kaca besar di ruangan itu. Diamnya Evan pun membuat Fahri dan juga Zian untuk duduk di sebuah kursi, yang hanya berjarak satu meter dari kursi roda yang diduduki adiknya. 


“Jadi bagaimana keputusanmu? Kalau kau setuju ke Jerman, maka kita akan berangkat secepatnya. Kau akan melanjutkan pengobatan di sana,” tambah Fahri mencoba membujuk untuk kesekian kalinya.


Evan hanya melirik kakak sulungnya sekilas namun tanpa suara. Seolah ajakan untuk berobat keluar negeri hanyalah sesuatu yang sia-sia. Namun, jika mengingat besarnya harapan Hanna dan anak-anak untuk melihatnya sembuh, Evan pun menjadi tidak tega untuk mematahkan harapan mereka. 

__ADS_1


Ia kembali menimbang, sebelum berkata, “Baiklah. Aku setuju berangkat ke Jerman.”


Senyum lebar terbit di bibir Zian dan Fahri. Sebuah keajaiban Evan mau berangkat. Karena beberapa kali mereka berusaha membujuk, namun adiknya itu selalu enggan menjawab. 


“Baguslah,” ucap Fahri penuh semangat. Kalau begitu aku akan beritahu Elma. Dia pasti akan sangat senang.” 


“Tidak, Kak!”


Sulung dari keluarga Azkara itu baru akan berdiri dari duduknya, namun Evan sudah menghalangi. 


“Ada apa lagi?”


 Sontak Zian dan fahri saling tatap mendengar ucapan Evan. Terkejut? Sudah pasti! Bagaimana mungkin mereka membiarkan saudaranya seorang diri menjalani masa-masa sulit dalam hidupnya. 


“Apa kau sudah gila? Mana mungkin kami membiarkanmu sendirian?” Meskipun merasa kesal, namun sebisa mungkin Zian menahannya dan Evan dapat melihat itu. 


“Mengertilah, Kak!” lirih Evan. “Aku tidak mau Hanna sedih. Bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa berjalan lagi? Dia pasti akan sangat terpukul dan aku tidak bisa melihatnya sedih.” 

__ADS_1


“Hanna tidak akan membiarkanmu sendiri.” 


Evan mengangguk pelan. Ia tahu betapa keras kepala istrinya itu. “Aku akan mengatasinya.” 


Dan, baru saja Zian akan membuka mulut untuk berbicara, Fahri sudah memberi kode dengan lirikan matanya. Sehingga ayah dari dua anak itu mengurungkan niatnya. Terkadang Evan sangat keras kepala.


“Kak Zian, bisakah keberangkatanku dipercepat?” 


"Kau yakin?"


Evan hanya menyahut dengan anggukan kepala.


"Tapi jangan sampai Hanna tahu tentang rencana ini."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2