
Hanna sedang bergelayut manja di pelukan suaminya malam itu. Semua lampu telah dipadamkan, menyisakan cahaya dari layar TV yang menyala. Sejak beberapa hari ini, Hanna sangat suka menonton film-film romantis sebelum tidur.
“Sedih sekali menjadi wanita itu. Dia ditinggal suaminya pergi,” lirih Hanna seraya mengusap setitik air matanya.
Evan mengecup ubun-ubun wanitanya itu, menarik napas dalam seraya mengusap punggungnya. Jika Hanna sampai menonton akhir kisah di film itu, bisa dipastikan ia akan menangis sesegukan.
Tak ingin istrinya bersedih, Evan pun meraih remote kontrol di atas meja dan menekan tombol off di sana. Ruangan itu mendadak menjadi gelap gulita karena tak ada satu lampu pun yang menyala.
“Sayang, kenapa kau matikan TVnya, aku belum selesai menontonnya,” protes Hanna berusaha meraih remote dari tangan suaminya.
Evan menyembunyikan remote di bawah bantal, kemudian menyalakan lampu tidur, sehingga kegelapan tergantikan dengan cahaya temaram.
“Sudah, tidak usah dilihat. Kau akan menangis nantinya,” balas Evan dengan membenamkan Hanna ke pelukannya semakin dalam.
“Memangnya akhir ceritanya bagaimana? Ayolah, biarkan aku menyelesaikan film itu.”
“Tidak, Sayang. Aku sudah pernah menontonnya. Kisahnya sangat menyedihkan, kau akan sedih dan bermimpi buruk nantinya.”
“Apa mereka berpisah?” Hanna masih merasa penasaran. Kini ia sedang membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya. “Kalau begitu beritahu aku, apa pria itu mewujudkan semua mimpi istrinya sebelum mereka berpisah?”
Evan seketika terdiam.
“Akan aku ceritakan nanti. Sekarang ayo tidur!” Evan menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh mereka. Mengekang Hanna dalam pelukannya hingga wanita itu tak dapat melepaskan diri.
Cup!
Cup!
Cup!
Hanya suara decapan yang terdengar.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Hanna membuka matanya perlahan dengan tubuhnya yang menggeliat pelan demi merenggangkan otot-ototnya. Seperti biasa, hal pertama yang dilakukannya begitu terbangun adalah memeluk suaminya. Tangannya bergerak meraba pembaringan di sebelahnya.
Kosong! Tak ada sosok Evan di sana. Ia kembali meraba dengan kesadaran yang belum kembali sepenuhnya, namun tetap tak menemukan.
Wanita itu pun membuka mata lebar-lebar, menyibak selimut dan mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamar. Melihat pintu kamar mandi yang terbuka lebar, ia pun meyakini bahwa Evan tidak berada di kamar mandi. Lalu kemana dia? Hanya pertanyaan itu yang memenuhi pikirannya.
“Sayang?” panggilnya. Dengan perasaan heran karena Evan tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Padahal suaminya itu belum mampu turun sendiri dari tempat tidur.
Beranjak dari tempat tidur, Hanna memakai sandal bulu rumahan dengan kuping kelinci pada bagian atasnya, lalu membenahi piyamanya dan segera keluar kamar, menuju kamar anak-anaknya.
“Dia juga tidak ada di kamar anak-anak,” gumamnya ketika melihat anak-anak masih terlelap.
“Apa ada yang melihat suamiku?” Sebuah pertanyaan yang membuat beberapa pelayan menatapnya heran.
“Tidak, Nona,” jawab salah satu wanita.
Tak menemukan jawaban, Hanna pun beranjak menuju taman belakang berkeliling mencari, namun Evan tak kunjung terlihat.
Kalau di kamar tidak ada, di sini juga tidak ada, lalu kemana dia sepagi ini? Pertanyaan itu terus memenuhi pikirannya. Kakinya melangkah perlahan dengan lesu dan masuk kembali ke rumah.
“Ini tidak lucu. Dia curang meninggalkanku sepagi ini. Apa mungkin dia ke suatu tempat bersama Osman?” Hanna menghempas tubuhnya di pembaringan.
Baru saja ia akan mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya, sebuah kertas putih yang terselip di bawah bingkai foto mengalihkan perhatiannya.
Hanna meraihnya dengan tergesa dan membaca kata demi kata yang tertulis pada kertas putih berisi tulisan tangan suaminya. Detik itu juga bola mata Hanna digenangi cairan bening.
__ADS_1
_____
Hai, Sayang ...
Maafkan aku, pagi ini kau akan terbangun tanpaku di sisimu.
Ya, aku tahu ini berat, kau pasti akan sedih dan merasa kehilangan.
Tapi percayalah, aku akan kembali untuk mewujudkan semua keinginan dan mimpimu.
Aku bukan mau meninggalkanmu.
Bukan juga untuk menghindar atau tidak mau membagi kesedihan denganmu.
Hanya saja aku butuh waktu.
Jadi, jangan sedih dengan perpisahan sementara ini.
Aku akan kembali dalam keadaan yang lebih baik.
Kalau kau mencintaiku, maka jangan mencari tahu atau menyusulku.
Oh ya ... kau pasti sedang menangis. Tolong hentikan!
Hanna Cabrera yang galak terlihat jelek saat sedang menangis.
Hiduplah dengan bahagia dan ceria bersama anak-anak. Tunjukkan kepada mereka bahwa mommynya sangat kuat.
Katakan pada Sky dan Star, daddynya akan kembali setelah alerginya sembuh.
Sayang ... kita pernah terpisah selama tujuh tahun.
Aku ingin kau tetap menjadi Hanna Cabrera, wanita gila yang tangguh.
__ADS_1
Aku mencintaimu ....
****