
Jerman, tiga bulan kemudian ....
Sejatinya perpisahan mengajarkan kita untuk mendalami seberapa berartinya sesuatu yang kita miliki. Perpisahan itu menyakitkan, namun tidaklah sebanding dengan bahagianya saat pertemuan.
Dari balik sebuah jendela kaca besar, seorang pria sedang duduk melamun memandangi indahnya kota Berlin pagi itu. Dari sana ia dapat melihat gedung-gedung tinggi di sekitar.
Hampir dua jam waktunya ia habiskan hanya untuk melamun dan meresapi kerinduan yang semakin hari semakin menggunung.
“Tuan ...” Panggilan Osman menyapa pagi itu. Membuat lamunan Evan seketika membuyar. Ia menatap pria Turki yang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah benda di tangannya.
"Ada apa, Osman? Tidak biasanya kau mengganggu sepagi ini." Sejenak Evan mengalihkan pandangannya kepada pria itu.
Osman pun menggeser sebuah amplop cokelat ke atas meja, yang mana menciptakan kerutan di kening tuannya.
“Ini paket dari Indonesia.”
“Siapa yang mengirim, apa Kak Zian?” tanya Evan dengan tatapan yang kembali mengarah pada pemandangan indah kota Berlin.
“Bukan. Itu paket dari Dokter Willy.”
“Kak Willy ... jangan bilang dia mengirim pil setan kemari.” Evan terkekeh mengingat betapa iseng adik ipar yang usianya jauh di atasnya itu.
“Entahlah, saya belum membukanya.”
__ADS_1
Penasaran, Evan pun meraih dan membuka dengan tergesa.
Rasa penasaran itu semakin menjadi saat merasakan jarinya menyentuh benda tipis yang kemudian ia keluarkan. Sebuah foto hasil USG yang membuat mata Evan berkaca-kaca.
“Ini pasti hasil USG Hanna,” ucap Evan menatap dalam foto hasil USG di tangannya.
"Saya rasa sekarang sudah waktunya untuk pulang. Kita sudah terlalu lama di Jerman."
Evan masih terdiam.
"Saya dengar dari Dokter Elma, Nona Hanna masih sering mual di pagi hari. Selain itu dia juga malas makan." Ucapan Osman membuat Evan menatapnya.
"Bisakah kau hubungi Botak? Sepertinya aku akan membutuhkan bantuannya."
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam di Indonesia. Seperti malam-malam sebelumnya, Hanna akan menceritakan sebuah kisah untuk anak-anaknya sebelum tidur.
Selama tiga bulan kepergian Evan ke Jerman, tidak ada komunikasi di antara mereka. Karena Evan menutup semua akses untuk dapat menghubunginya. Namun, Hanna tetap menunggu dengan sabar dan menjadi seorang ibu yang luar biasa untuk anak-anaknya.
__ADS_1
“Mommy, kapan daddy akan pulang? Aku sangat merindukan daddy, Mommy. Tadi malam aku mimpi daddy datang membawa mainan yang sangat banyak.” Sky menggambar lingkaran di udara dengan tangan kecilnya.
“Iya, Mommy. Daddy sudah pergi lama sekali,” tambah Star. Kali ini wajahnya tampak sangat sedih.
Hanna tersenyum mendengar ucapan Sky dan Star. Setidaknya dua bocah itu menjadi kekuatannya sejak kepergian sang suami. Selain itu janin dalam kandungannya sudah menginjak usia hampir lima bulan.
"Apa Daddy akan kembali begitu adik bayi keluar dari perut Mommy?" tanya Star lagi dengan mengusap perut mommy-nya.
"Bersabarlah, Nak. Tidak lama lagi, daddy pasti akan pulang dan kita akan bahagia bersama."
"Benar ya, Mommy. Tidak apa-apa kalau Daddy tidak bawa mainan yang banyak, yang penting Daddy pulang."
"Iya, Sayang. Sekarang tidurlah."
Hanna mengecup kening kedua anaknya secara bergantian. Lalu beberapa saat kemudian, setelah memastikan sepasang anak kembarnya itu sudah terlelap, ia pun keluar dari kamar. Menuju kamarnya yang berasa tepat di sebelah kamar anak-anak.
Di tempat inilah Hanna menikmati kesendirian di malam hari. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang dan membalut tubuhnya dengan selimut. Tangannya meraba tempat kosong di sebelahnya.
"Dulu saat mengandung Sky dan Star kau pergi ke Jerman. Sekarang kau pergi ke Jerman lagi meninggalkan aku dan anakmu. Apa kau tidak merasa kalau itu tidak adil untukku?"
Dan, untuk pertama kalinya butiran kristal bening kembali jatuh di pipinya. Entah mengapa, malam ini terasa sangat berbeda. Ia begitu merindukan pelukan suaminya.
.
__ADS_1
.
.