
Saat ini Evan dan Aysel sedang berada di sebuah restoran yang berada tak jauh dari rumah sakit. Evan yang merasa bersalah atas apa yang menimpa Aysel dan putrinya lantas mengajak Aysel untuk mengobrol dan membicarakan masalah mereka.
"Kami bercerai dua tahun lalu dan aku yang mendapatkan hak asuh Ceyda. Setelah berpisah dengannya, aku sendirian mengelola butikku. Aku membuka sebuah butik sejak beberapa tahun lalu."
"Butik mu pasti sangat sukses. Kau adalah seorang wanita yang sangat cerdas," puji Evan. Mengingat semasa kuliah Aysel sangat berprestasi. Selain itu, Aysel juga primadona kampus dan banyak pemuda yang mengejarnya.
Aysel sesekali mencuri pandang pada Evan. Dalam pandangannya, Evan tak berubah sedikit pun meskipun mereka tak bertemu dalam beberapa tahun. Evan tetap memesona dan berkarisma di mata Aysel.
"Oh ya ... Bagaimana denganmu?" tanyanya. "Apa kau masih belum menemukan seorang wanita yang dapat meluluhkanmu?"
Evan tersenyum ramah, yang membuat wanita itu menundukkan pandangan. Tatapan Evan seolah menyihirnya. "Sebenarnya wanita seperti apa yang kau cari. Aku masih ingat, kau pernah menolakku saat itu."
Evan menarik napas dalam lalu berkata, "Aku sudah menikah."
Seketika bola mata wanita itu melebar. Terkejut dan tak menduga Evan telah menikah. Senyum di wajahnya pun perlahan meredup.
"Kau sudah menikah?"
Evan menganggukkan kepala. "Iya. Kami baru menikah beberapa minggu lalu. Tadinya kami akan menetap di Indonesia. Kami ke Turki untuk berbulan madu dan Osman memberitahuku tentang masalah ini. Karena itulah aku buru-buru kembali ke Amasya."
"Lalu siapa wanita beruntung yang menikah denganmu. Dia pasti wanita yang sangat istimewa."
Evan tersenyum bahagia. Mengingat Hanna saja sudah membuat hatinya menghangat. "Kau benar, istriku wanita yang sangat istimewa."
__ADS_1
Aysel mengangguk, meskipun senyumnya tak lagi secerah tadi.
Ponsel milik Evan berdering tanda panggilan masuk. Ia melirik layar yang mana tertera nama istrinya di sana.
"Maaf, aku jawab telepon dulu."
"Silahkan."
Evan berdiri dari duduknya dan memilih menjawab panggilan itu di dekat pagar pembatas antara restoran dan danau.
"Iya, Sayang ..." ucap Evan sesaat setelah panggilan terhubung.
"Kau di mana? Ini sudah malam dan kau belum pulang!"
"Aku akan menunggumu."
"Baiklah. Sebentar lagi aku akan pulang."
"Jangan lama ya ..."
Evan terkekeh, suara Hanna serak terdengar sangat menggoda baginya. "Iya Sayang, tidak akan lama. Bersiaplah untuk malam ini. Aku mencintaimu."
Panggilan terputus, Evan membuka aplikasi WhatsApp dan mengirimkan pesan kepada istrinya.
__ADS_1
Aku suka warna hitam yang berenda. Gunakan itu malam ini ya ...
Ia tersenyum setelah mengirimkan pesan itu dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jas.
Tanpa disadari oleh Evan, Aysel sejak tadi berdiri di belakangnya mendengarkan pembicaraan dengan seseorang yang dapat ia pastikan adalah istri Evan.
"Kau sudah selesai menelepon?" Suara Aysel mengagetkan Evan.
"Sudah. Maafkan aku. Itu barusan istriku."
Wanita itu mengangguk dan tersenyum. "Evan, apa aku boleh meminta tolong satu hal padamu?"
"Katakan saja."
"Bisakah kau mengantarku ke rumahku? Aku harus mengganti pakaian. Aku sedang sangat mengantuk jadi tidak bisa menyetir sendiri. Selain itu di rumahku tidak ada orang karena pelayanku sedang libur."
Evan terdiam beberapa saat seraya memijat pangkal hidungnya.
"Baiklah," jawabnya diiringi anggukan kepala.
Senyum sumringah mengembang di wajah Aysel. Ia terlihat sangat senang. "Terima kasih, Evan. Kau masih sangat baik seperti dulu."
"Tidak masalah. Di depan ada Osman. Aku akan memintanya mengantarmu," ucap Evan membuat senyum di wajah wanita itu meredup.
__ADS_1
****