
"Maaf, aku tidak tahu kalau kalian sedang berduaan. Hehe!"
Naya melangkah masuk dengan senyuman tanpa dosa. Padahal kedatangannya kali ini benar-benar menghancurkan adegan romantis yang baru saja tersaji di sana. Tentunya mereka ingin menghabiskan waktu berdua, setelah melewati hari yang penuh ketegangan dan rasa takut.
"Kau dan suamimu sama saja," ucap Evan masih dengan suara lemah.
"Heh, jangan sebut nama Zianku," pekik Naya tak terima. "Salah sendiri kenapa pintunya tidak dikunci. Kalau tadi Sky yang masuk, dia akan salah paham. Mungkin kali ini dia akan mengira kau mau menggigit mommynya."
Wajah Hanna yang memucat pun perlahan mulai merona.
"Oh, ya ... Aku kemari membawakan pakaian ganti untuk Hanna." Wanita cantik itu meletakkan sebuah paper bag di atas meja.
"Terima kasih, Kak. Maaf merepotkan," ucap Hanna dengan senyuman yang menyamarkan rona merah di wajahnya.
"Bagaimana keadaanmu? Kau merasa lebih baik?" Naya berdiri di sisi pembaringan Evan. Ia terlihat sedih melihat tubuh adik iparnya yang terbalut perban di beberapa bagian.
"Aku merasa lebih baik."
"Syukurlah." Naya terlihat menghela napas panjang. "Kau membuat Hanna ketakutan. Sejak kemarin, dia tidak berhenti menangis."
Evan tersenyum tipis. Kemudian melirik Hanna yang berdiri tak jauh darinya.
"Sayang, kemari!" Tangannya terulur, meminta Hanna untuk mendekat. Sejak tersadar, Evan tak pernah mau jauh dari Hanna.
"Ehm ... Sepertinya aku harus segera pergi. Sepertinya kalian butuh waktu berdua lebih banyak."
__ADS_1
Naya tertawa dengan riang seperti biasanya. Kemudian segera keluar dari ruangan itu.
"Hanna, aku mau menjelaskan sesuatu," ucap Evan menggenggam tangan Hanna dan meletakkan di dadanya.
"Istirahatlah, Sayang. Jangan pikirkan aku dulu. Kita masih punya banyak waktu untuk membicarakan semuanya."
Hari itu Hanna benar-benar memberikan seluruh waktunya untuk Evan. Tak pernah sedikit pun ia beranjak dari sisi suaminya.
.
.
.
Setelah menjenguk Evan di rumah sakit, Naya menuju mansion keluarga Azkara. Ia membawa banyak mainan untuk Sky dan Star sebagai bahan pengalihan untuk dua bocah kembar itu.
Dan benar saja. Perhatian Sky pun teralihkan pada sepaket mainan mahal yang dibawa Naya untuknya.
"Terima kasih, Ibu Nay," ucap Sky dengan senyuman lebar.
"Sama-sama, Anakku," balas Naya juga dengan senyum secerah mentari.
Wanita yang selalu tampak bersemangat itu pun menuju lantai atas. Seorang pelayan baru saja memberitahu bahwa suaminya berada di ruangan atas bersama Fahri.
.
__ADS_1
.
.
"Bagaimana kita akan memberitahu Hanna dan Evan tentang ini? Aku benar-benar tidak bisa melakukannya." Sorot mata Fahri terlihat sedih. Memikirkan adik bungsunya yang tengah tergolek tak berdaya di rumah sakit.
"Kita tidak boleh kehilangan harapan, Kak! Evan pasti bisa berjalan kembali. Kita akan membawanya ke Jerman untuk berobat," balas Zian.
Fahri mengangguk pelan, meskipun terlihat kesedihan di matanya. "Semoga saja."
"Yang terpenting sekarang hubungan Evan dan Hanna baik-baik saja. Aku sempat khawatir mereka akan bertengkar setelah Hanna tahu tentang perasaan Evan terhadap Naya," Zian kembali menambahkan, membuat Fahri menatapnya lekat.
"Itu hanya masa lalu. Dan mereka semua sudah dewasa. Bukan hal penting membicarakan tentang sesuatu yang sudah berlalu."
"Kau benar, Kak. Aku hanya merasa bersalah saja terhadap Evan."
Mendadak keheningan tercipta di ruangan itu. Baik Zian dan Fahri hanya saling tatap satu sama lain.
"Itu bukan salahmu. Evan tidak tahu kalau Naya sudah menikah saat itu. Sudah jangan pikirkan itu lagi, lebih baik kita mencari jalan keluar untuk Evan. Aku tidak mau dia sampai putus asa jika kita memberitahunya tentang kakinya."
"Iya. Itu benar."
Sementara Naya membeku di ambang pintu mendengar pembicaraan itu.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa Kak Fahri seolah berkata Evan tidak bisa berjalan lagi?
__ADS_1
*
*