
Hanna meraih jubah mandi dan membalut tubuhnya. Kemudian berjalan menuju lemari dan mengenakan piyama, begitu pun dengan Evan. Keduanya tampak terburu-buru karena ponsel terus berdering.
Tiga kali panggilan, barulah Evan menjawabnya. Tampak wajah Sky dan Star pada layar ponsel sedang duduk di tempat tidur dengan setelan piyama.
"Mommy ... " Suara menggemaskan Star lebih dulu terdengar. Mendekatkan wajahnya pada kamera ponsel, sehingga Hanna dan Evan dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Mommy dan Daddy kapan pulang? Aku sangat merindukan Mommy."
"Iya, Mommy. Aku juga merindukan Mommy."
Hanna tersenyum. Jari telunjuknya perlahan mengusap layar ponsel, seakan sedang mengusap wajah kedua anaknya.
"Tidak lama lagi, Nak," jawab Hana. "Kalian tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa, Mommy," sambar Sky secepat kilat. Merebut ponsel dari tangan adiknya.
Melalui wajah cerianya, seolah ia ingin menjelaskan kepada Hanna bahwa mereka baik-baik saja setelah ditinggal kedua orangtuanya.
"Apa alergi Mommy sudah sembuh?" tanya Sky polos.
Evan dan Hanna saling melirik, dengan mengatupkan bibir demi menahan tawa.
Mommy mu tidak akan alergi lagi, Sky. Karena Daddy akan membuatnya ketagihan. batin Evan.
"Iya, Sayang. Alerginya sudah sembuh. Daddy kan seorang dokter. Jadi daddy bisa mengobati mommy," jelas Hanna.
"Aku dan Kakak mau tidur, Mommy. Apa Mommy juga mau tidur?" Star merebut ponsel dan mendekatkan wajahnya pada layar.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Mommy baru saja akan tidur."
"Baiklah, Mommy. Selamat tidur. Mommy jangan lupa berdoa ya." Star menutup dengan mencium layar ponsel.
"Iya, bidadari kecilku. Tidurlah yang nyenyak."
Star sudah terbaring. Elma tampak membantu keponakannya untuk memakai selimut. Kini giliran Sky yang akan mengucapkan selamat malam untuk mommy-nya.
Namun, senyum yang menghiasi wajahnya harus meredup ketika dalam pencahayaan seadaanya ia dapat melihat tanda kemerahan di leher mommy-nya.
"Mommy, kenapa di leher mommy ada merahnya?"
Evan seketika terlonjak mendengar ucapan putranya. Ia lantas merebut ponsel dari tangan Hanna.
"Sky ... Di sini sangat banyak nyamuk. Leher mommy habis digigit nyamuk. Tenanglah, itu bukan alergi. Daddy akan segera mengobatinya."
"Baiklah, Nak. Sekarang tidurlah."
Evan menghela napas panjang setelah panggilan itu berakhir. Kemudian melirik Hanna yang sudah terbaring di sisinya.
"Sky memintaku mengobati kemerahan di lehermu yang digigit nyamuk. Sepertinya aku harus benar-benar mengobatinya."
Hanna tersenyum malu ketika jemari laki-laki itu mulai menjelajahi leher.
"Apa kau tidak lelah?"
Evan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sepertinya malam benar-benar akan panjang.
__ADS_1
.
.
.
.
Perlahan kelopak mata Hanna mulai terbuka ketika mencium aroma yang sangat wangi dan membuat perutnya mendadak terasa kosong. Ia meraba tempat di sebelahnya.
Tak ada sang suami yang sepanjang malam terus memeluknya.
Ia bangun dan bersandar di tempat tidur. Menggulung selimut hingga menutupi dada dan memijat punggung lehernya. Mendadak wajahnya memerah mengingat pergumulan panas semalam yang membuat tubuhnya terasa remuk.
Evan menerkamnya tanpa ampun dan mengulangi kegiatan itu menjelang pagi. Alhasil, Hanna kelelahan dan tertidur pulas.
Hanna meraih jubah piyama dan keluar dari kamar. Pandangannya berkeliling ke setiap sudut rumah besar dan mewah itu. Kakinya melangkah mengikuti aroma masakan. Hingga tiba di sebuah ruangan yang pintunya terbuka setengah. Bau masakan itu berasal dari sana. Hanna segera memasuki dapur dan mendapati suaminya sedang sibuk memasak.
Senyum tipis terbit di sudut bibir Hanna. Ia mendekat dan memeluk suaminya dari belakang, menyandarkan kepalanya dengan manja di punggung kokoh itu.
"Kau sudah bangun?" ucap Evan tanpa menoleh. Terfokus pada masakannya.
"Huum. Aku terbangun karena mencium bau masakan yang sangat wangi."
Evan membalikkan tubuhnya. Tangannya melingkar erat di pinggang wanitanya itu. Hanna merespon dengan sangat cepat, menciumi bibir dan leher suaminya.
"Jangan memancingku, Hanna. Anak-anakmu akan menghukumku kalau sampai mommy-nya tidak bisa berjalan."
__ADS_1
****